Padang Timur

 




Padang Timur

Bentangan Rumput, Air, dan Reruntuhan yang Terlupakan

Di sisi timur Pegunungan Madhayaloka, di dalam wilayah luas yang dikenal sebagai Padang Binaya, terbentang sebuah dataran yang tidak keras, tidak liar, namun juga tidak jinak. Namanya adalah Padang Timur—sebuah padang rumput yang luas, terbuka, dan tenang, namun menyimpan lebih banyak air dan ingatan daripada yang tampak di permukaan.

Padang ini membentang sejauh mata memandang, dengan kontur tanah yang bergelombang lembut. Rumputnya tumbuh tinggi dan lebat, berwarna hijau pucat yang berubah menjadi keemasan saat musim kering datang. Di antara hamparan rumput itu, tumbuh pohon-pohon kecil yang tersebar jarang, seperti titik-titik jeda dalam kalimat panjang. Hutan tidak pernah benar-benar tumbuh di sini, hanya menyentuh dari kejauhan, seolah tahu bahwa padang ini bukan tempat untuk bersembunyi.

Cahaya di Padang Timur jatuh penuh. Langit di atasnya luas dan terbuka, tanpa penghalang. Di pagi hari, embun menggantung di ujung rumput, memantulkan cahaya matahari pertama seperti ribuan kaca kecil. Di siang hari, cahaya itu menjadi putih dan menyilaukan, membuat bayangan tampak tajam dan bergerak lambat. Di sore hari, langit berubah jingga, dan seluruh padang tampak seperti lautan emas yang diam.

Namun yang membuat Padang Timur berbeda adalah air. Di antara rumput dan tanah, mengalir banyak sungai kecil yang jernih dan tenang. Beberapa membentuk danau-danau dangkal, tempat burung-burung air berkumpul dan kabut tipis menggantung di permukaannya. Suara air yang mengalir pelan menjadi latar belakang tetap di padang ini, menyatu dengan suara serangga dan angin yang menyisir rumput.

Di tengah padang, tersembunyi di balik semak dan waktu, terdapat reruntuhan Kuil Binaya. Tidak banyak yang tersisa—hanya fondasi batu, beberapa tiang yang masih berdiri, dan altar yang retak. Namun tempat itu masih memancarkan sesuatu: keheningan yang berbeda, keheningan yang tidak kosong. Dulu, kuil ini adalah tempat perenungan dan pemujaan, tempat para penyihir dan petapa datang untuk mendengarkan suara bumi. Kini, ia hanya menjadi bagian dari lanskap, namun tidak pernah benar-benar hilang.

Warna-warna di Padang Timur adalah warna-warna yang lembut: hijau pucat, biru langit, cokelat tanah, dan putih kabut. Tidak ada warna mencolok, tidak ada suara keras. Semuanya berjalan pelan, seperti waktu yang tidak terburu-buru.

Padang Timur bukan tempat untuk bersembunyi, tapi juga bukan tempat untuk ditemukan. Ia adalah tempat untuk diam, untuk berjalan tanpa tujuan, dan untuk mendengarkan sesuatu yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam.

Dan di antara rumput yang bergoyang, air yang mengalir, dan batu-batu yang diam, selalu ada sesuatu yang menunggu. Bukan untuk dilihat, tapi untuk dirasakan.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana