Setelah Pertempuran
Malam turun cepat di Sanura.
Langit seperti ditutup kain gelap yang berat. Hujan yang sedari sore turun kini berubah menjadi gerimis tipis, menetes di ujung dedaunan, memantul di genangan air yang belum surut.
Udara lembap dan dingin menempel di kulit. Bau lumpur bercampur darah dan logam menebal di setiap hembusan angin.
Aku, Basi, duduk di pinggir rawa, di atas batang kayu besar yang setengah tenggelam.
Di sampingku, pedang biru tergeletak, masih ada sisa lumpur menempel di bilahnya. Aku belum membersihkannya.
Setiap kali kuusap dengan kain, permukaannya malah memantulkan cahaya samar, seperti menolak jadi bersih.
Dari kejauhan, suara katak terdengar. Tapi tidak seperti biasanya.
Malam ini, suaranya aneh—pelan, terputus, seolah katak-katak itu sedang berbisik, bukan bersahutan.
Joda sudah kembali ke panti bersama para penjaga.
Aku bilang ingin tinggal sebentar.
Rawa ini seperti belum selesai berbicara, dan entah kenapa, aku ingin mendengarnya.
Aku menunduk menatap permukaan air.
Bulan muncul di antara celah awan, memantulkan cahaya putih ke air hitam.
Lalu perlahan, dari dalam air itu, gelembung-gelembung kecil muncul, satu per satu, pecah, lalu muncul lagi.
Aku berpikir mungkin hanya udara yang terperangkap di bawah akar, tapi lama-lama, gelembung-gelembung itu membentuk lingkaran kecil di hadapanku.
Air di dalam lingkaran itu bergerak berbeda.
Tenang, tapi dalam.
Dan dari dalamnya muncul kilau lembut, biru kehijauan, seperti cahaya kunang-kunang yang tersangkut di dasar air.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Lalu terdengar suara—bukan suara keras, bukan seperti manusia bicara.
Lebih seperti suara yang muncul langsung di kepala, lembut, dingin, dan bergema pelan seperti gema di gua.
“Air mengingat siapa yang melukai tanahnya.”
Aku menoleh, tapi tak ada siapa pun di sekitarku.
Hanya suara hujan, dan genangan air yang memantulkan langit abu-abu.
“Kau membuka sesuatu yang lama tidur, anak besi dan batu.”
Aku menelan ludah.
Pedangku bergetar sedikit di tanah, lalu cahaya biru samar muncul di sepanjang bilahnya.
Aku tahu suara itu datang dari rawa—atau mungkin dari sesuatu yang hidup di dalamnya.
“Batu biru itu bukan milikmu. Ia milik kami. Ia bagian dari air yang pernah kering.”
Aku memegang gagang pedang itu erat-erat.
“Aku hanya ingin melindungi,” kataku pelan. “Kami tidak bermaksud menyakiti rawa.”
Tidak ada jawaban beberapa saat, hanya suara gerimis dan nyanyian jauh dari serangga malam.
Lalu air kembali bergetar.
“Air tidak peduli niat. Air hanya tahu arah alirannya.”
Aku menarik napas. Hujan mulai deras lagi, menetes di rambutku, menetes ke pedang, menimbulkan bunyi tik… tik… tik…
Aku menunduk, memperhatikan lingkaran air itu, dan di sana—aku melihat sesuatu.
--
Siluet wajah-wajah samar, seperti orang-orang yang berjalan di bawah air.
Mereka bergerak pelan, tangan-tangan mereka seperti menyentuh permukaan dari dalam.
Mereka tak punya mata, tapi aku merasa mereka menatapku.
Satu dari mereka mengangkat tangan, menunjuk ke arahku, lalu ke pedangku.
“Kekuatan tidak datang dari logam atau akar. Ia datang dari yang kau beri padanya.”
Lalu lingkaran air itu pecah.
Gelembung-gelembung terakhir naik dan meletus perlahan di udara.
Suara bisikan berhenti.
Aku memandangi rawa itu lama.
Bau tanah semakin tajam, seperti baru digali.
Angin bertiup membawa kabut tipis yang menempel di kaki dan baju.
Semua terasa tenang, tapi bukan tenang yang menenangkan—lebih seperti tenang yang menunggu sesuatu terjadi.
Pedangku berhenti bergetar.
Cahayanya padam, tapi di dalam bilahnya, samar sekali, seperti ada aliran tipis yang berputar—mungkin air, mungkin cahaya.
Aku menatapnya, lalu berkata pelan, “Kalau kau bukan milikku… maka aku hanya akan menjagamu.”
Tak ada jawaban.
Hanya rawa, bulan, dan hujan.
Tapi entah kenapa, malam itu aku merasa tidak sendiri.
Seolah sesuatu di dalam rawa itu perlahan menyetujui—bukan karena mereka percaya, tapi karena mereka tahu aku belum mengerti apa-apa, dan itu… cukup untuk saat ini.
Aku bangkit, mengangkat pedang, menatap pantulan diriku di bilah yang basah.
Mataku terlihat berbeda.
Entah karena cahaya bulan, atau karena sesuatu di rawa ini meninggalkan sedikit dari dirinya di dalamku.
Aku melangkah pulang melewati lumpur, meninggalkan rawa yang mulai diselimuti kabut tebal.
Dari belakang, samar-samar, aku mendengar suara seperti napas panjang—suara rawa yang hidup, bukan menakutkan, hanya… tua.
Dan di antara bunyi itu, terdengar satu kalimat, jauh sekali, nyaris tertelan angin.
“Jaga arusnya, Basi.”
Aku menoleh, tapi tak ada apa pun.
Hanya kabut yang menutup jalan pulang, dan di kejauhan, lampu panti asuhan berkelip kecil seperti bintang.
Comments
Post a Comment