Senjata Pertama

Tiga bulan setelah kami mendaftar sebagai petualang dasar, pagi-pagi sekali, aku berlari menuruni jalan batu dari Panti Asuhan Kuil Suci. Udara asin dari laut berhembus membawa bau garam dan daun kelapa basah. Di depan toko senjata Paman Nanu, Joda sudah berdiri sambil melompat-lompat kecil karena tak sabar. Hari itu hari yang kami tunggu sejak lama — hari kami membeli senjata pertama.

Tokonya kecil tapi hangat, penuh gantungan tali, sabuk kulit, dan beberapa senjata tajam yang disusun di dinding. Ada bau besi dan minyak dari rak belakang. Di meja depan, Paman Nanu duduk sambil menjahit sarung senjata dari kulit babi hutan jingga. 

“Sudah cukup tabungannya, anak-anak?” tanya beliau tanpa mengangkat kepala.

“Sudah, Paman!” jawab Joda cepat. “Lodra bilang token kami bisa ditukar pagi ini.”

Paman Nanu menepuk meja. “Kalau begitu, satu pedang baja pendek untukmu, dan satu kapak kecil untuk temanmu. Tapi kalian tahu aturannya, kan?”

Kami mengangguk bersamaan. “Tidak mengayunkan di dalam desa.”

“Bagus.” Paman Nanu tersenyum tipis. “Kalau mengayunkan di jalan, kalian yang kena duluan sebelum sempat bertarung.”

Kami tertawa.

Pedangku tak terlalu panjang, mungkin sepanjang lenganku. Baja kelabu itu dipoles halus, dengan gagang kulit hitam yang masih kaku. Beratnya pas. Aku bisa mengayunkannya dengan satu tangan, tapi tetap terasa kuat. Joda memegang kapaknya dengan dua tangan, tersenyum lebar sampai telinganya merah. “Lihat ini, Bas! Aku bisa membelah kelapa kalau mau!”

“Coba nanti di luar desa aja,” kataku.

Ia mengangguk semangat.

Pagi itu kami tidak langsung ke pantai. Kami kembali dulu ke panti asuhan untuk menunjukkan senjata kami ke Pandita Ruben. Pandita sedang menyapu halaman depan, jubah putihnya melambai pelan terkena angin. Saat melihat kami datang membawa senjata, ia berhenti sejenak.

“Sudah waktunya, ya,” katanya lembut.

Aku mengangguk bangga. “Kami beli pakai tabungan sendiri, Pandita!”

Ruben tersenyum, tapi matanya seperti memeriksa kami dari ujung kepala sampai kaki. “Ingat, pedang itu bukan mainan. Tapi kalian juga masih anak-anak. Jadi belajarlah dengan gembira, tapi jangan ceroboh.”

Kami berjanji.

Setelah sarapan — bubur jagung dan ikan asin — kami berangkat ke pesisir timur laut, tempat biasa kami berburu bintang laut biru. Jalanan di sana menurun melewati perkebunan kelapa Sanura. Udara berbau manis getah dan angin laut. Daun-daun bergoyang memantulkan cahaya matahari seperti sisik ikan.

Di pantai, air surut. Batu-batu karang terlihat jelas, licin, dan tertutup lumut hijau. Di sela-sela batu itu, bintang laut biru sering bersembunyi. Warnanya menyala lembut seperti batu permata basah. Kami menaruh tas dan sandal di atas batu besar, lalu mulai menelusuri tepian air.

Joda menatap ke air, kapaknya siap di tangan. “Kau duluan, Bas.”

Aku menunduk, menajamkan mata. Ada sesuatu bergerak di dasar air dangkal — bintang laut biru berukuran besar, mungkin sebesar telapak tangan orang dewasa. Aku menarik napas. “Lihat itu!”

Kami mendekat perlahan, air setinggi betis membasahi kaki. Aku mengangkat pedang pendekku, menunggu waktu yang pas.

Tapi ketika aku mengayunkan, pedangku malah terpental karena dasar batu licin. Air muncrat ke wajahku, dan bintang laut itu melompat — ya, melompat — menyemburkan air asin dari tubuhnya lalu menempel di lengan Joda.

“Aaah! Lepas! Lepas!” teriaknya sambil berputar-putar.

Aku panik tapi tertawa. “Diam! Jangan gerak! Aku tebas!”

“Tebas kepalamu sendiri!”

Aku memukul pelan pakai sisi tumpul pedang, dan bintang laut itu jatuh, menggeliat sebentar, lalu diam. Kami terengah. Setelah memastikan makhluk itu tak bergerak lagi, kami menatap satu sama lain dan tertawa keras.

Dari dalam tubuh bintang laut itu, kami menemukan sebutir mutiara perak, kecil tapi berkilau di bawah cahaya matahari.

“Sepuluh keping tembaga,” gumam Joda, menatapnya seolah itu kue paling enak di dunia.

“Kalau kita dapat lima hari ini, bisa makan roti daging di kedai Tante Rarana.”

“Terlalu mewah. Aku mau beli sabuk kulit dulu.”

“Ah, dasar pelit.”

Kami tertawa lagi, lalu melanjutkan perburuan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti latihan panjang yang menyenangkan. Setiap pagi kami pergi membawa senjata kami, mencoba gerakan baru. Kadang kami meniru gaya petualang dewasa yang kami lihat di pelabuhan. Kadang kami asal menebas angin sambil berteriak.

Aku belajar bagaimana mengarahkan pedang agar tak terpental di air. Pandita Ruben bilang kuncinya bukan kekuatan, tapi keseimbangan. Jadi aku berlatih dengan memukul daun kelapa yang jatuh, satu per satu, tanpa menjatuhkannya ke tanah.

Joda punya cara sendiri. Ia menggantung buah kelapa kecil di tali, lalu mencoba memukulnya dengan sisi tumpul kapaknya tanpa memutus tali. Kadang berhasil, kadang buahnya jatuh ke kepala sendiri.

Sore hari, setelah berburu, kami sering duduk di tepi pantai memandangi matahari turun ke laut. Joda akan mengasah kapaknya dengan batu halus yang dibawanya dari rumah Pandita. Aku mengusap pedangku, memeriksa pantulan jingga di bilahnya.

“Pikirkan kalau kita sudah dewasa nanti,” katanya suatu kali. “Mungkin kita bisa ikut ekspedisi ke barat, ke reruntuhan Amaresh kuno.”

Aku mendengus. “Kita belum bisa menaklukkan bintang laut saja.”

“Itu karena mereka licin, bukan kuat!”

“Ya, ya, alasan.”

Tapi di dalam hati, aku tahu kami benar-benar ingin suatu hari berkelana lebih jauh.

Bulan berikutnya, cuaca berubah. Ombak lebih besar, angin lebih keras. Bintang laut biru semakin sulit ditemukan karena mereka bersembunyi di kedalaman. Tapi kami tidak menyerah. Kami mulai belajar menyelam di air dangkal, menahan napas dan menggali celah batu dengan tongkat. Kadang kami hanya menemukan kepiting atau siput, tapi itu tetap jadi pengalaman baru.

Suatu pagi, ketika kabut masih tebal, kami menemukan area batu karang baru di timur laut, agak jauh dari desa. Di sana airnya lebih jernih tapi arusnya lebih kuat. Joda bersikeras mencoba duluan.

Ia melompat ke air dan mulai menelusuri celah-celah batu. Aku menunggu di atas, memegang tali kecil yang kami ikat di pinggangnya — semacam pengaman sederhana.

“Aku lihat satu besar!” suaranya terdengar samar.

“Hati-hati, arusnya kencang!”

Tak lama kemudian, tali di tanganku menegang keras. Aku menarik, tapi berat sekali.

“Joda!”

Tiba-tiba permukaan air bergolak. Joda muncul dengan wajah penuh busa, dan di tangannya — seekor bintang laut biru sebesar helm besi, menggeliat kuat.

“Lihat ini!” teriaknya dengan suara serak.

Makhluk itu menembakkan air ke arahku, membuatku jatuh ke belakang. Kami berdua terguling di batu sambil tertawa tak terkendali.

“Kalau mutiara di dalamnya besar, kita bisa beli tas kulit baru!”

“Kalau tidak ada, kita bisa jual lendirnya ke Paman Haha!”

Ternyata, saat kami membuka tubuh bintang laut itu, ada dua mutiara kecil. Tidak sebesar harapan kami, tapi cukup membuat kami berlari ke serikat sihir dengan semangat.

Serikat sihir Desa Jingga selalu terasa menakjubkan. Setiap petualang yang datang membawa hasil tangkapan akan disambut oleh aroma tinta, kertas, dan sihir pelindung. Lodra biasanya duduk di meja depan, menulis laporan dengan pena bulu yang bergerak sendiri.

Saat melihat kami datang basah kuyup sambil membawa kantong, ia tertawa kecil.

“Kalian dua, lagi-lagi bintang laut?”

“Tapi kali ini dua mutiara!” jawab Joda bangga.

Lodra membuka kantong, memeriksa, lalu mengangguk. “Bagus. Dua mutiara, dua puluh tembaga. Mau disimpan di token?”

“Tentu!” kataku.

Malam itu, di panti asuhan, kami berdua tidak bisa tidur. Aku memandangi pedangku yang bersandar di dinding. Gagangnya mulai sedikit lunak karena sering kugenggam. Bilahnya masih tajam, meski ada gores halus di sisi kanan. Aku mencoba mengingat berapa banyak tebasan yang sudah kulakukan hari ini, tapi mataku terasa berat.

Joda tidur di ranjang sebelah, mendengkur pelan, memeluk kapaknya seperti bantal. Aku tertawa pelan, lalu ikut terlelap dengan bau garam dan suara ombak di luar jendela.

Hari-hari setelahnya, latihan kami semakin serius. Pandita Ruben mulai memberi kami pelatihan dasar gerak tubuh. Ia tidak mengajarkan sihir, tapi cara berdiri, mengatur napas, dan menjaga keseimbangan.

“Petualang bukan hanya bertarung,” katanya suatu pagi. “Kau harus tahu kapan bergerak dan kapan diam.”

Tapi kami terlalu sibuk menirukan gaya petualang dewasa di pasar. Aku mencoba berputar dengan pedang, malah terpeleset lumpur. Joda meniruku dan jatuh lebih keras. Pandita hanya menggeleng sambil tertawa.

“Kalian seperti anak kelapa mabuk angin,” katanya.

Meski begitu, aku merasa tubuhku mulai terbiasa. Pundakku tidak cepat pegal lagi. Aku bisa menebas lebih cepat dan akurat. Joda mulai bisa menahan kapaknya di udara tanpa gemetar. Kami mulai memanggil diri kami “Tim Sanura”, karena sering berlatih di hutan kelapa itu.

Suatu sore, kami mencoba menguji kekuatan dengan menebas batang kelapa kecil yang sudah tumbang. Aku menebas dari samping, dan bilah pedangku memantul sedikit, meninggalkan bekas sayatan dangkal.

“Cuma segini?” gumamku.

Joda maju, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Dengan teriakan kecil, ia menghantam batang itu. Kapaknya terbenam separuh.

“Ha! Lihat itu!”

“Tapi kapakmu nyangkut.”

“Ah, diam.”

Kami berdua tertawa sampai perut sakit.

Waktu berlalu cepat. Mutiara demi mutiara, kami kumpulkan lagi. Sekarang tokenku bersinar terang dengan belasan titik cahaya. Kami mulai dikenal oleh beberapa pedagang di pasar, yang sering memanggil, “Hei, dua petualang kecil pemburu laut!” Kami hanya melambaikan tangan dengan bangga.

--

Suatu hari, saat kami duduk di dermaga memandangi kapal-kapal pedagang yang datang dari barat, Joda berkata pelan, “Kau sadar, Bas… kita sudah tiga bulan bertualang, tapi masih di sini-sini saja.”

Aku menatap laut yang berkilau. “Lalu mau ke mana?”

Ia mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi kupikir, kalau kita terus latihan, mungkin suatu hari kita bisa ikut ekspedisi besar ke reruntuhan Amaresh. Lodra bilang, di sana banyak harta karun.”

“Dan bahaya juga,” sahutku.

Ia menatapku sebentar, lalu tertawa kecil. “Ya, tapi kalau semua hal mudah, kita tidak akan pernah belajar, kan?”

Aku menendang air laut dengan kaki telanjang, membiarkan percikannya memantul di udara.

--

Langit sore memerah, dan burung-burung laut terbang pulang ke sarangnya di tebing. Aku menggenggam pedangku erat-erat. Angin asin menampar wajahku, dan suara ombak bercampur dengan tawa Joda di sampingku.

Aku tidak tahu apa yang menunggu di depan, tapi waktu itu rasanya dunia cukup luas — dan kami masih punya banyak hari untuk berlari di dalamnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana