Dampak Serangan Bandit

 Desa Jingga pagi itu seperti kehilangan warna. Bau asap masih tersisa di udara, samar-samar bercampur dengan aroma kelapa hangus dan lumpur basah. Jalan utama desa berubah jadi lorong abu, rumah-rumah yang kemarin berdiri dengan atap daun rumbia kini tinggal rangka kayu gosong.

Basi dan Joda duduk di depan panti asuhan, diam. Di pangkuan Basi, pedangnya yang dulu berkilat kini retak di sisi bilah. Kapak kecil Joda tergeletak di tanah, penuh noda hitam sisa darah yang sudah mengering. Mereka berdua tak banyak bicara sejak fajar tadi—mungkin karena belum sempat benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.

Pandita Ruben berjalan perlahan menyusuri jalan tanah, memeriksa satu per satu rumah yang masih bisa diselamatkan. Serikat sihir mengirim beberapa orang pagi-pagi sekali, dipimpin oleh Lodra sendiri. Mereka datang membawa gulungan sihir pelindung dan peti kayu penuh ramuan. Di leher mereka tergantung kristal penerang yang berdenyut lembut.

“Bandit dari arah timur,” kata salah satu penyelidik serikat, seorang perempuan muda dengan jubah hijau. “Jejak kuda mereka masih segar di tepi hutan kelapa Sanura. Tapi aneh… tidak ada tanda-tanda mereka membawa jarahan.”

Lodra mengangguk tanpa menjawab. Matanya menyapu sekitar, menatap bekas bentrokan di tanah—jejak sepatu, goresan pedang, sisa busur patah. Ia berhenti tepat di depan Basi dan Joda.

“Kalian berdua yang pertama melawan, ya?” suaranya pelan tapi tegas.

Basi mengangguk. “Kami mencoba, Tuan. Mereka membakar lumbung dan menyerang para petani. Kami hanya—”

“Aku tahu,” potong Lodra. “Kalian sudah melakukan yang benar.”
Tapi nada suaranya berat, seolah ada sesuatu yang belum selesai.

Di belakang mereka, anak-anak panti sibuk membantu memindahkan perabotan yang masih utuh. Beberapa perempuan desa menimba air dari sumur untuk memadamkan bara terakhir. Pandita Ruben duduk bersila di tanah, merapalkan mantra penenang agar desa tidak diliputi ketakutan.

Siang hari, penyelidikan dimulai. Serikat mencatat setiap kerusakan: tiga rumah terbakar, satu gudang lumbung rusak, dua ternak hilang, dan empat penduduk terluka ringan. Tapi yang paling membuat resah bukanlah kerugian itu—melainkan fakta bahwa bandit-bandit itu meninggalkan tanda aneh di pagar panti: lambang tiga garis melingkar seperti cakar.

“Itu bukan simbol perampok biasa,” gumam Lodra, memegang ukiran hangus itu. “Mereka mencari sesuatu.”

Joda menatapnya. “Sesuatu seperti apa?”

Lodra tak menjawab. Ia hanya memandangi mereka berdua lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.

Sore menjelang. Serikat mendirikan pos sementara di halaman balai desa. Setiap warga dipanggil untuk memberi keterangan. Basi dan Joda duduk menunggu giliran, memegangi luka di tangan yang masih perih. Sesekali Joda melirik pedangnya yang retak.

“Basi,” katanya pelan, “kalau mereka datang lagi, kita masih bisa melawan?”

Basi menatap langit yang mulai memerah. “Entahlah. Tapi kita akan tetap di sini. Desa ini rumah kita.”

Ketika malam turun, Pandita Ruben mengumpulkan semua warga di panti asuhan. Ia menyalakan lentera besar di tengah ruangan, lalu berbicara dengan suara lembut namun tegas.

“Desa Jingga sudah beberapa kali menghadapi bahaya,” katanya. “Dulu dari binatang sihir, kini dari manusia. Tapi yang membuat kita tetap hidup adalah satu hal—kita saling menjaga.”

Semua orang diam. Hanya suara api yang berderak dari tungku dapur di pojok ruangan.

Lodra berdiri di samping Ruben, lalu menambahkan, “Serikat akan mengawal desa selama beberapa minggu ke depan. Tapi aku ingin dua orang muda tetap berlatih. Basi, Joda—kalian sudah membuktikan keberanian kalian, tapi keberanian tanpa kendali bisa membawa celaka. Mulai besok, kalian akan berlatih di bawah pengawasan langsungku.”

Mata Joda membulat. “Serius, Tuan?”

Lodra tersenyum tipis. “Serius. Dan kalian akan mulai dari dasar lagi. Bukan untuk bertarung, tapi untuk melindungi.”

Basi hanya mengangguk. Dalam dadanya ada rasa campur aduk—antara bangga, takut, dan lelah. Tapi di balik semua itu, ada api kecil yang tumbuh lagi. Api yang sama seperti saat pertama kali ia memegang tongkat pemukul kayu di serikat dulu.

Malam itu, saat semua orang tidur, Basi berjalan keluar ke halaman panti. Hujan tipis turun, membasuh abu dan debu sisa kebakaran. Ia memandang ke arah hutan Sanura yang gelap di kejauhan. Dari sana, suara-suara aneh kadang terdengar—seperti bisikan, seperti napas panjang bumi.

“Masih ada yang belum selesai,” gumamnya.

Ia memejamkan mata, merasakan luka di tangan, ingatannya kembali pada kilatan pedang bandit yang nyaris mengenai leher Joda. Ia tahu, serangan itu bukan yang terakhir. Tapi kini ia juga tahu: mereka tak lagi anak-anak kecil yang cuma berburu bintang laut biru. Mereka sudah melewati rawa, babi hutan, racun kodok, dan kini… manusia.

Di kejauhan, Lodra berdiri di bawah pohon kelapa, memperhatikan dari jauh. Dalam genggamannya, ia memegang potongan kecil logam hitam yang diambil dari pagar desa—sisa simbol cakar itu. Logam itu hangat, seperti masih menyimpan sisa sihir. Ia menyimpannya ke dalam saku dan berbisik pada dirinya sendiri,
“Musuh yang satu ini bukan hanya bandit.”

Dan malam Desa Jingga kembali tenang, untuk sementara. Tapi di balik keheningan itu, semua orang tahu: badai yang lebih besar sedang menunggu di luar sana.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana