Kisah Basi dari Desa Jingga

 

Namaku Basi. Umurku sepuluh tahun. Aku tinggal di panti asuhan Kuil Suci Desa Jingga. Atapnya dari batu jingga yang dipoles, seperti kulit buah jeruk yang sudah kering, dan dindingnya dingin di malam hari. Lantai kamarku terbuat dari papan kelapa tua yang kadang berderit kalau diinjak pelan-pelan. Setiap pagi, cahaya matahari menembus jendela kecil di atas ranjangku dan membuat garis kuning di lantai, seperti tali cahaya yang mengikat waktu agar aku bangun.

Pandita Ruben yang mengasuh kami selalu bangun lebih dulu. Aku tidak tahu kapan tepatnya ia tidur, karena setiap kali aku membuka mata di malam hari, ia duduk di aula kuil sambil membaca kitab tebal dengan tulisan berwarna emas. Pandita Ruben bukan orang yang galak, tapi suaranya berat dan dalam, seperti air sungai yang lambat. Kalau kami membuat ulah, ia tidak marah, hanya diam lama dan menatap kami, dan entah bagaimana, diamnya itu lebih menakutkan daripada teriakan.

Katanya aku anak petualang yang gugur dalam perang besar melawan ekspansi Kekaisaran Sihir Amaresh. Kepala desa kami, Pak Hanom, yang bilang begitu suatu kali. Ia berbicara di depan anak-anak panti waktu upacara peringatan pahlawan. “Orangtua Basi gugur sebagai pahlawan. Mereka menyelamatkan banyak orang,” katanya. Semua orang bertepuk tangan waktu itu. Aku juga ikut, tapi bukan karena sedih atau bangga—lebih karena aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak ingat wajah mereka. Tapi aku tidak merasa kehilangan. Aku hanya berpikir, kalau mereka pahlawan, mungkin mereka tidak sempat mengajariku apa-apa karena sibuk berperang.

Sahabatku namanya Joda. Umurnya sama denganku. Kami tidur di ranjang yang bersebelahan. Joda punya rambut hitam ikal dan mata yang seperti sedang bercanda, bahkan waktu dia diam. Kalau kami dihukum untuk membersihkan halaman kuil, dia selalu bisa membuatnya jadi permainan. “Siapa yang paling cepat sapunya bisa bikin debu terbang paling tinggi!” katanya. Aku tidak pernah menang. Tapi dia juga tidak pernah benar-benar menang, karena debu yang kami buat selalu ditiup angin laut dari utara.

Desa Jingga berdiri di tepi pantai yang panjang. Kalau pagi, langitnya berwarna oranye pucat dan lautnya berkilau seperti logam cair. Orang-orang di sini bilang laut itu bernama Samudra Kuning. Aku tidak tahu kenapa disebut kuning, karena bagiku warnanya biru, tapi kalau matahari hampir tenggelam, airnya memang seperti emas yang meleleh. Kadang kami bermain di pantai setelah membersihkan kuil. Joda suka mengumpulkan kerang dan menaruhnya di kepala seperti mahkota. Aku lebih suka duduk di batu besar dekat pohon kelapa, mendengarkan ombak pecah dan suara camar.

Di timur laut desa, ada pesisir tempat mahluk sihir bintang laut biru tinggal. Kami tidak diizinkan mendekat ke sana, tapi kadang anak-anak nakal seperti Joda mengajak melihat dari jauh. Bintang laut itu bisa berjalan seperti kepiting, dan di dalam tubuhnya ada mutiara perak yang katanya bisa menyimpan cahaya bulan. Suatu kali kami menemukan satu yang terdampar, tubuhnya dingin dan lembek. Waktu disentuh, warnanya perlahan pudar jadi abu-abu, dan mutiara di dalamnya bersinar sebentar sebelum mati. Pandita Ruben bilang, “Mutiara itu bukan untuk manusia, Basi. Cahaya yang bukan milik kita akan membuat kita lupa pada cahaya sendiri.” Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku mengangguk saja.

Timur desa adalah hutan kelapa Sanura. Pohonnya tinggi dan daunnya panjang seperti cambuk. Di sana tinggal mahluk sihir tupai besar berekor bulat. Kalau malam, kadang mereka turun ke desa mencari buah kelapa muda. Kami bisa mendengar suara mereka dari kuil, seperti suara kayu yang beradu cepat. Para petualang sering memburu mereka karena bulunya bisa dijadikan bahan pakaian yang kuat tapi ringan. Aku pernah melihat paman Budru, penjahit desa, membuat mantel dari bulu tupai itu—warnanya seperti awan sore, abu-abu keunguan, lembut sekali. Aku menyentuhnya diam-diam waktu ia menjemur di depan rumah. Rasanya seperti menyentuh kabut.

Tenggara desa adalah rawa-rawa Sanura. Di sanalah mahluk sihir ayam hutan rawa tinggal. Mereka punya bulu hijau zamrud dan paruh yang keras. Daging dan telurnya sering dimasak oleh tante Rarana di kedainya. Kadang juga ada kodok hijau besar yang bisa memuntahkan cairan asam, tapi orang bilang dagingnya berkhasiat obat. Joda pernah ingin menangkap satu kodok untuk dijual ke paman Haha, tapi ia malah terpeleset ke lumpur dan pulang dengan bau rawa yang membuat semua anak panti kabur darinya.

Di selatan, hutan cemara Jingga membentang sampai ke perbukitan. Kalau musim dingin datang, kabut dari hutan itu mengalir ke desa seperti ombak terbalik. Di sana hidup babi hutan jingga, binatang sihir yang buas tapi pintar. Gadingnya panjang, melengkung seperti sabit, dan kulitnya dipakai para petualang membuat pelindung tangan. Kadang suara mereka terdengar di malam hari, mendengus dan menghantam pohon. Paman Nanu, pandai besi, bilang kalau gadingnya bisa dijadikan pegangan pedang yang kuat karena mengandung logam alami.

Barat daya desa adalah jalur perdagangan besar benua utara, jalur perdagangan timur laut namanya. Di sana sering lewat rombongan kuda, pedati, dan kapal darat besar dengan roda besi. Pedagang-pedagang koko dari kota Magrova sering singgah ke desa membawa barang-barang seperti gula batu, kain sutra, dan sabun wangi. Mereka juga membeli hasil laut dari nelayan kami, terutama daging udang jenggo dari pantai karang barat laut. Udang itu bukan udang biasa; capitnya bisa menembakkan letusan udara yang bisa memecah batu kecil. Aku pernah melihat satu diangkut ke pasar, tubuhnya sebesar anjing dan matanya bercahaya biru redup. Dagingnya mahal, dan katanya kalau dimasak dengan rempah dari Rawa Sanura, rasanya bisa bikin orang lupa sedih.

Di barat desa ada reruntuhan kerajaan Amaresh kuno. Orang-orang bilang itu tempat berbahaya, masih ada sisa sihir gelap yang menempel di batu-batunya. Tapi dari jauh, reruntuhan itu terlihat seperti gigi raksasa yang patah—tajam dan kelam. Kadang asap hitam tipis keluar dari sela bebatuan, dan malam hari, kalau bulan purnama, suara aneh terdengar seperti nyanyian tanpa kata. Pandita Ruben melarang kami ke sana, bahkan hanya untuk melihat. Tapi kadang aku bertanya-tanya apakah ayahku dulu pernah bertempur di sana. Kalau iya, mungkin bekas langkahnya masih ada di antara batu-batu itu.

Desa Jingga sendiri ramai tapi tenang. Di tengahnya ada alun-alun kecil tempat orang berkumpul kalau ada pesta. Di sisi timur alun-alun berdiri toko peralatan petualang milik nenek Jala, perempuan tua dengan rambut putih panjang yang diikat dengan pita biru. Ia nenek dari Lodra, gadis petugas administrasi di serikat sihir cabang desa kami. Nenek Jala suka menepuk bahuku kalau aku mampir dan bilang, “Kau akan jadi petualang hebat, Basi. Aku tahu dari cara kau melihat pedang.” Padahal aku tidak pernah memegang pedang sungguhan. Tapi aku suka mengamati bentuknya—logam yang berkilat dan gagangnya yang berukir simbol-simbol sihir.

Kepala desa kami, Pak Hanom, rumahnya di dekat menara pos. Ia gemuk dan punya suara seperti drum besar. Kalau berjalan, jubahnya bergoyang seperti bendera. Ia suka membagi-bagikan kelapa muda dari perkebunan Paman Lanos pada anak-anak. “Biar kuat seperti prajurit Amaresh,” katanya. Aku tidak tahu apakah prajurit Amaresh yang sekarang atau yang dulu, tapi aku minum saja karena rasanya manis.

Di dekat pantai ada penginapan tante Aimar, kedai makan tante Rarana, toko serba ada paman Haha, dan bengkel paman Nanu. Paman Nanu paling sering memanggilku. “Basi, ambilkan palu yang besar, bukan yang kecil itu!” katanya sambil memukul besi panas. Aku suka melihat percikan api dari logamnya, seperti hujan bintang kecil. Katanya kalau aku rajin membantunya, suatu hari aku boleh membuat pisau sendiri. Aku tidak tahu untuk apa pisau itu nanti, tapi aku ingin punya satu.

Setiap sore, abang Genta dari serikat pos benua utara datang ke kuil. Ia membawa tas besar berisi surat-surat. Kadang ada surat untuk pandita Ruben dari kota Magrova. Aku suka mendengarkan cerita abang Genta tentang perjalanan lewat jalur perdagangan. Katanya, di Magrova ada menara sihir setinggi gunung yang dijaga naga emas. Aku tidak tahu apakah itu benar, tapi aku suka membayangkannya—naga emas yang melingkar di puncak menara dan mengintip dunia dengan mata sebesar kuali.

Penduduk desa lain juga ramah. Paman Lanos di kebun kelapa selalu mengizinkan kami memungut buah yang jatuh. Abang Lazar, pengumpul material, sering membawa pulang batu bercahaya dari pantai karang. Jihan, peternak, punya banteng hitam besar yang katanya bisa mengerti bahasa manusia kalau diajak bicara pelan-pelan. Aku dan Joda sering berdiri di pagar kandang dan mencoba berbicara dengan banteng itu. “Hei, apakah kau tahu siapa aku?” tanyaku waktu itu. Banteng itu hanya mengendus dan menjilat tanganku. Lidahnya kasar tapi hangat.

Malam hari di Desa Jingga adalah waktu paling indah. Dari halaman kuil, kami bisa melihat laut berkilau di bawah cahaya bulan. Kadang para nelayan masih terlihat sebagai titik lampu kecil di kejauhan. Udara asin bercampur dengan aroma dupa dari kuil. Pandita Ruben akan menyalakan lilin besar di aula dan membaca doa panjang. Kami duduk bersila di lantai, dan suaranya menggema di dinding batu. Setelah itu, kami diberi roti kelapa hangat dari dapur. Roti itu sederhana, tapi rasanya menenangkan.

Suatu malam, aku dan Joda memanjat menara lonceng kuil diam-diam. Dari atas, kami bisa melihat seluruh desa. Lampu-lampu rumah menyala seperti bintang yang jatuh di tanah. “Kalau aku besar,” kata Joda, “aku mau jadi petualang. Aku mau pergi ke kota Magrova dan lihat naga emas itu.” Aku menatap laut yang gelap dan berkata, “Kalau aku besar, aku mau tahu di mana ayah dan ibuku dikuburkan.” Joda diam lama, lalu menepuk bahuku. “Kalau kau tahu, aku ikut kau ke sana.”

Kami tertawa kecil karena angin hampir menjatuhkan kami. Lonceng di atas kami bergetar pelan, mengeluarkan suara dalam yang merambat ke dada. Di bawah, kuil tertidur dalam cahaya lilin. Aku tidak tahu apakah pandita Ruben tahu kami di atas, tapi esok paginya beliau hanya menatap kami sebentar waktu sarapan dan berkata, “Kalau kalian ingin melihat dunia dari atas, jangan lupa untuk turun dengan selamat.” Kami mengangguk, pura-pura tidak paham, tapi aku tahu beliau tahu.

Hari-hari berlalu seperti ombak yang datang dan pergi. Desa Jingga tetap sama—hangat, berisik di siang hari, tenang di malam hari. Kadang para petualang singgah ke desa, membawa cerita dari negeri jauh: tentang gunung yang bernyanyi, kota terapung, dan gurun yang berpendar saat malam. Aku selalu berdiri di tepi jalan, menatap mereka lewat. Jubah mereka berdebu, sepatu mereka kotor, tapi di mata mereka ada cahaya yang sulit dijelaskan—cahaya orang yang sudah melihat sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Joda selalu bilang, “Kita akan jadi seperti mereka nanti, Basi.” Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, dunia di luar desa pasti luas. Tapi untuk sekarang, aku masih ingin tinggal di sini—di kuil batu jingga yang hangat, di antara suara camar, dan di bawah langit yang setiap pagi mengubah laut menjadi emas.

Kadang aku berpikir, kalau ayah dan ibu bisa melihatku dari tempat mereka sekarang, mungkin mereka akan tersenyum. Tapi aku tidak tahu wajah mereka seperti apa, jadi aku membayangkan mereka seperti dua cahaya kecil yang berdiri di atas bukit, menatap ke laut yang sama denganku. Mungkin mereka juga dulu pernah duduk di pantai ini, memandangi Samudra Kuning, dan berharap sesuatu yang sederhana: agar dunia tidak lupa pada tempat kecil bernama Desa Jingga.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana