Desa Tirta




Desa Tirta

Penjaga Ramalan di Tebing Magdripa
Di lereng curam Tebing Magdripa, di mana batu-batu menjulang seperti dinding dunia dan kabut turun setiap pagi seperti selimut dari langit, berdiri sebuah desa kecil yang dikenal dengan nama Desa Tirta. Desa ini tidak besar, namun keberadaannya telah lama menjadi bagian dari cerita-cerita yang dibisikkan dari generasi ke generasi—cerita tentang ramalan, tentang air yang berbicara, dan tentang masa depan yang mengalir seperti sungai.
Desa Tirta dibangun di sekitar sebuah sendang tua yang disebut Sendang Ramala, sebuah kolam alami yang airnya tidak pernah surut, bahkan di musim kemarau paling panjang. Airnya jernih, namun di kedalamannya tampak bayangan-bayangan yang tidak selalu mengikuti bentuk dunia nyata. Penduduk desa percaya bahwa sendang ini adalah tempat di mana masa depan bisa dilihat, jika seseorang cukup sabar dan cukup bersih hatinya untuk menatap tanpa menginginkan jawaban.
Rumah-rumah di Desa Tirta terbuat dari batu dan kayu tua, dengan atap lumut yang menyatu dengan warna tebing. Jalan-jalan kecil menghubungkan rumah-rumah itu, dan di setiap sudut terdapat lentera-lentera kaca yang menyala dengan cahaya biru pucat saat malam tiba—cahaya yang konon berasal dari kristal air yang ditemukan di dasar sendang.
Penduduk desa hidup tenang, namun tidak pernah benar-benar biasa. Mereka adalah penjaga ramalan, pembaca tanda-tanda langit, dan pendengar suara air. Setiap anak yang lahir di Desa Tirta akan dibawa ke tepi sendang pada malam pertamanya, dan air sendang akan menyentuh dahinya sebagai tanda bahwa ia adalah bagian dari aliran waktu yang dijaga oleh desa.
Cahaya di Desa Tirta selalu lembut. Matahari jarang bersinar penuh, karena kabut dari Tebing Magdripa sering menutupi langit. Namun saat cahaya berhasil menembus, desa tampak seperti dunia yang terbuat dari perak dan bayangan. Di malam hari, suara air dari sendang bercampur dengan angin yang turun dari tebing, menciptakan nyanyian yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang tinggal di sana.
Warna-warnanya adalah warna batu basah, hijau lumut, biru air, dan putih kabut. Suasananya bukan sunyi, melainkan penuh dengan bisikan—bisikan dari masa lalu, masa kini, dan masa depan yang belum datang.

Desa Tirta bukan tempat untuk mencari jawaban cepat. Ia adalah tempat untuk menunggu, untuk mendengar, dan untuk memahami bahwa waktu tidak selalu berjalan lurus. Dan di antara tebing yang mengawasi, air yang menyimpan rahasia, dan penduduk yang menjaga dengan tenang, selalu ada perasaan bahwa dunia ini lebih besar dari yang terlihat… dan bahwa masa depan, seperti air, selalu bergerak, selalu berubah, dan selalu kembali. 

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana