Raja Babi Hutan

 Hujan turun seperti tirai panjang dari langit, menutupi hutan Jingga dengan kabut basah yang tebal. Setiap daun kelapa berguncang berat, menumpahkan air ke tanah yang sudah jenuh. Tanah menjadi licin, aroma lumpur dan akar basah bercampur dengan bau hutan yang tajam.

Aku dan Joda sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini—musim hujan berarti babi hutan jingga sering turun dari perbukitan, mencari umbi-umbian di tanah lembap. Tapi hari itu, entah kenapa, semuanya terasa berbeda sejak pagi.

Kami berangkat dengan ponco kulit tipis dan sandal tali kulit yang sudah agak lapuk. Senjata kami masih sama—pedang baja pendek di pinggangku, kapak baja kecil di tangan Joda. Peralatan lain dibungkus di karung lilin agar tidak basah. Kami sudah hafal rute ke lembah kecil di bagian tengah hutan, tempat biasanya kawanan babi jingga berkubang di antara akar pepohonan besar.

“Kalau hari ini kita dapat dua,” kata Joda sambil tersenyum, “aku mau buat satu jadi dendeng asap dan satu lagi buat sup di panti. Hujan-hujan makan sup babi, luar biasa, kan?”

Aku tertawa kecil, meski sebenarnya kakiku sudah dingin dan basah. “Kau selalu mikirin makan.”

“Ya, karena perutku selalu kosong,” jawabnya santai. “Lagipula, anak-anak panti pasti senang. Dagingnya nanti dikeringkan sama Nira dan Sano.”

Kami melangkah pelan melewati jalan yang penuh lumpur. Ranting-ranting basah menampar pundak setiap kali kami lewat. Hujan mereda menjadi gerimis tipis, kabut mulai naik di sela batang-batang tinggi, dan suara gemerisik dedaunan mulai terdengar—suara khas babi hutan yang mengendus dan mengais tanah.

Aku memberi isyarat dengan tangan. Joda mengangguk, lalu kami merunduk di balik semak. Seekor babi hutan jingga muncul dari balik akar, besar, gemuk, dengan bulu jingga gelap yang tampak berkilau karena basah. Gadingnya melengkung ke atas, dan setiap kali ia mengendus, tanah basah terangkat oleh moncongnya.

Kami menunggu saat yang tepat. Joda memegang kapaknya, aku menggenggam pedang. Begitu babi itu berbalik arah, aku memberi aba-aba. Kami menyerbu bersamaan.
Pedangku memotong udara dan menghantam sisi lehernya, tapi babi itu cepat—terlalu cepat untuk ukuran tubuh sebesar itu. Ia berbalik dan menubrukku dengan keras. Aku terlempar ke tanah berlumpur, lututku menghantam batu. Joda berteriak dan menebas dari samping, kapaknya menancap di bahu makhluk itu. Suara ringkikannya menggema di hutan.

Kami bertarung cukup lama, sampai akhirnya babi itu roboh dengan napas berat.
Kami membersihkan darahnya di bawah hujan, lalu menyiapkan dagingnya seperti biasa—potong, bersihkan, bungkus dengan kain minyak. Tapi entah kenapa, ketika hendak pulang, suara aneh datang dari dalam hutan.
Sebuah suara berat. Dalam. Dalam sekali.

Seolah ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak.

Kami saling menatap. “Kau dengar itu?” bisik Joda.

Aku mengangguk.
Daun-daun bergerak, bukan oleh angin, tapi oleh langkah besar yang mendekat. Lalu dari balik semak, muncul sesuatu—seekor babi hutan jingga yang ukurannya dua kali lebih besar dari yang baru saja kami bunuh. Tubuhnya penuh bekas luka lama, gadingnya panjang berwarna keperakan, matanya merah menyala.

“Raja babi hutan…” Joda berbisik pelan.

Aku menelan ludah. Hujan mulai deras lagi, dan petir menyambar di kejauhan. Tanah bergetar di bawah kaki makhluk itu.
Kami tahu kami tidak bisa lari. Kalau lari, dia akan mengejar. Kalau diam, dia akan menyerang duluan.

“Gerakan cepat. Hindar dan tangkis,” kataku pelan.
Joda mengangguk.

Raja babi hutan itu mengaum keras lalu berlari ke arah kami seperti badai. Aku menjejak tanah, berguling ke samping, lalu menebas dari bawah. Pedangku hanya menggores sedikit kulitnya—terlalu tebal. Joda menghantam kaki depan makhluk itu, tapi kapaknya terpental.

Babi itu menubrukku lagi. Aku berhasil menangkis dengan pedang, tapi kekuatannya luar biasa. Aku terlempar ke belakang, pedangku hampir lepas dari tangan. Rasa panas menjalar di kakiku—kulit robek, darah merembes keluar.

Joda maju tanpa pikir panjang. Ia melompat ke arah sisi makhluk itu, menebas lehernya dengan dua tangan. Tapi raja babi itu mengibas keras, tubuh Joda terpental ke batang pohon, dan aku melihat darah mengalir di lengannya.

Kami kelelahan, tapi tak mungkin menyerah.
Aku menatap Joda, dan kami saling memberi isyarat singkat. Kami mulai bergerak berdua—berputar melawan arah, membentuk lingkaran, menyerang bergantian seperti latihan-latihan kami dulu: tebas, tusuk, hindar, lompat, geser.

Gerakan kami semakin serempak, semakin cepat, bahkan di bawah hujan lebat.
Joda menangkis dengan kapak setiap kali makhluk itu menyeruduk, lalu aku menebas sisi perutnya. Kami menghindar dan menyerang lagi, perlahan membuat raja babi itu kehilangan keseimbangannya. Darahnya bercampur dengan lumpur, menetes di antara akar dan genangan air.

“Sekarang!” teriakku.

Joda melompat ke atas batu, lalu menghantam kepala babi itu sekuat tenaga dengan kapaknya. Aku menusuk dari bawah dengan pedang ke arah dada.
Suara berat menggelegar di udara saat makhluk itu akhirnya roboh, tubuhnya menghantam tanah dengan suara basah yang berat.

Kami berdiri terengah, hujan menetes dari rambut ke wajah. Hening. Hanya suara air dan napas kami sendiri.

Setelah memastikan makhluk itu mati, kami duduk di tanah, tertawa kecil di antara kelelahan dan rasa nyeri. Luka di kaki dan tangan perih luar biasa, tapi ada rasa puas yang aneh—campuran takut, kagum, dan lega.

“Dia besar sekali,” kata Joda, sambil mengusap lengannya yang berdarah. “Kupikir kita bakal mati tadi.”

“Aku juga,” jawabku. “Tapi lihat…”

Aku menunjuk perut makhluk itu yang sedikit terbuka akibat tebasan terakhir. Di dalamnya ada sesuatu yang tidak seharusnya ada—sebuah benda logam berkilat di antara daging. Kami saling pandang, lalu hati-hati mengeluarkannya.

Sebuah cincin berwarna perak gelap, dengan permukaan yang berkilau samar. Dan di sampingnya, sebuah gelang berwarna hijau keemasan. Keduanya dingin, tapi terasa… hidup.

Kami tak tahu apa itu, tapi aku merasakan getaran halus di jari ketika menyentuhnya. Joda mengangkat gelangnya, tertawa pelan. “Mungkin ini hadiah karena kita terlalu nekat.”

Aku menatap cincin di tanganku. “Atau ujian yang lulus dengan sedikit keberuntungan.”

Kami mengubur sisa-sisa tulang raja babi itu di bawah akar pohon besar, seperti kebiasaan para pemburu lama. Daging yang layak kami potong dan bungkus, kulitnya tebal dan kuat—cukup untuk dibuat pelindung bahu atau rompi kulit di penjahit nanti.

Saat kami berjalan pulang melewati jalan berlumpur, hujan mulai reda. Kabut menggantung di antara pohon-pohon, dan cahaya sore memantul di genangan air.

Langkah kami pelan, tapi ada sesuatu yang berubah. Luka di kaki terasa berat, tapi cincin di jariku seperti berdenyut lembut, menghangatkan rasa sakit itu sedikit.
Joda tersenyum lebar meski tangannya dibalut kain kotor. “Besok anak-anak pasti senang. Daging raja babi. Itu baru cerita makan besar.”

Aku hanya tertawa kecil. “Dan kau tahu apa yang akan mereka lakukan dengan kulit ini?”

“Tentu saja. Daging dikeringkan, kulit dijahit. Kita akan punya pelindung baru.”

Kami menatap kabut jingga yang mulai menipis di kejauhan. Di balik pepohonan, bayangan panti asuhan dan menara serikat mulai tampak samar.
Langit sore berwarna tembaga, dan aroma daging segar bercampur dengan bau hujan.

Kami berjalan pulang dalam diam, membawa daging, kulit, dan dua benda misterius dari perut raja babi hutan jingga.
Entah apa artinya cincin dan gelang itu, tapi saat itu kami hanya tahu satu hal—kami masih hidup, dan besok kami akan berburu lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana