Dendam Rawa Sanura

 Aku dilanda kemarahan yang membara hingga ke ubun-ubun. Ini bukan amarah dingin yang terencana, melainkan amarah yang panas, yang membuat kepalaku berdenyut dan tangan gemetar. Ketika Joda demam tadi malam, saat Pandita Ruben sibuk merapal mantra dan menekan telapak tangannya ke bibir sahabatku, ada bagian dari diriku yang seolah retak. Aku merasa gagal. Kami selalu bersama, dan kini dia menderita karena kebodohanku membawa kami ke rawa itu—karena keberanian konyolku, karena rasa ingin menang yang tak terkendali.

Di sela doa yang dibacakan Pandita Ruben, aku duduk di kursi, memegang gelang hijau di pergelangan tangan. Gelang itu terasa hangat, seperti detak jantung kecil. Aku menatapnya, lalu menatap Joda yang tidur dengan wajah pucat di ranjang. Napasnya berat tapi teratur; pipinya masih kemerahan. Aku seharusnya lega, tetapi yang kurasakan justru bara amarah.

“Aku akan memburu semua kodok ungu itu,” pikirku lantang. “Jika itu yang membuat Joda sakit, aku akan membersihkan rawa itu. Aku akan membuatnya aman—dengan caraku sendiri.”

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, aku bangkit. Pandita Ruben menatapku dari jauh, bibirnya bergerak-gerak memanggil, tapi aku tidak peduli. Aku mengikat sepatu, menggendong pedang, dan menggulung pakaian pelindung tipis yang kupunya. Aku tidak mengambil jaring panjang serikat. Tidak ada Lodra, tidak ada izin. Hanya aku—dan amarah yang melekat di paru-paru seperti asap.

Hujan masih turun, lembut, menyeka jendela panti. Aku melangkah keluar malam itu, menembus udara dingin yang berbau tanah dan daun basah. Desa sepi; hanya ada lampu minyak yang berkedip di beberapa jendela. Langkahku cepat, jejak sepatu menghilang di tanah berumput. Di dalam dada, gelang itu berdenyut seolah mendukung. Aku mengangkat tangan kiri, merasakan desiran ringan di kulit, seolah bumi melicinkan gerakanku, membuatku bisa bergerak lebih cepat melangkahi kerikil kecil di jalan.

Rawa Sanura tidak jauh. Jalannya licin, dan aku harus merunduk di bawah dahan yang meneteskan air. Kabut menggulung di permukaan rawa seperti kain tebal. Cahaya bulan tersamar, membuat genangan air berkilau seperti kaca yang retak. Di kejauhan, terdengar suara kodok—bukan suara kodok hijau yang kukenal, tapi suara berat, bergelombang, sangat banyak, seperti tumpukan batu yang saling bertumbukan.

“Aku akan bersihkan semuanya,” kataku pada diri sendiri. “Sampai tidak ada satu pun yang bisa menyemburkan racun ke mulut seseorang lagi.”

--

Pertama kali aku menemukan segerombolan kecil kodok ungu, mereka tampak seperti batu ungu basah. Mereka berdiam di genangan dangkal, masing-masing lebih besar dari kepalan tangan. Kulit mereka mengilap, menatapku dengan mata seperti kancing perak. Di bawah cahaya temaram, lendir di tubuh mereka berkilau seperti minyak hitam.

Aku tidak memikirkan rencana yang rapi. Aku memburu dengan gerakan yang hampir panik: lempar jaring, tekan dengan kaki, tusuk cepat dengan pedang. Di awal, banyak yang berhasil. Gelang di pergelangan memberiku pijakan yang nyaris setara dengan kelembapan licin. Kakiku melangkah cepat di atas lumpur, dan jaring yang kubuat sendiri cukup untuk menjerat beberapa tubuh besar. Kodok-kodok itu menderam seperti trompet kecil saat tersangkut, menggelepar dan memantul; beberapa menyemburkan percikan kecil yang mengenai air dan menimbulkan busa ungu yang cepat menguap.

Aku merasa benar. Rasanya seperti menebas benang tipis yang mengikat rasa sakit itu di perutku. Setiap kodok yang kukalahkan membuat dadaku lega, menciptakan ruang kosong kecil di tempat yang tadi penuh dengan kecemasan. Aku bekerja cepat, tanpa henti, sampai genangan itu menipis dan tubuh-tubuh ungu bergelimpangan di permukaan.

Namun rawa ini tidak seperti dulu. Kodok-kodok ungu itu jauh lebih banyak dari yang kubayangkan. Mereka datang berombak, lebih besar, lebih cepat, dan entah bagaimana, lebih cerdik. Aku mulai lelah; napasku kasar pada jam satu malam yang dingin. Gelang itu membuat langkahku cepat, tapi tidak memberiku napas lebih banyak. Aku terus memaksakan tubuh agar tidak berhenti.

Sekelompok besar muncul dari balik semak—lebih besar, anak-anak kodok yang buram dan beberapa induk. Mereka tampak marah, gerombolan yang bersatu seperti gelombang. Salah satu induk melompat setinggi dada, melengking. Dari mulutnya, percikan—bukan seperti yang pertama, bukan semprot, tetapi uap berat, pekat, berwarna ungu tua—menyembur ke arahku.

Aku secara refleks menutup wajah. Tangan kiriku, yang memegang jaring, bergetar. Saat uap itu menyentuh udara di dekat hidungku, aku merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menempel di bibir. Ada rasa terbakar halus, seperti menyentuh batu panas yang lembut. Aku mengangkat tangan untuk mengusap, tapi uap itu merambat. Kulit di pipiku mulai panas. Semburat kemerahan muncul seperti bekas bakar kecil, lalu berubah menjadi sensasi gatal yang mendalam.

Aku mundur, tetapi lumpur di bawah kakiku sudah menjadi perangkap. Kakiku terasa berat sekali. Setiap langkah seperti menempel. Gelang memberiku kecepatan, tapi tidak bisa mengangkatku dari tarikan lumpur. Aku menendang, meraih batang pohon, tapi setiap usaha membuat percikan kecil uap menghantam wajahku lagi. Mulutku terasa aneh—seperti ada rambut terbakar di bagian dalamnya—dan aku batuk, suara yang pecah dan basah.

“Jangan... jangan…” aku berbisik pada diri sendiri. Air di rawa di sekitarku beriak, uap berkumpul, dan satu percikan besar jatuh ke wajahku. Kulit di pipi kini melepuh. Rasa sakitnya bukan sekadar panas; ia seperti rasa serangga yang menari di bawah kulit. Bola mataku berkaca-kaca. Kulit di bawah hidungku mulai melepuh, bibirku membengkak.

Aku menarik napas dalam-dalam—mencari udara yang tidak berisi uap—tapi rawa itu sendiri mengembuskan racun. Sekelilingku seperti menutup. Kodok-kodok itu berkumpul lagi, bergerak seperti band yang bersinergi. Aku menyadari aku sendirian. Jauh di dalam dada ada suara lain—bukan bara amarah lagi, tetapi rasa takut yang dalam.

Aku mencoba berlari. Kaki licin, tanah menempel, tanah mencakar betis. Langkahku tidak secepat dulu. Gelang memberi dorongan, tapi saat tubuhmu hampir kehabisan tenaga, dorongan itu seperti getaran tak berguna. Aku melompat ke sebatang akar, mencoba memanjat. Tangan kiriku, yang sekarang berwarna merah dari kulit yang melepuh, mulai terasa kebas. Jari-jariku mati rasa. Namun otakku tetap gaduh dengan satu pikiran: Joda harus aman. Dia harus bangun dari ranjangnya dengan selamat. Aku harus pulang dengan aman.

Tapi paru-paruku dipenuhi uap. Aku terbatuk keras, suaranya seperti memecah daun. Ada bau yang menusuk di dalam uap ini, seperti logam basah dicampur bau rumput busuk. Batukku makin keras, dan di sela batuk, cairan asin keluar dari hidungku. Aku mengeluarkan suara yang tak pernah kuperdengarkan: bukan tawa, bukan teriakan, tapi erangan yang kosong.


Bantuan yang Datang Terlambat

Ketika aku sadar, aku terjatuh di sisi rawa. Lumpur menyelimuti bajuku. Wajahku nyeri—kulit di dagu, pipi, dan hidungku menggelembung seperti kulit buah yang dimasak. Gumpalan-gumpalan kecil muncul, merah, berlapis, lalu meletus seperti gelembung. Udara di sekitarku terasa semakin berat, dan aku merasa seolah berada di balik tirai yang menutup; penglihatan sedikit kabur, dan suara di kejauhan seperti melewati lensa yang tebal.

Mataku menangkap kilatan lampu dari jauh—seperti ada seseorang berlari. Apakah itu Lodra? Pandita? Atau Joda? Suara langkah itu mendekat, dan selembar kain basah disentuhkan ke wajahku. Aku berusaha mengangkat kepala, meraih kain itu, tapi tangan kiriku yang dulu cepat kini terasa seperti potongan kayu. Kulitnya terasa meletup panas ketika aku menyentuhnya.

“Basi! Basi, tahan, kami datang!” Suara itu seperti berasal dari dalam cangkang. Ada nada panik dan terburu. Aku mengenal suara itu—Pandita Ruben. Di belakangnya, ada Lodra yang berteriak-teriak memanggil sesuatu seperti botol-botol kecil dan ember. Ada juga langkah kecil yang kukenal: Joda? Suara langkah itu terdengar lebih berat dari biasanya—mungkin demamnya belum hilang, tapi dia berlari, karena itu Joda.

Seseorang membantuku duduk. Tanganku berlumuran lumpur dan darah kering. Mereka menaruh kain dingin ke pipiku. Kain itu terasa seperti dingin yang menyengat, membuat kulit yang melepuh bergetar. Pandita menggenggam tanganku, menatap wajahku dengan mata yang penuh getar. “Kau konyol,” katanya, tapi suaranya rapuh. “Kenapa kau pergi sendiri?”

Aku mencoba membuka mulut untuk menjawab, tapi suaraku keluar serak dan pendek. Lidahku terasa seperti kertas gosong, dan ketika aku menghela napas, ada serpihan uap hitam kecil yang keluar. Mereka mengangkatku, menyelimuti tubuhku dengan mantel tebal, dan aku mendengar bunyi ember diisi air, bunyi langkah tergesa, dan instruksi-instruksi singkat. Lodra memberikan satu botol kecil kepada Pandita, yang segera menelan beberapa tetes, kemudian menepuk dadaku dan merapal suara-suara yang membuat semacam getaran di udara.

Untuk beberapa saat, aku hanya menatap pohon-pohon bergoyang di atas kepala, melihat hujan yang berkilat. Wajahku terasa seperti dunia lain: bintik-bintik hitam dan merah, kulit yang lepas, dan rasa yang menusuk seperti tusukan. Aku merasakan panas di paru-paru, sesak yang tak mau pergi. Aku tahu aku bersalah—bukan pada mereka, melainkan pada Joda, yang mungkin sekarang bangun dan merasakan sakit karena bibirnya semalam, sementara aku tergeletak di lantai rawa ini, wajahku melepuh karena uap yang kupanggil sendiri.

Mereka membawa aku pulang. Di perjalanan, aku mendengar obrolan samar. Lodra menyuruh agar semua benda dari perut raja babi diamankan di serikat. Pandita berbisik instruksi pada Nira yang menyiapkan ramuan. Joda, suaranya patah, memegang kepalaku. “Bas, kau nggak apa-apa, kau dengar nggak?” katanya. Suaranya keras tapi bergetar. Aku masih ingin menjawab, tapi suaraku habis.

Di ambang panti, sebelum semuanya kabur, aku sempat melihat kaca kecil di meja. Wajahku di sana—setengah uban merah dan ungu—terlihat seperti hasil mimpi buruk. Bibirku pecah dan melepuh, kulit di pipi mengelupas seperti kulit buah yang busuk. Ada rasa seperti kosong di tempat kaki; aku merasakan sesuatu koyak di lutut, dan setiap kali aku mencoba melangkah, dunia berputar sedikit.

Kami masuk ke dalam, dan Pandita meletakkanku di meja panjang. Anak-anak panti berkumpul di pintu, mata mereka membesar. Joda menutup wajahnya sebentar, lalu menatapku, ada air di mata kecilnya. Lodra mengusir mereka pergi dengan kata-kata kasar yang samar. Aku mendengar suara-suara, mantera, bunyi-bunyi air dipanaskan, dan aroma tajam rempah yang disolder.

Sebelum kehilangan kesadaran, aku melihat Joda menempelkan bibirnya ke pipiku sekali, sebuah ciuman kecil yang panas, lalu menutup mulutnya karena takut ia akan menularkan sesuatu. “Maaf, Bas,” katanya lirih. “Aku nggak bisa bantu… aku demam.”

Itu yang terakhir kurasa jelas. Setelah itu, hanya gelap, hanya suara deru seperti ombak, dan rasa terbakar di kulit seperti nyala kecil yang tak padam.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran