Perburuan Udang Jenggo

 Musim angin barat datang membawa bau garam yang lebih tajam dari biasanya. Ombak di pantai timur jadi lebih kasar, dan bintang laut biru mulai jarang muncul. Beberapa petualang dewasa di serikat mulai berpindah ke arah barat laut, ke pantai karang tempat makhluk sihir lain hidup. Mereka menyebutnya Udang Jenggo, makhluk bercapit besar yang bisa menembakkan letusan udara.

Aku pertama kali mendengar nama itu dari Abang Lazar, pengumpul material yang sering mengantar karung ke serikat. Ia menepuk pundakku sambil tertawa, “Kalau kalian berdua bisa menangkap satu Jenggo saja, namamu pasti dicatat di papan petualang muda.”
Aku menatap Joda. Kami berdua saling pandang sebentar, lalu sama-sama mengangguk. “Kami coba!”

Tentu Pandita Ruben tidak setuju begitu saja.
“Kalian tahu seberapa besar makhluk itu?” katanya saat kami memohon izin.
“Setinggi lutut orang dewasa,” jawab Joda cepat.
“Dan bisa menembakkan udara dari capitnya. Itu bisa mematahkan kayu, tahu?”
Kami terdiam. Tapi kemudian Pandita tersenyum kecil. “Kalau begitu, sebelum berangkat, kalian belajar menangkis dulu.”

--

Pelajaran pertama dimulai sore itu di halaman belakang kuil. Angin laut berhembus lembut di antara pohon kamboja. Pandita membawa tongkat bambu panjang dan menancapkannya di tanah.
“Menangkis bukan soal kekuatan,” katanya. “Kau tidak sedang berkelahi dengan besi, tapi menari dengan arah.”
Aku tidak paham maksudnya, tapi aku mencoba mengikuti.

Ia menyuruhku berdiri tegak, pedang di depan dada. Lalu dengan gerakan cepat, tongkatnya datang dari samping kiri. Aku kaget dan mengangkat pedangku asal-asalan. Bunyi “tak” terdengar ketika kayu dan baja bertemu, dan pergelangan tanganku langsung bergetar.
“Terlalu kaku,” katanya. “Besi melawan besi, bukan cara yang tepat.”

Ia mengulang lagi, kali ini lebih pelan. Aku diminta mencondongkan pedang sedikit miring, membiarkan hantaman tongkat meluncur ke samping, bukan menahannya langsung. Dan benar — hentakannya terasa lebih ringan.
“Begitu,” ucap Pandita. “Bukan menolak, tapi mengalihkan.”
Joda mencoba juga dengan kapaknya, tapi kapaknya terlalu berat untuk diputar cepat. Ia malah jatuh terduduk dan tertawa sendiri.
“Kapakmu seperti batu yang punya gagang,” canda Pandita.
“Ya, tapi batu ini bisa makan udang nanti,” sahut Joda. Kami semua tertawa.

Kami berlatih sampai senja. Aku mulai memahami bahwa menangkis bukan hanya soal tangan, tapi juga kaki. Setiap kali pedangku bertemu tongkat, aku harus melangkah sedikit ke belakang atau ke samping. Gerakan kecil yang membuat tubuhku seimbang.
Pandita menyebutnya rangkaian gerak tiga titik — langkah kiri, dorong pedang miring, pindah beban ke kaki kanan.
“Lakukan sampai tubuhmu bergerak tanpa berpikir,” katanya.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasa seperti benar-benar belajar menjadi petualang.

--

Tiga hari kemudian, kami berangkat.
Langit masih abu-abu muda ketika kami melewati hutan cemara Jingga, membawa perbekalan di punggung: sepotong roti kering, kantung air, dan seutas tali. Udara pagi basah, dan dedaunan bergetar karena embun yang menetes.

Pantai karang barat laut tidak jauh, tapi jalannya menurun curam. Dari atas tebing, kami bisa melihat laut membentur karang besar yang hitam seperti punggung raksasa. Suaranya bergemuruh, menelan semua suara lain.
“Di sanalah,” kata Joda. “Tempat Udang Jenggo.”

Kami turun perlahan. Batu-batu besar di sana seperti gigi raksasa yang muncul dari air. Di sela-selanya, air laut masuk dan keluar, membentuk kolam-kolam kecil tempat ikan-ikan warna-warni berenang. Bau asin bercampur dengan lumpur laut, menusuk hidung.
Aku menginjak batu licin dengan hati-hati. Setiap langkah terasa berisiko jatuh. Tapi begitu sampai di bawah, pemandangannya luar biasa. Air biru kehijauan, dan di bawah permukaannya terlihat bayangan besar yang bergerak pelan.

“Lihat itu,” bisik Joda.
Bayangan itu mendekat, dan aku bisa melihat tubuh Udang Jenggo untuk pertama kalinya — kulitnya keras seperti baja hijau, capitnya panjang dan berkilat seperti kaca basah. Di punggungnya ada bercak merah menyala, seperti api yang tenggelam di air.

--

Kami berjongkok di balik batu besar. Joda berbisik, “Kau serang dari depan, aku dari samping.”
“Tapi kalau dia menembak udara itu?”
“Kau menangkis pakai teknik Pandita.”
Aku menelan ludah. “Kau yakin?”
“Tidak, tapi kita lihat saja.”

Aku mengangguk. Kami berpisah perlahan, mengendap-endap di atas batu licin. Ombak kecil memercik ke kaki. Aku mendekati makhluk itu sejauh dua tombak. Ia tampak sibuk mencapit sesuatu di dasar karang — mungkin kerang atau ikan. Saat aku melangkah satu batu lagi, makhluk itu menoleh.
Matanya bulat, hitam, berkilat seperti manik.
“Astag—” aku belum sempat bicara, capitnya membuka dan suara praaak! terdengar, diikuti semburan udara keras yang mengenai dada. Aku terlempar ke belakang, jatuh ke air dangkal, dan air masuk ke hidungku.

Joda berteriak, “Bas! Bas, kau tak apa?”
“Aku baik! Aku baik!” jawabku sambil batuk. Tapi pedangku terjatuh beberapa langkah di depan. Udang Jenggo itu berputar cepat, mengangkat capit lagi.
Aku ingat kata Pandita: bukan menolak, tapi mengalihkan.
Aku merangkak, menggenggam pedang, dan berdiri lagi. Saat capitnya datang, aku miringkan bilahku, mencondongkan badan ke kiri. Suara “clang!” keras terdengar, tapi hantamannya meluncur di sisi pedang dan menghantam batu di belakangku. Air muncrat tinggi.
“Berhasil!” teriakku tanpa sadar.
“Bas, dari kiri!”

Joda berlari membawa kapaknya dan mengayun ke sisi tubuh makhluk itu. Tapi kulitnya terlalu keras. Hanya percikan kecil yang muncul. Udang Jenggo itu memukul balik dengan capit satunya. Joda menangkis pakai gagang kapak, tapi terpental setengah langkah.
“Berat sekali!” katanya.
“Gunakan dua langkah Pandita!” teriakku. “Langkah kiri, lalu kanan!”
Ia mencoba, memutar kaki seperti dalam latihan. Kali ini saat capit menghantam, ia berhasil menepisnya ke samping dan mengayunkan kapaknya ke sendi bawah capit. Suara “krek” terdengar, diikuti semburan air kecil. Makhluk itu mundur sedikit.

Kami tak berhenti. Aku melompat ke depan, mengayunkan pedang ke arah kaki makhluk itu. Bilahku memantul lagi, tapi meninggalkan goresan tipis. Aku berputar ke kanan, mencoba lagi dari sisi lain. Kali ini, aku mengarahkan tebasan ke bawah, lalu ke samping — gerakan yang kami latih di halaman kuil.
Tebasan kedua mengenai tepat di sendi antara kaki dan perut makhluk itu. Udang Jenggo menggeliat keras, capitnya menghantam air, memercikkan busa putih ke mana-mana.

“Sekarang, Joda!”
Ia berlari dan menebas sendi capit yang sudah retak. Suara krek! keras terdengar, dan capit itu patah separuh. Makhluk itu bergerak liar, lalu perlahan tenggelam ke air dangkal, diam.

Kami berdiri kehabisan napas, basah kuyup, tangan gemetar, tapi mata kami berbinar.
“Bas,” kata Joda, napasnya terengah. “Kau lihat itu? Kita benar-benar menang!”
Aku menatap makhluk besar itu. Kulitnya berkilat hijau gelap di bawah cahaya. Darahnya — bukan merah, tapi biru pudar — menyebar di air seperti tinta.
“Lihat capitnya,” ujarku. “Kita bawa satu ke serikat.”

Kami memotong bagian capitnya yang patah, lalu menaruhnya di karung kecil. Berat sekali, tapi kami tetap tertawa. Setiap langkah pulang di jalan berbatu terasa seperti kemenangan besar.

--

Di serikat sihir, Lodra langsung berhenti menulis ketika melihat kami datang.
“Apa yang kalian bawa itu?”
“Udang Jenggo!” jawab Joda.
Dia terdiam, lalu menatap karung kami. “Kalian menangkap ini sendiri?”
Kami mengangguk bersamaan.
Ia menghela napas, lalu tersenyum lebar. “Kalian gila, tapi hebat.”
Lodra menimbang bagian capit itu di timbangan sihir. “Bagian seperti ini bisa dijual untuk bahan senjata. Nilainya… tujuh puluh keping tembaga.”
Aku menatap Joda. “Tujuh puluh?”
“Tujuh puluh!”
Kami berdua melompat kecil tanpa bisa menahan diri.

Token kami diisi lagi. Cahaya di dalamnya semakin terang, hampir penuh satu lingkaran. Kami menatapnya lama, seperti memandangi dunia kecil yang kami bentuk sendiri.

--

Malam itu, kami duduk di atap panti asuhan. Langit penuh bintang, dan angin laut membawa aroma asin dari pantai karang. Joda menggenggam kapaknya, aku menggenggam pedangku. Di bilah baja itu, pantulan bulan tampak bergetar halus.
“Tadi waktu capitnya datang, kau tidak takut?” tanya Joda.
“Takut,” jawabku. “Tapi aku ingat kata Pandita. Langkah kiri, dorong miring, lalu kanan.”
“Dan itu berhasil.”
“Ya. Tapi kalau dia menembak dua kali, mungkin aku sudah jadi makanan laut.”
Kami tertawa kecil, tapi tawa kami cepat hilang dalam suara angin.

Aku menatap laut jauh di sana. Samar-samar terlihat cahaya hijau di kejauhan — mungkin makhluk laut lain yang bergerak di permukaan.
“Joda,” kataku pelan, “menurutmu, berapa banyak lagi makhluk seperti itu di dunia?”
“Entahlah. Tapi kurasa banyak.”
“Kau mau kita cari semuanya suatu hari nanti?”
Ia menatapku, lalu tersenyum. “Ya. Tapi besok kita latihan dulu. Aku masih sering kena pukul.”
Aku tertawa. “Aku juga. Pandita pasti senang tahu kita tidak mati hari ini.”

Kami duduk lama di sana, mendengarkan debur ombak dari jauh. Aku menggenggam pedangku lebih erat. Tangan kiriku masih terasa pegal, tapi di dalam dada ada sesuatu yang bergetar hangat — bukan kebanggaan, tapi semacam rasa ingin tahu yang terus tumbuh.
Malam semakin dalam. Angin membawa suara lonceng kuil dari kejauhan, lembut dan bergema.

Aku tidak berpikir tentang besok. Hanya menikmati suara laut, dingin batu atap di bawah kaki, dan rasa baja di tangan.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana