Pertempuran Rawa Sanura

Pagi itu langit sewarna timah cair.
Awan tebal menggantung di atas rawa Sanura, menutup cahaya matahari dan menahan bau belerang serta tanah basah.
Burung-burung rawa tak lagi bersuara.
Hanya terdengar gemericik air dan bunyi kecil yang datang dari bawah lumpur—suara gerakan yang tidak seharusnya ada di sana.

Aku, Basi, berdiri di atas gundukan tanah yang lembek, mengenakan rompi kulit tipis dan ikat kepala basah oleh embun. Di sebelahku, Joda menggenggam kapak bercahaya emasnya.
Di belakang kami, berdiri tiga penjaga rawa lainnya dari kelompok Pandita Ruben—semuanya diam, menatap lumpur yang berdenyut pelan seperti napas makhluk tidur.

“Di bawah sana,” bisik salah satu penjaga. “Kami melihatnya tadi malam. Mereka muncul, makan akar, lalu menghilang lagi ke tanah.”

Aku menunduk. Lumpur di depan kami bergoyang, membentuk gelembung-gelembung kecil.
Aroma busuk tercium—bau tanah basi bercampur zat besi dan sesuatu yang lebih tajam, seperti daging busuk yang baru saja disobek.

Paman Nanu pernah bilang: “Jika logam bisa bicara, dengarkan dulu nadanya sebelum menempanya.”
Aku pikir, hal yang sama berlaku untuk makhluk ini.

Aku menurunkan tubuh, menempelkan ujung pedangku ke lumpur.
Bilah biru itu bergetar halus—dan dalam getarannya aku bisa merasakan sesuatu, seperti denyut jantung besar di bawah tanah.

“Mereka datang,” bisikku.

--

Tepat saat itu, tanah di depan kami meledak.
Lumpur menyembur ke udara, dan dari dalamnya keluar makhluk seperti kumbang hitam raksasa, setinggi bahu manusia.
Kulitnya keras, berkilat licin seperti logam basah. Matanya banyak, kecil, merah, dan rahangnya bergetar cepat mengeluarkan suara seperti gesekan batu.

Satu makhluk keluar, lalu dua, lalu empat.
Mereka bergerak cepat di atas air dangkal, tak peduli tubuh mereka tenggelam sampai setengah.

Penjaga rawa pertama langsung melompat maju, menusukkan tombaknya ke salah satu makhluk. Tombaknya menembus, tapi tidak cukup dalam—kulit makhluk itu memantulkan sebagian besi.
Rahangnya berputar, menggigit gagang tombak itu, dan menariknya hingga penjaga itu jatuh ke belakang.

Aku dan Joda langsung berlari.
Air rawa memercik di sekitar kami. Aku menghunus pedangku, bilahnya menyala biru samar di tengah kabut.

Satu makhluk berlari ke arahku.
Aku menahan napas, menunggu jarak yang pas, lalu mengayunkan pedang dari bawah ke atas.
Bilahan biru itu menyentuh perut makhluk itu—dan air rawa di sekitarnya ikut bergerak, naik dalam bentuk riak tipis yang tajam seperti kaca.
Bilah air itu ikut membelah kulit serangga, menambah kekuatan ayunanku.

Darah hitam menetes ke air. Makhluk itu terbelah sebagian, tubuhnya jatuh dengan suara basah.
Tapi bahkan saat mati, kakinya masih bergerak.

Aku mundur, tersengal, merasakan pedang di tanganku bergetar.
Ia panas, tapi bukan karena api—panasnya seperti tubuh yang sedang bekerja keras.

Di sisi lain, Joda berhadapan dengan dua makhluk sekaligus.
Kapaknya bersinar emas, dan setiap kali ia memukul tanah, akar-akar kecil keluar dari lumpur, membelit kaki serangga itu.
Ia melompat ke depan, memutar tubuh, dan mengayunkan kapaknya dari samping.
Suara retak terdengar—keras dan jernih, seperti pohon pecah.

Satu makhluk jatuh, tapi yang lain menerjang dari belakang.
Aku berlari ke arahnya dan menebas dari sisi kanan. Bilahku memantul sekali sebelum menembus bagian lehernya.
Kami berdua jatuh ke lumpur, terciprat darah hitam dan busa rawa.

--

“Ada lagi!” teriak salah satu penjaga.

Dari sisi barat rawa, tanah terbelah, dan muncul makhluk yang lebih besar dari sebelumnya.
Tubuhnya seperti gabungan tiga kumbang, kulitnya tebal, dan dari punggungnya tumbuh duri-duri tajam berwarna ungu.
Setiap langkahnya membuat air rawa bergetar, dan akar-akar di bawah tanah patah seperti tulang kecil.

Joda menatapku. “Itu induknya.”

Aku mengangguk, menghapus lumpur dari wajahku.
“Kalau kita biarkan, dia akan membuat lubang baru di bawah rawa.”

Kami berdua maju bersamaan.
Paman Nanu pernah bilang, “Jangan tempuh logam dengan logam. Tempa dia dengan irama.”
Jadi kami tak menyerang asal. Kami bergerak dengan napas yang sama—aku di kiri, Joda di kanan.

Makhluk itu menyemburkan cairan hitam kental ke arah kami. Aku melompat, tapi sebagian cairan mengenai kakiku. Panasnya seperti asam, kulitku langsung terasa perih.
Tapi pedangku menyala makin terang, birunya bergetar seperti gelombang laut.
Air di sekitarku naik sendiri, membentuk lingkaran tipis yang menangkis cipratan berikutnya.

“Sekarang!” teriak Joda.
Ia menghantam tanah dengan kapaknya.
Akar-akar bercahaya keluar dari lumpur, menjalar cepat seperti ular, membelit kaki belakang makhluk itu.

Aku berlari, mengayunkan pedang ke leher makhluk itu.
Namun kulitnya keras sekali. Bilahku memantul, mengeluarkan bunyi logam menjerit.
Aku menggertakkan gigi, menahan rasa gemetar di tanganku.

Joda mengayunkan lagi kapaknya, kali ini ke bagian punggung.
Kapaknya masuk separuh, tapi makhluk itu meronta hebat, melemparkan kami berdua ke belakang.
Aku jatuh ke air, dadaku nyeri, telingaku berdenging.


Saat aku bangkit, kulihat makhluk itu mengangkat kepalanya, mengeluarkan suara keras—seperti peluit baja ditiup dari dalam air.
Rawa bergetar.
Dan dari kejauhan, suara lain mulai menjawab.

“Ada lebih banyak di bawah!” teriak penjaga rawa.

Aku menatap Joda.
Ia berdiri, wajahnya kotor, tapi matanya bersinar aneh.
“Kita tidak bisa biarkan mereka bangkit,” katanya. “Basi, air dan tanah harus jadi satu.”

Aku mengangguk.
Aku menancapkan pedangku ke lumpur, dan Joda menanamkan kapaknya di sebelahnya.
Cahaya biru dan emas dari kedua senjata mulai menyatu—saling berputar seperti dua arus sungai yang bertemu.

Rawa di bawah kami mulai bergerak.
Air naik membentuk pusaran besar di sekitar makhluk itu, sementara akar-akar bercahaya naik dari dalam lumpur, membentuk jaring.
Makhluk besar itu mengamuk, berusaha melepaskan diri, tapi setiap kali ia bergerak, air semakin kuat menekan.

Kami berdua menggenggam senjata kami erat-erat.
Cahaya dari bilah pedangku menyusup ke air, menciptakan riak-riak biru yang berputar makin cepat.
Akar Joda menyalakan lingkaran emas di sekitar pusaran.

Air dan tanah bergabung.
Dan dalam satu ledakan lembut—makhluk itu tertelan, tenggelam ke dalam lumpur yang kini menyala biru-keemasan.

Lalu semuanya hening.

Hanya suara hujan ringan yang mulai turun lagi, menetes di air yang perlahan menjadi tenang.
Bau tanah dan logam masih kuat, tapi kini tak ada gerakan di bawah.

--

Aku jatuh berlutut, napasku tersengal.

Pedang di tanganku sudah padam cahayanya, tapi bilahnya masih hangat.
Joda duduk di sebelahku, menggenggam kapaknya yang retak di ujung gagang.

“Apakah mereka mati?” tanyaku.

“Tidak tahu,” katanya pelan. “Tapi rawa sudah berhenti bernafas.”

Pandita Ruben datang beberapa saat kemudian. Ia melihat kami berdua, lalu menatap pusaran lumpur yang kini menjadi tenang.
“Kalian sudah mengikatnya kembali. Rawa ini hidup karena keseimbangan, bukan kemenangan.”

Aku tak menjawab.
Aku hanya memandangi pedangku yang kini tak lagi bersinar, tapi terasa berat seperti beban sumpah.
Aku tahu, malam nanti ia akan menyala lagi—bukan karena api, tapi karena sesuatu di dalam rawa ini yang belum sepenuhnya tidur.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Dendam Rawa Sanura