Kodok Beracun
Rawa Sanura tidak pernah sunyi, tapi malam-malam terakhir ini, suaranya berubah. Biasanya hanya terdengar kodok hijau bernyanyi atau ayam rawa berkokok, tapi sekarang, dari kejauhan, suara blub-blub aneh bergema seperti sesuatu yang berat dan berlendir sedang menyeret tubuhnya di air.
Lodra yang pertama kali mendengar kabar itu dari para pemetik akar hutan. Katanya, rawa bagian timur sekarang dipenuhi kodok ungu, makhluk sihir baru yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka lebih besar dari kodok hijau, kulitnya licin seperti minyak, dan yang paling berbahaya—racunnya bisa membuat kulit melepuh hanya dengan percikan kecil.
Pagi itu, ketika matahari baru naik dan udara masih basah, aku dan Joda dipanggil ke serikat. Lodra berdiri di belakang meja kayu besar, rambutnya diikat tinggi seperti biasa, dan wajahnya tampak serius. Di depannya, selembar peta rawa tergelar, penuh coretan arang dan tanda-tanda kecil.
“Ini misi resmi,” katanya, nada suaranya datar tapi tegas. “Kami butuh petualang yang mengenal rawa lebih baik dari siapa pun. Dan itu kalian berdua.”
Aku menelan ludah. “Kodok ungu itu benar-benar beracun, ya?”
“Ya. Cairannya bisa melukai kulit. Tapi kalian pernah berburu di sana berkali-kali, kalian tahu jalannya, tahu di mana mereka biasanya bersembunyi. Bawa jaring panjang dan gunakan pakaian pelindung kulit babi jingga yang kalian buat dulu itu.”
Joda menepuk dadanya. “Kami bisa.”
Lodra memandang kami lama. “Jangan terlalu percaya diri. Kalau bisa, hindari kontak langsung. Gunakan taktik. Sihir pelindung hanya bertahan sebentar di rawa yang lembap.”
Kami mengangguk, lalu mengambil perlengkapan dari serikat—dua jaring panjang berlapis getah pelindung, satu tongkat bambu berat, dan beberapa ramuan penyembuh dasar. Aku menatap gelangku, sementara Joda menggenggam cincin di tangannya.
Kami berangkat siang hari, saat kabut mulai menipis. Rawa Sanura terasa berbeda—lebih sunyi dari biasanya, lebih berat. Airnya memantulkan warna ungu samar, dan di beberapa tempat, aku bisa melihat gelembung besar muncul dari permukaan air, seperti sedang mendidih pelan.
“Lihat itu…” Joda menunjuk ke depan.
Seekor kodok ungu sebesar tempayan muncul perlahan, matanya besar dan berwarna perak kusam. Dari punggungnya keluar asap halus, dan ketika ia melompat, air yang terciprat ke batang pohon membuat kulit kayu melepuh dan menghitam.
Aku menarik napas. “Kita harus menyerang dari jarak jauh. Jangan biarkan cairannya kena kulit.”
Kami mulai bergerak pelan, memutari genangan air besar itu. Kodok itu tidak sendirian—ada tiga lagi, duduk diam seperti batu, tapi matanya mengikuti gerakan kami. Jaring panjang kami basah dan berat, tapi kami sudah terbiasa.
Aku memberi isyarat. Kami menunggu momen ketika satu kodok membuka mulutnya—dan di saat itu, aku berlari ke samping kiri, melempar jaring ke arah kepala kodok. Joda langsung menebas dari sisi lain, membelah air dengan kapaknya. Kodok itu menggelepar keras, menyemburkan cairan ke segala arah.
Kami menunduk, menghindar. Cairan itu jatuh ke air dan berbuih, memunculkan bau tajam seperti logam terbakar.
“Cepat! Tarik ke arah darat!” seruku.
Kami menarik jaring bersama-sama, menahan berat tubuh kodok yang menggeliat. Akhirnya, dengan satu hentakan besar, makhluk itu terhempas ke tanah berlumpur. Joda menebas sekali lagi, dan air sekitarnya mulai tenang.
Satu.
Tapi sebelum sempat bernapas lega, dua kodok lain meloncat mendekat. Aku melompat ke belakang, hampir terpeleset, sementara satu di antaranya menyemburkan lendir ungu langsung ke arah kami. Aku sempat mengangkat tongkat untuk menahan—dan cairan itu menetes di kayu. Dalam hitungan detik, bagian permukaannya menghitam dan berasap.
“Jangan biarkan kena kulit!” teriakku.
Joda berlari ke kanan, menyerang yang pertama, tapi yang kedua melompat ke arahku. Aku menjejak tanah, mengandalkan gelangku—dan tiba-tiba, gerakanku lebih cepat, cukup untuk menghindari semburan berikutnya. Aku memutar tubuh, menusuk perut kodok dengan ujung pedang. Ia menjerit aneh, suara seperti gelembung pecah di air.
Sisa siang itu berlalu dalam gerakan cepat dan lumpur yang berhamburan. Kodok-kodok itu terus berdatangan dari arah timur, seperti gelombang yang tak habis. Kami bekerja sama tanpa bicara—aku mengalihkan perhatian, Joda menyerang dari sisi lain. Setiap kali kami menebas satu, racunnya menyebar di air, membuat buih berwarna ungu tua.
Ketika matahari mulai condong ke barat, kami kelelahan. Tangan Joda gemetar, napasku berat. Kami sudah membasmi sekitar belasan ekor, tapi rawa itu masih seolah hidup, bergolak.
“Cukup dulu,” kataku. “Kita lapor dulu ke serikat.”
Joda mengangguk pelan, tapi saat ia hendak menjawab, langkahnya goyah. Ia terjatuh ke lutut, memegang mulutnya.
“Joda!”
Aku mendekat, melihat bibirnya memerah dan sedikit membengkak. Ada bercak ungu kecil di sudutnya. Ia berbisik pelan, “Cairan… tadi… mungkin kena…”
Aku segera menahannya agar tidak jatuh. Kami kembali ke desa secepat mungkin. Gelang di tanganku membuat langkahku ringan, tapi tubuh Joda berat di pundakku. Saat sampai di gerbang desa, aku berteriak memanggil siapa pun yang mendengar.
Pandita Ruben muncul dari arah kuil, jubah putihnya berkibar. Begitu melihat kami, wajahnya langsung berubah serius. Ia menunduk, menatap luka di bibir Joda, lalu tanpa bicara, menengadahkan tangannya. Cahaya biru lembut keluar dari telapak tangannya, menyelimuti wajah Joda.
“Racun kodok ungu,” gumamnya. “Berbahaya. Tapi masih bisa ditahan kalau cepat.”
Aku menatapnya gugup. “Apa yang bisa aku lakukan?”
“Pergi ke Srani,” katanya cepat. “Minta ramuan penetral racun tingkat dua. Cepat, Basi.”
Aku langsung berlari. Hujan baru mulai turun, tapi aku tidak peduli. Jalanan licin, udara beraroma tanah basah, tapi langkahku tak berhenti. Aku menyeberang jalan utama, melewati kios-kios yang sudah mulai tutup.
Toko Srani berada di ujung barat pasar, cahaya lampu minyak masih menyala. Aku menabrak tirai pintu, napasku terengah. “Srani! Racun kodok ungu! Untuk Joda!”
Perempuan tua itu terlonjak, lalu segera berlari ke rak belakang. “Tunggu sebentar!” katanya. Suaranya parau tapi tenang. Ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan biru pucat.
“Ini ramuan netral tingkat dua. Oles di luka, dan minum satu tetes dengan air hangat. Tapi cepat! Efeknya turun dalam satu jam!”
Aku mengangguk, membayar seadanya, lalu berlari kembali ke panti. Hujan turun deras sekarang. Bajuku basah, tapi aku terus berlari, memeluk botol kecil itu di dada agar tidak jatuh.
Saat sampai, Pandita Ruben masih duduk di samping Joda yang terbaring. Keringat menetes dari wajahnya, tapi matanya terbuka sedikit. Aku menyerahkan botol itu. Pandita Ruben menuang satu tetes ke air, lalu menyentuh bibir Joda dengan tangan bercahaya biru.
Joda mengerang pelan, lalu napasnya mulai teratur. Warna ungu di bibirnya perlahan memudar.
Pandita Ruben menghela napas lega. “Kau cepat, Basi.”
Aku menunduk, menatap sahabatku yang mulai tertidur. “Aku kira… aku akan kehilangannya.”
Pandita Ruben menepuk bahuku. “Kau tidak akan. Kau dan dia sudah lebih kuat dari yang kalian sadari.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk di lantai, diam, mendengar suara hujan yang mengetuk atap panti. Di luar, rawa Sanura masih bergolak dalam bayangan malam. Tapi di sini, di antara bau obat dan dupa, aku tahu satu hal: kami selamat kali ini—dan dunia di luar sana masih menunggu kami lagi besok.
Comments
Post a Comment