Bukit Dingin Undagi
Bukit Dingin Undagi
Altar Sunyi di Atas Sabana
Di antara gelombang rumput yang tak berujung dan langit yang terbuka lebar di Sabana Wanala, terdapat sebuah bukit rendah yang terasa jauh meski tampak dekat: Bukit Dingin Undagi. Ia tidak menjulang tinggi, namun kehadirannya seperti bisikan yang tidak bisa diabaikan—sebuah tempat yang tidak memanggil, tetapi menunggu.
Bukit ini dikenal bukan karena bentuknya, melainkan karena suasana yang menyelubunginya. Di puncaknya berdiri reruntuhan altar Undagi, struktur batu tua yang telah lama ditinggalkan, namun tidak pernah benar-benar dilupakan. Altar itu tidak besar, hanya susunan batu yang membentuk lingkaran, dengan satu batu pusat yang retak di tengahnya, seolah-olah pernah menyimpan sesuatu yang kini telah hilang.
Angin di Bukit Undagi berdesir pelan, namun tidak biasa. Ia membawa suara yang menyerupai seruling patah—nada-nada yang tidak utuh, namun cukup untuk membuat hati berhenti sejenak. Setiap sore, kabut turun perlahan, menyelimuti bukit dan menutupi jejak, membuat waktu terasa membeku. Di saat seperti itu, bukit ini tampak seperti ruang antara, tempat di mana masa lalu dan masa kini berdiri berdampingan tanpa saling menyentuh.
Penduduk sekitar percaya bahwa altar Undagi dulunya adalah tempat persembahan unsur langit, tempat para penafsir dan pemanggil petir datang untuk berkomunikasi dengan kekuatan yang tidak bisa dilihat. Kini, meski kekuatan itu telah lama diam, bukit ini tetap menjadi tempat perenungan, tempat para pengembara duduk diam dan mendengarkan suara yang tidak berasal dari dunia luar.
Warna-warnanya adalah hijau pucat sabana, abu-abu batu altar, putih kabut, dan biru kelam langit sore. Udara di sini dingin namun lembut, membawa aroma rumput basah, batu tua, dan sesuatu yang lebih dalam—seperti kesedihan yang tidak menyakitkan, hanya mengingatkan.
Bukit Dingin Undagi bukan tempat untuk berlari. Ia adalah tempat untuk berhenti, untuk mendengar, dan untuk mengingat bahwa tidak semua kekuatan datang dalam bentuk kilat dan api. Dan di antara batu yang retak, kabut yang turun, dan angin yang bernyanyi pelan, selalu ada perasaan bahwa bukit ini tidak hanya menyimpan altar… tetapi juga menjaga ruang bagi mereka yang mencari jawaban dalam keheningan.
Comments
Post a Comment