Bertarung dan Bertarung

 Aku lupa tepatnya kapan semua itu mulai terasa begitu cepat.

Mungkin sudah tiga bulan sejak hari ketika aku dan Joda membeli senjata pertama kami di bengkel Paman Nanu. Aku masih ingat suara denting logam di dalam bengkelnya, bau besi panas dan minyak mesin yang menempel di udara. Pedang baja pendekku tergantung di dinding, berkilau di bawah cahaya obor, sementara Joda sibuk menimbang kapak baja kecilnya di tangan seperti sedang memeriksa berat sepotong buah. Kami sama-sama senang, terlalu senang bahkan, sampai tidak bisa berhenti tersenyum.


Setiap pagi sejak hari itu, kami membawa senjata kami kemana pun. Pedangku kubungkus kain agar tidak berkarat, tapi aku selalu mengintipnya, memastikan kilat logamnya masih utuh. Kadang aku mencabutnya diam-diam di halaman belakang panti, menebas udara kosong sambil menirukan gerakan para petualang dewasa di buku pandita. Pandita Ruben tidak pernah melarang, selama aku tidak membuat keributan saat anak-anak lain berdoa.


Joda lebih berisik. Dia sering memukul batang pohon kelapa dengan sisi tumpul kapaknya sambil tertawa keras. Katanya, supaya kapaknya “mengenal rasa pukul yang sesungguhnya”. Aku tidak tahu apakah benar, tapi hasilnya Joda memang makin kuat. Setiap kali kami berlatih bersama, tangannya bisa menahan pukulanku dengan lebih mantap daripada sebelumnya.


Pagi-pagi sekali, sebelum matahari muncul sempurna, kami sudah berlari ke pantai karang. Pasir di sana kasar, sedikit menyakitkan di telapak kaki, tapi anginnya segar. Ombak menyapu karang, meninggalkan busa putih dan aroma asin yang menempel di hidung. Kami memulai latihan di sana — bukan latihan resmi, hanya permainan yang kami sebut “menebas angin”.


Kami berdiri saling berhadapan, pedangku melawan kapak Joda. Kami berdua menahan tawa, lalu saling menyerang perlahan, berhenti setiap kali salah satu dari kami kehilangan keseimbangan. Kadang pedangku terantuk karang dan percikan kecil air laut membasahi wajahku. Kadang Joda terpeleset dan jatuh ke pasir. Kami selalu tertawa keras-keras, seperti dua bocah yang belum mengerti apa itu bahaya.


Tapi di balik tawa itu, kami sebenarnya belajar banyak.

Tentang bagaimana menahan senjata dengan benar, kapan harus mundur satu langkah, kapan harus melompat ke samping. Kami tidak punya guru, hanya meniru gaya petualang yang kami lihat di serikat ketika mereka bertarung melawan monster tangkapan.


Semakin sering kami berlatih, gerakan kami semakin cepat. Aku mulai tahu cara memutar tubuh agar serangan tidak hanya kuat tapi juga sulit ditebak. Joda mulai menemukan cara menangkis seranganku tanpa harus mundur jauh. Kami tidak menghitung hari, tapi kami tahu bahwa kami sudah berbeda dari bocah panti biasa.


Siang hari, setelah latihan pagi, kami pergi berburu bintang laut biru.

Kadang di pesisir timur laut, di antara karang-karang kecil tempat air laut terjebak jadi kolam alami. Bintang laut biru sering bersembunyi di situ, menempel di dasar karang atau di punggung siput raksasa. Warnanya mencolok di bawah sinar matahari, biru muda dengan titik-titik perak di ujung lengannya.


Kami membawa tongkat dan jaring kecil. Kadang aku menusuk karang dengan tongkat untuk mengusir bintang laut agar bergerak. Saat mereka melayang perlahan di air, Joda akan menutup jaring dan menariknya cepat-cepat. Kadang berhasil, kadang tidak. Kadang kami hanya mendapat lumut laut atau kepiting kecil yang marah-marah.


Bintang laut biru tidak berbahaya, tapi kadang mereka menyemprotkan lendir lengket dari tubuhnya. Jika lendir itu kena kulit, akan terasa gatal dan panas selama beberapa menit. Kami sudah terbiasa, tapi masih sering menjerit setiap kali terkena. Joda selalu menertawakanku kalau aku menggosok tangan ke pasir karena gatal.


Jika beruntung, di dalam salah satu bintang laut itu kami menemukan mutiara perak. Bulat kecil, berkilau samar. Kami menyimpannya dalam kantong kain, lalu di sore hari pergi ke serikat untuk menukarnya. Lodra selalu menyambut kami di meja depan, rambutnya dikepang dua, senyumnya ramah. Dia menulis nama kami di buku besar, menimbang mutiara, lalu memberi kami tanda cap di token tabungan petualang.


Kadang aku mengintip ke dalam lemari kaca tempat semua token disimpan. Nama kami, “Basi” dan “Joda”, terpahat di permukaan kristal kecil itu. Setiap cap yang ditambahkan membuatnya berkilat sedikit lebih terang.

Aku tidak tahu kenapa aku suka melihatnya begitu lama, tapi rasanya seperti melihat diriku sendiri perlahan jadi seseorang yang lebih kuat.


Malamnya, kami sering berbaring di atap panti asuhan, menatap bintang. Pandita Ruben kadang memanggil kami turun karena udara malam terlalu dingin, tapi kami pura-pura tidak dengar. Dari atas sana, suara ombak terdengar lembut, dan angin dari laut membawa aroma garam.


Hari-hari berikutnya berjalan seperti itu, cepat dan ringan.

Kami berdua semakin cepat menebas dan menangkis. Aku mulai bisa memutar pedang di udara tanpa kehilangan keseimbangan. Joda mulai bisa melompat mundur sambil menangkis serangan. Kami belajar memanfaatkan tenaga, agar tidak lelah terlalu cepat.


Kadang kami bertarung dengan anak-anak panti lainnya, tentu dengan tongkat kayu, bukan senjata baja. Mereka bersorak-sorai, membuat arena kecil di halaman belakang kuil. Pandita Ruben hanya menonton dari jauh sambil tersenyum kecil. Tidak pernah marah, asalkan kami tidak menyakiti satu sama lain.


Dari latihan itu, aku belajar bahwa bertarung tidak hanya soal siapa yang lebih kuat, tapi juga siapa yang bisa bertahan paling lama. Kadang aku pura-pura lemah untuk mengelabui Joda, dan itu berhasil. Kadang Joda memancingku maju agar aku kehilangan keseimbangan. Kami saling tertawa setelahnya.


Musim berubah perlahan. Angin laut terasa lebih hangat, pohon kelapa di tepi desa mulai berbunga. Suatu pagi, ketika kami selesai membersihkan halaman kuil, Pandita Ruben memberi kami sepotong roti madu dan berkata, “Kalian tumbuh cepat, tapi jangan lupa sarapan.” Kami tertawa saja, lalu berlari ke pantai dengan pedang dan kapak tergantung di punggung.


Hari itu, air laut surut lebih jauh dari biasanya. Banyak batu karang yang biasanya tertutup air kini terlihat jelas. Di antara batu-batu itu, kami melihat gerakan kecil — udang jenggo muda.

Tubuhnya berwarna perak kehijauan, capitnya besar, dan matanya berkilat seperti kaca. Kami tahu, udang jenggo yang besar bisa menembakkan letusan udara dari capitnya. Tapi yang kecil biasanya hanya bisa mengeluarkan suara “pop” pelan.


Kami mendekat perlahan. Aku menyiapkan pedang, Joda menurunkan kapaknya. Udang itu memutar tubuhnya, seolah siap menyerang.

Aku menunggu momen yang tepat, lalu mengayunkan pedangku ke arah capitnya. Air memercik. Tapi aku meleset. Udang itu menyemprotkan letusan kecil yang membuatku mundur satu langkah. Joda menangkis percikan itu dengan gagang kapaknya, dan kami berdua tertawa.


“Cepat banget!” katanya.

“Kayak peluru!” jawabku.


Kami mencoba lagi dan lagi, tapi udang jenggo selalu lebih cepat dari perkiraan.

Setiap kali kami menyerang, ia melompat ke samping, menembakkan letusan udara kecil. Kadang mengenai kaki kami, membuat perih. Tapi kami tidak menyerah. Hari itu kami belajar bahwa menangkis bukan hanya dengan kekuatan, tapi juga dengan waktu yang tepat.


Setelah berkali-kali gagal, akhirnya Joda berhasil menebas capit udang itu dengan pukulan samping. Aku langsung menusukkan pedang ke tubuhnya sebelum ia melarikan diri. Air laut berubah keruh sebentar, lalu tenang kembali.

Kami menatap udang itu diam-diam. Tubuhnya besar, seukuran lengan bawahku. Dagingnya tebal dan berbau asin.


Kami membawa pulang tangkapan itu ke panti, dan Pandita Ruben memasaknya untuk makan malam. Rasanya manis dan lembut. Semua anak panti bersorak gembira. Kami duduk berdesakan di meja panjang, makan sampai kenyang.


Sejak hari itu, kami sering berburu udang jenggo muda.

Mereka tidak mudah ditangkap, tapi setiap kali kami berhasil, kami merasa seperti juara. Di setiap perburuan, gerakan kami semakin terlatih. Aku bisa menangkis letusan udara dengan bilah pedang tanpa kehilangan pegangan. Joda bisa memukul cepat sebelum lawan bergerak.


Kami mulai membuat nama kecil di desa. Beberapa orang memanggil kami “petualang kecil panti suci”. Nenek Jala di toko peralatan sering memberi kami tali baru atau batu asah kecil sebagai hadiah. Lodra selalu tersenyum setiap kali kami datang ke serikat, wajahnya sedikit bangga.


Waktu berjalan begitu saja.

Aku tidak tahu kapan kami mulai begitu cepat. Saat berlatih di pantai, kadang pedangku berkilat terlalu cepat untuk kulihat sendiri. Saat Joda menyerang, aku bisa merasakan angin lewat di pipiku sebelum bilah kapaknya sampai. Kami mulai membuat gerakan sendiri — tusuk cepat ke depan, putar badan, lalu tebas dari sisi kiri. Kami menamai gerakan itu “putaran laut”.


Setiap kali kami melakukannya bersamaan, pasir beterbangan.

Kami tidak tahu apakah itu teknik yang bagus, tapi kami menyukainya. Karena setiap kali kami bergerak begitu cepat, dunia di sekitar terasa pelan. Ombak, angin, dan burung camar seakan diam sebentar, menonton kami berdua.


Hari-hari itu terasa panjang tapi ringan. Kami berdua tidak pernah berbicara tentang masa depan atau cita-cita. Kami hanya ingin berburu lebih banyak, menabung lebih banyak, dan menjadi lebih cepat.

Aku suka memandangi pedangku setiap malam sebelum tidur. Cahaya bulan jatuh di bilahnya, memantul lembut di dinding panti. Aku tidak pernah bosan melihatnya.


Kadang aku mendengar suara laut dari kejauhan, dan aku tahu, esok pagi aku akan ke sana lagi bersama Joda.

Kami akan berlari di pasir, menebas angin, menangkis percikan ombak, dan terus melatih gerakan kami sampai tubuh kami lelah. Tapi entah kenapa, rasa lelah itu selalu terasa menyenangkan.


Mungkin karena kami berdua tidak lagi hanya anak panti asuhan.

Kami adalah dua bocah yang terus bergerak, menari di antara ombak dan angin, tanpa tahu sedang menuju ke mana.


Dan setiap kali matahari tenggelam, langit jingga di atas desa selalu terasa seolah ikut tersenyum melihat kami — dua anak kecil dengan senjata baja, menebas dunia yang terasa begitu luas dan biru.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana