Rawa Sanura
Rawa Sanura berkilau seperti cermin berlumut di bawah sinar matahari pagi. Embun menggantung di udara, berat dan lembap, sementara kabut tipis melayang di atas genangan air yang dipenuhi lumut hijau. Dari kejauhan, suara burung rawa bersahutan, dan kadang terdengar suara plok kecil—kodok hijau melompat dari daun lebar ke air.
Aku dan Joda berdiri di tepi rawa itu, dengan senjata masing-masing di tangan. Pedang bajaku sudah mulai tampak kehitaman di ujungnya karena sering terendam air, sementara kapak baja kecil Joda masih berkilat bersih. Tapi yang lebih menarik bukan senjata kami kali ini—melainkan benda-benda yang kami temukan di perut raja babi hutan jingga beberapa minggu lalu.
Aku memakai gelang hijau keemasan itu di pergelangan tangan kiri. Saat pertama kali kupakai, ada sensasi hangat merambat dari kulit ke lengan, lalu ke seluruh tubuh—ringan, cepat, seolah dunia bergerak sedikit lebih lambat dariku.
Joda, sebaliknya, mengenakan cincin perak gelap itu di jari telunjuk tangan kanannya. Ia bilang setiap kali ia mengatupkan tangan, otot-ototnya seperti mengeras, memberi kekuatan tambahan pada setiap ayunan.
Kami tidak tahu bagaimana benda-benda itu bekerja, tapi kami sepakat untuk mempelajarinya di tempat yang aman—dan rawa Sanura adalah tempat sempurna: penuh makhluk kecil tapi gesit, licin, dan sulit ditangkap.
“Siap?” Joda memutar bahunya. “Kodok hijau dulu. Lalu ayam rawa kalau beruntung.”
Aku mengangguk. “Dan cairan perut kodoknya, jangan lupa. Srani pasti mau banyak.”
Srani adalah pembuat ramuan tua di pasar bawah serikat. Ia punya tangan yang selalu bau jahe dan minyak, tapi senyumnya hangat. Ia bilang cairan dari perut kodok hijau rawa bisa dipakai untuk membuat salep penambah tenaga.
Kami menuruni tepi rawa. Tanahnya licin dan lembek. Aku menguji gelang di tanganku dengan satu gerakan cepat—dan tiba-tiba tubuhku meluncur lebih ringan dari biasanya. Langkahku nyaris tak bersuara, bahkan air tak sempat memercik tinggi.
“Lihat ini,” kataku.
Aku bergerak cepat, berlari di antara genangan air, melompati akar yang menjulur, dan mendarat di atas batu licin. Tubuhku seimbang, ringan. Aku bisa merasakan bagaimana gelang itu menyesuaikan diri dengan gerakanku.
Joda bersiul kecil. “Hebat. Tapi lihat ini.”
Ia mengatupkan tangannya, mengencangkan otot, lalu menebas batang pohon kecil di dekatnya. Suara krek! terdengar tajam—batang itu patah bersih dengan satu ayunan kapak.
Aku mengangkat alis. “Oke, kau menang di kekuatan. Tapi jangan kira kau bisa menangkap kodok lebih cepat dariku.”
“Taruhan?” katanya, menantang.
Aku tertawa. “Siapa dulu yang dapat tiga ekor.”
Kami mulai berburu.
Kodok hijau rawa memang kecil, tapi lincahnya bukan main. Mereka bisa melompat sejauh dua meter dalam sekali hentakan kaki. Kami menyusuri semak-semak basah, memerhatikan daun-daun besar yang bergetar. Begitu satu kodok muncul, aku bergerak lebih cepat dari biasanya, berlari ke arah sana dan menyambar dengan jaring kecil dari serat rotan.
Tapi kodok itu melompat ke arah Joda. Ia refleks menepis dengan kapak, bukan untuk membunuh, tapi untuk menghentikan gerakannya. Kodok itu mendarat di tanah, dan aku segera menutupnya dengan jaring.
Satu!
Kami tertawa seperti anak-anak, dan terus bergerak. Hujan semalam membuat rawa makin becek, tapi gelangku membuat gerakanku tetap ringan. Aku mulai terbiasa dengan cara gelang itu membantu menjaga keseimbangan—seolah setiap langkah mendapat sedikit dorongan dari udara di sekitarku.
Sementara Joda mulai memanfaatkan cincinnya untuk menahan serangan atau memindahkan ranting-ranting besar yang menghalangi jalan. Otot tangannya tampak menegang setiap kali ia menebas atau mendorong sesuatu, dan bahkan batu kecil yang ia lempar bisa melesat lebih cepat dari biasanya.
“Cincin ini luar biasa,” katanya sambil mengangkat dua ekor kodok di tangannya. “Kupikir aku bisa menghancurkan kelapa pakai tangan kosong.”
“Jangan, nanti paman petani kelapa marah,” sahutku sambil tertawa.
Saat matahari naik tinggi, kami sudah menangkap lebih dari sepuluh ekor kodok hijau besar. Kami memotong perutnya dengan hati-hati dan menampung cairan bening kehijauan di dalam botol kaca kecil. Cairan itu berbau tajam, seperti campuran rumput busuk dan jahe muda. Kami tahu Srani akan membayarnya mahal.
Setelah itu, kami memutuskan untuk berburu ayam hutan rawa. Suaranya kadang terdengar dari arah timur rawa—teriakan khas seperti serak panjang, krak-krak-krak!
Ayam hutan rawa sulit ditangkap karena mereka bisa melompat di antara dahan rendah dan berlari di air dangkal tanpa tenggelam. Tapi gelangku membuatku bisa menyaingi kecepatannya. Aku bergerak cepat, menahan napas, menjejak air, lalu melompat di antara akar. Joda mengitar dari belakang, memegang kapaknya seperti biasa.
Seekor ayam rawa besar muncul, bulunya bercorak hijau-cokelat, jenggernya seperti daun lumut. Ia berlari, mengepakkan sayap, mencoba kabur. Tapi aku lebih cepat. Dengan dorongan gelang, aku meluncur ke depan, melompat, dan menebas pedang ke arah kakinya. Ia jatuh dengan suara percikan air keras.
“Dapat!” seruku, tersenyum lebar.
Joda datang dan membantu mengikatnya. Kami berhasil menangkap tiga ekor sebelum matahari mulai turun.
Sore itu, kami duduk di tepi rawa, menatap air yang mulai berwarna oranye keemasan. Kodok-kodok hijau kembali bernyanyi, dan kabut mulai turun lagi. Kami mencuci tangan di air jernih, lalu mulai menyiangi ayam hasil tangkapan.
“Rasanya aneh,” kata Joda pelan sambil menatap cincinnya. “Seolah aku tahu ke mana harus menebas. Seolah tubuhku… sudah tahu duluan.”
Aku mengangguk. “Aku juga. Kadang langkahku terasa seperti bergerak sendiri, tapi tetap dalam kendali. Entah benda ini punya sihir macam apa, tapi kita harus hati-hati. Jangan bergantung sepenuhnya.”
Ia menatapku dan tersenyum. “Tapi kau sadar kan, Basi? Kita mulai benar-benar jadi petualang.”
Aku tertawa kecil. “Petualang rawa, pemburu kodok dan ayam lumpur?”
“Ya, dan pengumpul cairan perut kodok mahal,” katanya sambil mengangkat botol kaca dan mengocoknya.
Kami berjalan pulang ke panti asuhan membawa hasil tangkapan—daging ayam rawa di dalam karung, dan botol-botol cairan kodok hijau di dalam peti kecil. Langit mulai gelap, petir berkilat jauh di ufuk barat. Di kejauhan, suara anak-anak panti terdengar samar, mungkin sedang bermain di teras.
Joda bersiul kecil, aku berjalan pelan di sisinya. Air rawa menetes dari sepatu kulit kami, meninggalkan jejak basah di jalan berbatu menuju desa.
Malam itu, kami makan bersama di panti—sup ayam rawa hangat, dan roti gandum lembut dari dapur Nira. Sementara di bawah meja, aku bisa merasakan gelang di tanganku masih berdenyut lembut, seperti hidup. Joda memandangi cincinnya yang berkilau samar di bawah cahaya lampu minyak.
Kami saling bertukar pandang sebentar, lalu tertawa pelan tanpa kata.
Comments
Post a Comment