Hari Kami Menjadi Petualang
Umur sepuluh tahun adalah umur penting di Desa Jingga. Itu umur ketika anak-anak boleh mendaftar sebagai petualang resmi tingkat dasar di bawah pengawasan Serikat Sihir Magdripa cabang Desa Jingga. Setiap anak yang mendaftar akan mendapat tongkat pemukul kayu resmi, selembar surat izin magang petualang, dan lencana kecil dari logam tembaga berbentuk matahari bersayap.
Hari itu, aku dan Joda bangun lebih pagi dari biasanya. Langit masih berwarna ungu kebiruan, dan kabut tipis turun dari hutan cemara di selatan. Udara terasa asin karena angin laut meniup masuk sampai ke halaman kuil. Pandita Ruben sudah berdiri di aula ketika kami keluar kamar, seperti tahu kami tak bisa tidur semalaman.
“Kalian sudah sepuluh tahun,” katanya tanpa menoleh. Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat jantungku bergetar kecil. “Kalau ingin mendaftar, pergilah setelah sarapan. Tapi jangan kembali dengan luka bodoh.”
Kami mengangguk cepat. Joda hampir tersedak roti kelapa karena terburu-buru menelan. Aku menyambar tas kulit kecil tempat menyimpan bekal nasi kelapa dan garam laut. Pandita hanya tersenyum tipis dan memberkati kami dengan menorehkan abu dupa di dahi. Lalu kami berlari keluar kuil.
Desa sudah mulai hidup. Suara ayam rawa dari tenggara bersahutan, dan para nelayan baru kembali dari pantai karang dengan jaring basah menggantung di bahu. Kami melewati kios paman Haha, yang baru membuka tirai bambu tokonya. “Hei, calon petualang kecil!” teriaknya. “Jangan pulang menangis!” Kami hanya melambai sambil tertawa.
Bangunan serikat sihir terletak di sisi barat desa, dekat jalur menuju pelabuhan kecil. Gedungnya tidak besar, tapi dinding batu putihnya mengkilap, dan lambang serikat—matahari bersayap—terpahat di atas pintu. Di depan pintu berdiri papan pengumuman besar berisi misi-misi petualang. Di antara tulisan-tulisan itu, ada banyak nama yang kami kenal: paman Nanu, abang Lazar, bahkan Jihan peternak banteng kadang ikut misi perburuan babi hutan jingga.
Di dalam, suasananya ramai dan bau logam bercampur dengan aroma tinta. Beberapa petualang muda duduk di meja panjang, memeriksa peta dan menimbang batu sihir. Aku menelan ludah—rasanya seperti melangkah ke dunia yang selama ini hanya kulihat dari jauh.
“Basi, Joda!” suara lembut memanggil kami dari balik meja administrasi. Itu Lodra, gadis petugas serikat. Rambutnya panjang dan diikat rapi dengan pita merah. Di dadanya tersemat lencana perak berbentuk bulan. “Sudah siap mendaftar?” tanyanya sambil tersenyum.
Joda menjawab lebih dulu, “Sudah, Kak Lodra! Kami sudah sepuluh tahun! Hari ini hari pertama kami jadi petualang!”
Lodra tertawa kecil. “Kalau begitu, isi formulir ini dulu,” katanya sambil menyerahkan dua lembar kertas tipis dan pena bulu. Tanganku gemetar sedikit saat menulis namaku: Basi, Panti Asuhan Kuil Suci, umur 10 tahun. Di kolom “Tujuan menjadi petualang” aku menulis: Ingin melihat dunia luar.
Setelah itu, kami berdiri di depan meja untuk pengambilan tongkat kayu. Tongkatnya panjang sekitar dua kali lengan, terbuat dari kayu cemara jingga yang ringan tapi kuat. Ujungnya dililit kain biru muda.
“Ini bukan senjata untuk membunuh,” kata Lodra. “Ini untuk belajar. Tongkat ini tahu kalau pemiliknya niat jahat—kalau niatmu buruk, ia akan terasa berat seperti batu.”
Aku menggenggamnya kuat-kuat. Kayunya hangat, seolah hidup. Di pergelangan tanganku, ia terasa seperti denyut kecil yang menular ke jari-jari. Joda langsung berpose seperti prajurit, membuat semua orang di ruang itu tertawa.
Sebelum kami pergi, Lodra menunduk sedikit dan berbisik, “Kalian belum perlu mengambil misi resmi dulu. Cobalah berlatih dulu di pantai timur laut. Tapi hati-hati dengan bintang laut biru, mereka bukan mainan.”
Kami mengangguk bersamaan.
Keluar dari gedung serikat, kami menatap lencana kayu kami yang berkilat di bawah matahari pagi. Rasanya seperti memiliki dunia kecil di dada. “Sekarang kita resmi,” kata Joda bangga. “Resmi jadi petualang!”
Kami bersorak pelan, lalu berlari ke arah pantai timur laut.
--
Perjalanan ke pantai timur laut memakan waktu hampir satu jam berjalan kaki. Jalan setapak melintasi perkebunan kelapa Sanura dan ladang rumput tempat kambing liar berkeliaran. Di kejauhan, laut bersinar seperti kaca. Semakin mendekat, suara ombak mulai terdengar, diikuti oleh aroma garam dan rumput laut kering.
Pantai itu disebut Pesisir Mutiara, karena di sinilah bintang laut biru tinggal. Pasirnya putih keperakan, dan batu-batu karang biru muda tersebar seperti pulau-pulau kecil. Air lautnya dangkal, sampai mata kaki, dan di dasar air terlihat gerakan perlahan—bintang laut biru dengan tubuh berkilau seperti kaca basah. Mereka bergerak dengan lima lengan gemuk, menempel di batu karang, kadang mengeluarkan bunyi halus seperti dengusan.
Kami berdiri diam sebentar, mengagumi pemandangan itu. Langit biru bersih, dan burung camar berputar di atas kepala.
“Bagaimana kalau mulai dari yang kecil?” kataku.
“Yang kecil tidak punya mutiara perak,” jawab Joda cepat. “Kita ambil yang agak besar. Kalau dapat satu saja, bisa dijual sepuluh keping tembaga. Kita bisa beli roti kelapa tante Rarana setiap hari selama seminggu!”
Aku tertawa. “Kalau begitu, kau yang ambil duluan.”
Joda menyipitkan mata dan memutar tongkatnya. “Lihat dan belajar.”
Ia melangkah pelan ke arah seekor bintang laut besar yang sedang menempel di batu. Air laut memantulkan bayangannya seperti kaca. Saat tongkatnya hampir menyentuh, bintang laut itu bergerak cepat—lebih cepat dari yang kuduga—dan mengeluarkan semburan air dari tubuhnya.
“WAH—!” Joda terpental mundur dan jatuh ke pasir. Air menyiprat ke wajahku. Bintang laut itu memancarkan cahaya biru, lalu bergerak ke arah kami dengan lengan-lengan yang bergetar seperti cambuk.
Aku panik, tapi tongkat di tanganku terasa berdenyut lagi—hangat, berat, lalu ringan. Aku mengangkatnya dan memukul satu lengan bintang laut itu. Bunyi “BLAP!” terdengar, dan percikan cahaya biru keluar. Bintang laut itu bergetar dan berhenti sebentar, lalu merayap mundur ke laut.
Kami berdua berdiri, napas memburu.
“Itu luar biasa!” kata Joda, matanya membesar. “Kau lihat pukulanmu barusan?!”
Aku tidak menjawab. Tanganku gemetar, tapi bukan karena takut. Aku merasa aneh—seperti sesuatu di dalam tongkat itu merespons keberanianku.
Setelah itu kami berlatih selama berjam-jam. Kadang berhasil, kadang tidak. Kadang bintang laut terlalu kuat dan kami lari terbirit-birit. Tapi setiap kali berhasil membuat satu pingsan, kami membalik tubuhnya dan mencari mutiara perak di dalamnya. Warnanya seperti bulan kecil yang beku, dingin kalau disentuh.
Menjelang sore, kami sudah mendapat tiga mutiara. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuktikan kami bukan anak-anak biasa lagi. Kami duduk di atas batu, memandangi laut yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.
“Kalau kita dapat sepuluh,” kata Joda, “aku mau beli pedang kayu dari toko nenek Jala.”
Aku mengangkat mutiara ke arah matahari. Cahaya sore menembusnya, membuat bayangan cahaya menari di wajahku. “Aku mau simpan satu untuk pandita Ruben,” kataku. “Sebagai ucapan terima kasih.”
Joda memutar matanya. “Kau selalu terlalu serius, Basi.”
“Tapi tanpa dia, kita mungkin masih menyapu halaman kuil.”
Joda mengangkat bahu. “Mungkin. Tapi sekarang kita petualang.” Ia menatap ke laut, matanya bersinar. “Petualang resmi tingkat dasar.”
Angin laut meniup rambut kami. Ombak kecil berlarian di kaki. Di kejauhan, perahu nelayan pulang dengan layar jingga, dan burung camar menjerit pulang ke sarangnya.
Kami tidak bicara lagi sampai matahari hampir tenggelam. Laut berwarna emas, dan bintang laut biru memantulkan cahaya itu di bawah air seperti ribuan lentera kecil. Dunia terasa luas, dan untuk pertama kalinya aku merasa aku bisa menjadi bagian darinya.
--
Saat kami kembali ke desa, langit sudah merah tua. Kami menyerahkan tiga mutiara itu ke meja penukaran serikat. Lodra menatap kami dengan ekspresi setengah bangga, setengah khawatir.
“Kalian sungguh pergi ke Pesisir Mutiara, ya?” tanyanya.
“Ya!” jawab Joda dengan dada membusung. “Kami melawan tiga bintang laut biru! Basi bahkan memukul satu sampai kabur!”
Aku merasa pipiku panas. “Kami hanya berlatih,” kataku cepat.
Lodra tertawa, tapi matanya lembut. “Baiklah. Ini uangnya.” Ia menyerahkan tiga puluh keping tembaga —hasil dari tiga mutiara. “Tapi ingat, jangan terlalu sering ke sana. Kadang bintang laut biru yang besar bisa muncul, dan mereka tidak suka anak-anak yang berisik.”
Kami mengangguk.
Sebelum pulang, Lodra mengeluarkan dua potong roti kelapa dari laci. “Hadiah dari serikat untuk petualang termuda Desa Jingga,” katanya sambil tersenyum.
Kami berterima kasih dan berjalan pulang melewati jalan berbatu yang mulai dingin oleh embun. Di langit, bintang-bintang pertama muncul, dan bulan mulai naik dari arah Samudra Kuning.
Joda menggigit rotinya. “Aku ingin hari seperti ini tidak berakhir.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap lencana kayu di dada, terasa hangat dalam cahaya bulan. Di bawahnya, kuil suci terlihat jauh tapi hangat, lampu dupa menyala di jendela.
Aku berpikir, mungkin inilah awal dari sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa. Yang kutahu hanya satu: aku, Basi, anak yatim piatu dari Kuil Suci Desa Jingga, kini seorang petualang resmi—dan malam itu, dunia terasa baru dan belum punya ujung.
Comments
Post a Comment