Babi Hutan Jingga
Sudah beberapa minggu berlalu sejak pertempuran di kebun kelapa Sanura. Sejak hari itu, aku dan Joda mulai sering mendapat misi kecil dari serikat — memperbaiki pagar peternakan yang rusak, membantu menyingkirkan hewan liar, atau kadang hanya mengawal pengantar sayur dari pinggir sungai ke desa. Tapi hari itu, pagi-pagi sekali, Lodra memanggil kami ke serikat dengan wajah agak serius.
“Ada laporan dari penjaga hutan,” katanya sambil menatap peta kayu besar di dinding. “Seekor babi hutan jingga muncul di perbatasan utara Hutan Jingga. Sudah dua kali ia merusak ladang singkong dan menumbangkan pohon kelapa muda.”
Aku menelan ludah pelan. Babi hutan jingga. Namanya terdengar akrab — bukan karena kami pernah melihatnya langsung, tapi karena cerita anak-anak di panti selalu menyebutnya sebagai hewan legendaris. Katanya, babi itu bisa berlari secepat kuda, dan kulitnya sekeras kulit naga.
Joda menepuk bahuku, matanya berbinar. “Kita ambil misinya, Bas. Kali ini kita bisa bawa pulang sesuatu yang besar.”
Lodra mengangguk, entah percaya entah ragu. “Baik, tapi kalian jangan ceroboh. Kalian sudah lulus misi tupai merah, jadi boleh ambil misi ini. Tapi ingat—babi jingga itu bukan musuh kecil.”
Kami menandatangani papan misi serikat dengan nama kami berdua. Di pojok papan, plakat kristal kecil berwarna hijau menyala sebentar, menandakan bahwa misi resmi telah diterima.
Kami berangkat sebelum matahari naik. Hutan Jingga terletak di selatan desa, hanya satu jam jalan kaki dari sungai. Pagi itu udara dingin, rumput masih basah, dan kabut menggantung di sela-sela batang pohon besar.
Hutan ini dinamakan Hutan Jingga karena kulit pohonnya berwarna kemerahan seperti tembaga tua. Saat cahaya matahari masuk di sela cabang, seluruh hutan tampak menyala keemasan, seolah terbakar cahaya lembut.
“Bau tanahnya beda,” kata Joda, sambil mencium udara. “Lebih lembap.”
Aku mengangguk. “Mungkin karena banyak akar besar. Lihat, di sana ada jejak.”
Kami menunduk. Di tanah berlumpur itu, terlihat cetakan tapak besar — bundar dan dalam. Jejak babi hutan. Segar sekali.
Kami mengikuti jejak itu melewati semak dan akar-akar raksasa. Semakin dalam, hutan terasa lebih sunyi. Hanya suara burung kecil dan desir angin yang sesekali melewati dedaunan.
Sekitar setengah jam kemudian, kami menemukan sisa batang pohon pisang yang tumbang dan sobek. Getahnya masih menetes.
“Dia lewat sini,” kataku.
Joda menyiapkan kapaknya. Aku memegang pedang pendekku, mengingat semua latihan yang kami lakukan: tusuk, tebas, bacok, dan gerakan hindar cepat yang kami pelajari dari menangkis serangan tupai merah dulu.
Kami terus berjalan perlahan. Sampai akhirnya, kami mendengar suara napas berat — seperti dengusan lembu, tapi lebih kasar, lebih dalam.
Aku memberi isyarat ke Joda. Kami bersembunyi di balik batang pohon besar. Dari sela daun, tampak seekor babi hutan berwarna jingga tua sedang mengais tanah dengan moncongnya. Bulunya tebal, badannya sebesar gerobak kayu, dan gadingnya melengkung ke depan seperti sabit perak.
“Besar sekali…” bisik Joda.
Aku mengangguk. “Kita serang dari sisi berbeda. Aku dari kanan, kau dari kiri.”
Dia mengangkat jempolnya.
Kami menunggu momen yang tepat. Saat babi itu menunduk lagi, aku melangkah keluar dari balik pohon, menjejak tanah sekeras mungkin. Tanah becek memercik ke udara.
Aku berlari, pedang terangkat. Tapi sebelum sempat mendekat, babi itu menoleh cepat, matanya menyala merah muda, dan ia mengaum.
Suara itu menggema di seluruh hutan.
Lalu tubuhnya melesat ke arahku — cepat, sangat cepat.
Aku melompat ke samping, hampir terjatuh. Gadingnya menghantam pohon di belakangku hingga batangnya retak.
“Sekarang, Jo!”
Joda muncul dari sisi kiri, mengayunkan kapaknya ke kaki belakang si babi. Suara logam menghantam keras, tapi hanya membuat hewan itu sedikit tersandung.
“Gila, kulitnya keras banget!” seru Joda.
Aku menebas punggungnya, tapi pedangku hanya meninggalkan goresan putih di bulu tebalnya. Babi itu berputar, menyeruduk, dan aku berguling menjauh.
Kami mencoba mengatur napas. Tak bisa asal menyerang — kami harus mengingat semua latihan kami: jangan melawan kekuatan dengan kekuatan, tapi arahkan serangan ke sisi yang lemah.
Aku melirik ke bawah. Bagian leher bawahnya tampak lebih tipis bulunya.
“Jo, leher bawahnya!”
Kami mulai menyusun langkah. Aku maju menebas dari depan untuk menarik perhatiannya, sementara Joda memutar dari belakang. Saat babi itu menunduk hendak menyerudukku lagi, aku menangkis gadingnya dengan pedang, percikan logam dan tanah beterbangan.
Sementara itu, Joda melompat ke atas batu di sisi kanan, lalu menebas keras dari atas ke leher babi itu.
Suara logam menembus daging terdengar singkat. Babi itu mengaum keras dan meronta.
Aku segera ikut menikam sisi lain lehernya. Sekali, dua kali. Darah hangat menyembur mengenai tanah.
Babi itu bergetar keras, lalu jatuh dengan dentuman berat.
Kami berdua terengah-engah. Nafas kami beruap di udara dingin.
“Bas… kita berhasil?”
Aku memandang tubuh besar itu yang kini diam. “Kayaknya iya…”
Hening sesaat. Lalu kami berdua tertawa keras.
Butuh waktu lama untuk membersihkan tubuh hewan itu. Kami memotong daging bagian terbaiknya — paha dan punggung — lalu membungkusnya dengan daun pisang besar.
“Kita bawa pulang ke panti,” kataku. “Anak-anak pasti senang.”
“Setuju! Ini pertama kalinya kita bisa kasih mereka makan daging hasil buruan kita sendiri.”
Kami memikul bungkusan itu bersama-sama. Matahari mulai turun, cahaya jingga keemasan menembus hutan, membuat dedaunan seolah menyala. Saat kami keluar dari gerbang hutan, udara desa terasa hangat.
Sore itu, anak-anak panti menyambut kami seperti pahlawan. Pandita Ruben memandangi kami, tersenyum kecil saat melihat daging besar yang kami bawa.
“Jadi ini hasil kerja keras kalian hari ini?”
Aku mengangguk bangga. “Babi hutan jingga, Paman. Kami membersihkannya di sungai sebelum pulang.”
Pandita tertawa pelan. “Baiklah, malam ini kita masak bersama.”
Kami memotong daging itu di halaman panti, di atas batu besar yang biasa dipakai menumbuk singkong. Asap dari tungku mulai naik, aroma daging panggang bercampur dengan bawang dan garam.
Anak-anak duduk melingkar sambil menunggu. Joda sibuk meniup api di tungku, sementara aku menambahkan kayu kering.
Matahari tenggelam perlahan. Langit berubah oranye, lalu ungu. Saat akhirnya potongan pertama matang, Pandita membagikannya ke semua anak-anak.
“Untuk petualang-petualang kecil yang berani,” katanya.
Tawa dan sorak memenuhi halaman.
Aku duduk di tanah, memegang potongan daging yang masih panas, dan menatap ke arah langit yang sudah gelap. Dari jauh, Hutan Jingga terlihat samar, hanya bayangan oranye di balik kabut malam.
Joda menepuk bahuku. “Kita berhasil lagi, Bas.”
Aku mengangguk. “Dan perut kita juga berhasil kenyang.”
Kami tertawa pelan.
Di dekat tungku, Lodra datang membawa dua token kristal kecil — hadiah dari serikat atas penyelesaian misi. Ia menaruhnya di tangan kami tanpa banyak bicara.
Kami tak terlalu memikirkan itu malam itu. Yang terasa paling nyata hanyalah rasa asap di udara, suara tawa anak-anak, dan rasa hangat dari makanan yang kami bagi bersama.
Untuk pertama kalinya, daging hasil buruan kami sendiri mengisi perut semua orang di panti.
Dan malam itu, sebelum tidur, aku sempat berpikir — bukan tentang petualangan besar atau medali, tapi tentang suara perut kenyang dan tawa kecil di antara nyala tungku.
Comments
Post a Comment