Berburu dan Menabung

Yang paling spesial dari menjadi petualang, menurutku waktu itu, bukan soal gelar atau cap resmi di kartu kristal. Tapi soal kebebasan. Kami boleh keluar desa tanpa ditemani orang dewasa, boleh menjelajah hutan atau sungai asal masih dalam batas aman, dan yang paling menyenangkan — kami boleh berburu bintang laut biru setiap hari.

Setiap pagi, setelah matahari jingga mulai naik dari balik bukit, aku dan Joda sudah membawa tongkat kayu kami dan jaring kecil buatan sendiri. Jaring itu anyaman tali kelapa yang kami buat diam-diam dari sisa bahan penambal atap kuil. Kalau beruntung, kami bisa menemukan dua atau tiga bintang laut biru menempel di batu karang. Kadang ada yang membawa mutiara perak, kecil tapi berharga.
Lodra bilang, serikat membeli satu butir seharga 10 keping tembaga — dan bagiku, itu sudah terasa seperti harta karun kecil.

Pantai tempat kami berburu terletak di timur laut desa. Jalannya menurun, melewati pohon kelapa Sanura yang tumbuh miring ke arah laut, batangnya panjang, daunnya seperti jari-jari hijau yang menari ditiup angin. Dari sana laut terlihat luas dan berkilau, seperti kaca cair berwarna biru muda. Ombaknya lembut, memukul pasir putih yang panjangnya sejauh mata memandang. Bau garam bercampur bau buah kelapa dan lumut basah.

Kami biasanya mulai berburu saat air sedang surut, waktu bebatuan besar di tepi pantai muncul. Di situlah bintang laut biru suka menempel. Tapi menangkapnya tidak mudah. Mereka bukan seperti hewan laut biasa — mereka bisa bergerak cepat, dan kalau merasa terancam, tubuhnya memancarkan kabut biru yang gatal sekali kalau kena kulit.

Aku pernah hampir menangis karena kabut itu. Sekali waktu aku memukul satu dengan tongkat, tapi malah terkena semburannya. Kulit lenganku bentol seperti digigit semut laut. Joda tertawa sampai terjatuh di pasir.

“Katanya petualang hebat,” ejeknya waktu itu, “baru kena lendir bintang laut sudah meringis.”

Aku memukul pasir dengan tongkatku. “Lihat saja nanti, aku bisa dapat mutiara duluan.”

Sejak saat itu, kami berlomba. Setiap pagi kami pergi lebih awal dari anak-anak panti lain, bahkan sebelum Pandita Ruben sempat memanggil nama kami saat doa pagi. Tapi kami selalu pulang tepat waktu, jadi beliau tidak pernah benar-benar marah.

Ritual pagi di panti selalu sama. Pandita Ruben berdiri di halaman kuil, di depan patung batu leluhur, memimpin kami mengucap doa. Setelah itu, kami membersihkan halaman, menyapu debu yang jatuh dari daun kamboja, mencuci pakaian, lalu sarapan bubur kacang dan telur rebus. Baru setelah semua selesai, kami memanggul tongkat dan tas kecil, lalu melangkah keluar gerbang panti dengan langkah ringan.

Kadang kami lewat di depan kios Koko, pedagang yang selalu membuka lebih pagi. Ia menjual roti ikan, pisang goreng, dan minuman kelapa muda. Kalau kami punya uang sedikit, kami beli satu roti untuk berdua. Koko orangnya gemuk, rambutnya jarang, tapi suaranya keras seperti gong.
“Hati-hati kalau ke pantai!” katanya tiap kali.
Kami hanya melambaikan tangan.

Kalau terus berjalan ke arah timur, kami melewati pohon kelapa Sanura, tempat Paman Lanos biasanya memetik buah dengan tali panjang. Di bawahnya ada rumput laut kering dan kepiting kecil berlarian. Dari sana suara ombak makin terdengar jelas.

Pantai timur laut itu tempat yang paling kami hafal di dunia. Setiap batu, setiap genangan air, setiap karang. Tapi setiap hari juga selalu ada hal baru: kepiting hijau dengan cangkang bergaris, ikan perak kecil yang lompat dari air, atau bulu babi yang terjebak di pasir.

Bintang laut biru sering muncul di antara batu-batu itu. Warnanya seperti langit sore, biru dengan bintik perak di setiap ujung lengannya. Kalau disentuh, kulitnya licin dan hangat. Tapi hati-hati, mereka bisa bergerak secepat tangan manusia. Pernah suatu kali, seekor menempel di kakiku lalu menempel di pasir, membuatku terjatuh. Joda menertawaiku sampai air matanya keluar.

Hari-hari seperti itu terasa panjang, tapi tidak pernah membosankan. Kami berburu sampai siang, lalu duduk di bawah pohon pandan, makan bekal nasi kelapa dan ikan asin. Kadang kami berdua tertidur, ditemani suara ombak. Kadang ada burung laut datang mendekat, mematuk sisa nasi di daun pembungkus kami.

Sore hari, kami kembali ke Serikat Sihir Desa Jingga. Bangunannya berdiri di tepi pasar, temboknya dari batu karang putih, jendelanya dari kayu pinus yang dilapisi minyak ikan agar tak dimakan rayap. Di dalamnya selalu wangi dupa dan tinta. Di meja depan duduk Lodra, petugas administrasi. Rambutnya panjang, dikuncir satu, dan ia selalu memakai baju biru muda. Setiap kali kami datang, ia menatap kami dengan senyum kecil yang hangat.

“Berapa hasil hari ini?” tanyanya, suaranya lembut tapi tegas.

Kami menyerahkan wadah kami. Kadang penuh lendir laut, kadang hanya ada dua bintang laut biru kecil.

“Tidak apa-apa,” katanya kalau hasil kami sedikit. “Ketekunan juga bagian dari sihir.”

Aku tidak tahu maksudnya, tapi setiap kali ia bilang begitu, rasanya seperti diberi hadiah.
Kalau kami dapat mutiara perak, dia akan mengambilnya dengan penjepit kristal kecil, lalu memasukkannya ke dalam kantong. “Sepuluh keping tembaga per butir,” katanya, mencatat angka di buku tebal.
Uang itu tidak kami bawa pulang. Kami selalu minta dimasukkan ke token tabungan petualang. Melihat catatan itu aku merasa seperti melihat masa depan yang jauh. Kadang aku berpikir, kalau tokenku sudah penuh satu baris, aku akan membeli pedang baja sungguhan di bengkel Paman Nanu. Tapi sampai sekarang, pedang itu cuma ada di pikiranku.

Suatu pagi, setelah hujan malam sebelumnya, kami memutuskan untuk berburu lagi. Hujan membuat air laut agak keruh dan ikan-ikan kecil bermunculan. Kami pikir, mungkin bintang laut biru juga keluar mencari makanan. Tapi ternyata sebaliknya. Air yang keruh membuat kami sulit melihat apa pun.
Kami berkali-kali salah pukul. Tongkatku malah kena batu karang, sampai patah ujungnya.

“Aku bilang juga jangan terburu-buru,” kata Joda sambil jongkok di air. “Bintang lautnya sembunyi.”

Aku mendesah. “Lihat nih, tongkatku patah.”

Joda mengangkat tongkatnya yang masih utuh, lalu memberiku setengah bagian. “Pakai punyaku, tapi hati-hati.”

Kami terus mencari. Sampai siang, kami belum dapat satu pun. Air laut sudah naik, ombak makin kuat. Kami mulai lapar. Saat itulah kami melihat satu bintang laut biru besar menempel di batu datar, tubuhnya berkilau terang di bawah air. Kami saling pandang, lalu bergerak perlahan.

Aku pegang jaring, Joda siap dengan tongkat.
Begitu makhluk itu bergerak, Joda menekan tongkatnya ke tubuhnya. Tapi tiba-tiba bintang laut itu meledak, memancarkan semburan biru seperti kabut panas. Kami mundur, tapi terlambat — semburannya kena wajahku dan dada Joda.
Kami berteriak. Panas, gatal, seperti digigit ratusan serangga.

Kami lari ke pinggir pantai dan mencuci diri dengan air kelapa dari pohon yang tumbang. Setelah beberapa menit, rasa gatalnya hilang, tapi kulit kami memerah. Kami tidak berburu lagi hari itu. Kami hanya duduk diam, menatap laut.

“Kalau jadi petualang itu susah juga ya,” kata Joda akhirnya.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap tongkat patahku. Tapi entah kenapa, aku merasa ingin besok kembali lagi.

Sore itu kami tetap pergi ke serikat. Lodra melihat kami basah kuyup dan kulit memerah.
“Kalian kena semburan lagi?” tanyanya.
Kami mengangguk.
Ia tertawa kecil, lalu memberi kami dua koin tembaga sebagai “hadiah ketahanan.” Kami tidak tahu itu sungguhan atau cuma bercanda, tapi kami tetap senang.

Malamnya, di panti, kami tidur lebih cepat. Pandita Ruben datang memeriksa kami sebelum lampu dimatikan. Ia mengoleskan minyak daun sirih ke kulit kami.
“Jangan menyerah, Basi. Alam selalu menguji dengan caranya sendiri,” katanya pelan.

Aku tidak tahu maksudnya. Aku hanya diam dan menatap nyala lampu minyak di dinding.

Keesokan paginya kami bangun seperti biasa. Lengan kami masih perih, tapi kami tetap pergi berburu. Kali ini kami lebih hati-hati. Kami menunggu ombak tenang, memperhatikan bayangan di bawah air. Kami menemukan satu bintang laut biru yang diam di dasar air.
Kami menunggu sampai ia bergerak, lalu Joda cepat-cepat menekan tongkat ke punggungnya. Aku menutup dengan jaring.
Kali ini berhasil.

Di tengah tubuhnya, ada kilau perak kecil. Kami menatapnya lama, tak berani menyentuh. Tapi benar, itu mutiara perak. Kecil, seukuran biji jagung, tapi memantulkan cahaya matahari.

Kami berlari ke serikat seperti anak gila. Lodra sedang mencatat sesuatu di meja, tapi begitu melihat kami, ia tertawa.
“Lihat siapa yang datang membawa keberuntungan!” katanya.
Ia memeriksa mutiara itu dengan alat kristalnya, lalu memberi kami sepuluh keping tembaga.

Kami tidak berhenti tersenyum sepanjang jalan pulang. Kami bahkan tak peduli saat hujan sore turun dan membuat pakaian kami basah. Kami pulang sambil berlari melewati kebun kelapa, melewati kios Koko yang sudah tutup, dan sampai di panti sambil tertawa.

Malam itu kami makan lebih banyak dari biasanya. Anak-anak lain ikut senang. Pandita Ruben hanya tersenyum dari ujung meja, sambil berkata pelan, “Laut tahu siapa yang rajin.”
Aku tidak tahu maksudnya. Aku hanya tahu bubur kacang malam itu lebih enak dari biasanya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa lagi. Kami bangun pagi, ikut ritual, membersihkan halaman, mencuci baju, lalu berangkat ke pantai. Kadang dapat hasil, kadang tidak. Tapi setiap kali melihat laut biru dan pasir putih yang panjang, rasanya dunia ini cukup luas untuk kami.

Di malam hari, sebelum tidur, aku dan Joda menghitung token kami di serikat. Kami punya tujuh butir sekarang.
“Kalau sudah sepuluh,” kata Joda, “aku mau beli jubah tahan air.”
Aku mengangguk. “Aku mau beli sepatu petualang.”
Kami tertawa kecil.

Kadang, sebelum benar-benar tertidur, aku menatap langit-langit bambu panti. Di luar, suara ombak terdengar lembut. Aku teringat pantai, bintang laut, dan mutiara perak kecil di tangan kami.
Aku tidak memikirkan hal lain. Besok pagi kami akan bangun lagi, dan laut akan tetap menunggu di tempatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana