Hutan Mahawana

 



Hutan Mahawana

Senja yang Tak Pernah Usai

Di bagian utara Benua Utara, di wilayah pesisir yang dikenal sebagai Pesisir Kaja, terbentang sebuah hutan yang tidak memiliki ujung, dan tidak mengenal pagi: Hutan Mahawana. Ia bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sebuah dunia tersendiri—tertutup, dalam, dan tua. Kanopinya begitu rapat hingga cahaya matahari tidak pernah benar-benar menembus ke tanah. Yang ada hanyalah cahaya jingga redup, seperti senja yang tertahan, menggantung abadi di antara dahan dan akar.

Warna-warna di Mahawana tidak berubah. Hijau tua, cokelat basah, dan jingga lembut menjadi palet tetap yang menyelimuti setiap sudut. Udara di dalamnya lembap, namun tidak pengap. Ia membawa aroma tanah yang dalam, daun tua yang membusuk perlahan, dan sesuatu yang lebih tua dari waktu—bau sihir yang belum padam. Suara di hutan ini tidak keras. Ia hadir sebagai bisikan: desir angin yang menyentuh lumut, langkah binatang yang tidak terlihat, dan kadang, suara ranting yang patah tanpa sebab.

Mahawana adalah rumah bagi makhluk-makhluk yang tidak ditemukan di tempat lain. Di antara akar-akar besar dan kolam-kolam kecil yang memantulkan cahaya samar, hidup kera bijak Mahawana—makhluk yang tidak hanya diamati, tapi juga mengamati. Mereka tidak menyerang, tidak melarikan diri, hanya duduk dan menatap, seolah menimbang niat setiap pengunjung.

Di atas kanopi, burung rangkong raksasa Cakrabawa terbang rendah, sayapnya lebar seperti layar kapal, suaranya berat dan bergema, seperti genderang perang yang dipukul perlahan. Di sungai-sungai dalam yang mengalir tenang di bawah akar, buaya purba Ganasura berdiam. Kulitnya hitam kehijauan, matanya kuning menyala dalam gelap, dan tubuhnya begitu besar hingga air tidak berani beriak saat ia bergerak.

Namun yang paling sakral dari semua adalah Pohon Parwata Bhumi, yang berdiri di jantung hutan. Batangnya menjulang seperti tebing batu, kulitnya keras dan berlapis kristal mineral yang memantulkan cahaya samar. Akar-akarnya menembus tanah begitu dalam hingga dipercaya menyentuh inti bumi. Pohon ini bukan hanya tumbuhan, melainkan medium sihir bumi terkuat di seluruh Jagad Bhumi. Ia tidak berbunga, tidak berbuah, tidak bergoyang oleh angin. Ia hanya berdiri, diam, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh makhluk biasa.

Tidak semua orang bisa menemukan Pohon Parwata Bhumi. Jalur menuju jantung Mahawana tidak tetap. Ia berubah, bergeser, dan kadang menghilang. Mereka yang masuk dengan niat jahat sering tersesat, berjalan dalam lingkaran, atau tidak pernah kembali. Tapi mereka yang datang dengan hati tenang, dengan langkah ringan dan pikiran terbuka, akan menemukan jalan yang lebih terang, meski cahaya di Mahawana tidak pernah bertambah.

Hutan Mahawana bukan tempat untuk ditaklukkan. Ia bukan medan perburuan, bukan ladang eksplorasi. Ia adalah ruang untuk diuji, untuk diam, dan untuk mendengar. Karena di dalam diamnya, Mahawana selalu berbicara.

Dan di antara akar, kabut, dan cahaya senja yang tak pernah usai, selalu ada sesuatu yang menunggu. Bukan untuk ditemukan, tapi untuk dikenali.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran