Serangan Bandit
Malam itu, udara di Desa Jingga terasa aneh.
Bukan karena hujan, bukan juga karena petir, tapi karena sunyi yang tak biasa. Biasanya, saat malam tiba, suara jangkrik bersahut-sahutan dari kebun pisang dan rawa Sanura. Tapi kali ini, tidak ada satu pun. Hanya angin yang menggesek dedaunan, seperti napas panjang yang menahan sesuatu.
Aku baru saja selesai membersihkan pedang di belakang panti ketika Joda datang tergesa-gesa. Wajahnya basah, entah oleh keringat atau sisa embun.
“Basi,” katanya pelan tapi tegas. “Kau dengar?”
Aku berhenti mengelap bilah pedangku. “Apa?”
Ia menunjuk ke arah jalan barat, arah pasar kecil Desa Jingga.
Ada suara samar—ketukan logam, teriakan, lalu suara kayu patah.
Aku dan Joda saling pandang. Kami tidak perlu banyak bicara.
Kami sudah tahu sesuatu sedang terjadi.
--
Kami berlari menembus halaman panti. Beberapa anak kecil masih terjaga, menatap kami lewat jendela dengan wajah cemas. Pandita Ruben muncul dari balik pintu, jubahnya basah oleh embun malam.
“Ada yang datang dari luar desa,” katanya lirih. “Aku merasakan amarah. Banyak sekali.”
Aku mengangguk. “Kami akan lihat, Pandita.”
“Berhati-hatilah,” katanya. “Kegelapan sering datang bukan karena malam, tapi karena hati manusia.”
Kami tidak menjawab. Kami hanya berlari.
--
Di tepi desa, api kecil mulai menyala.
Satu rumah terbakar di bagian gudangnya. Di depan rumah itu, lima atau enam orang asing berdiri, membawa parang, tombak, dan obor.
Mereka bandit—itu bisa langsung terlihat dari pakaian mereka: kulit kusam, ikat kepala kotor, dan sabuk berisi benda curian. Salah satu dari mereka memegang karung besar berisi mutiara perak rawa, cahaya kecilnya memantul di kegelapan seperti mata ikan.
“Aku tahu tempat ini punya barang bagus!” teriak salah satu dari mereka. “Cari akar bercahaya itu! Dan logam biru! Serikat desa ini kaya dari rawa, bukan?”
Suaranya kasar, serak, penuh keyakinan bahwa tak ada yang bisa melawan mereka di sini.
--
Tapi malam itu, ada aku dan Joda.
Kami bersembunyi di balik pagar bambu.
Joda berbisik, “Lima orang, mungkin enam. Dua di dekat rumah, dua di kebun, satu di jalan utama.”
Aku menghitung cepat dalam kepala. “Kau ambil yang di kebun. Aku urus yang di jalan.”
“Baik.”
Angin membawa bau asap dan arang terbakar.
Di langit, bulan separuh tertutup awan, tapi cukup untuk membuat bayangan panjang di tanah.
Aku menarik napas panjang. Tanganku menggenggam gagang pedang yang mulai berpendar biru.
Seolah tahu apa yang akan terjadi, pedang itu bergetar ringan.
--
Aku melangkah ke jalan utama.
Seorang bandit bertubuh besar berdiri di sana, memegang obor dan parang. Ia tertawa saat melihatku mendekat.
“Hah! Anak kecil?” katanya. “Mau jadi pahlawan, ya?”
Aku tidak menjawab.
Begitu ia melangkah maju, aku langsung menyerang.
Ayunan pertamanya kuhindari dengan melompat ke samping, dan sebelum ia sempat membalikkan badan, pedangku sudah menebas dari bawah.
Suara logam bertemu logam.
Percikan biru beterbangan.
Pedangku bergetar, tapi bilahnya menembus parang itu sedikit, cukup untuk membuat bandit itu terkejut.
Ia mundur setengah langkah. Aku menekan lagi.
Gerakanku cepat—lebih cepat dari biasanya.
Setiap langkah terasa ringan, seolah tanah ikut mendukungku.
Pedangku berputar. Ia mencoba menangkis, tapi bilahnya terpental.
Dengan satu gerakan memutar, aku menebas gagang obornya, lalu menendangnya ke lumpur.
Api padam.
Ia mencoba kabur, tapi sebelum sempat berbalik, Joda muncul dari sisi kebun dengan kapak berkilat.
--
Benturan keras terdengar.
Kapak itu menghantam tanah, percikannya memantul ke batang pisang, dan bandit kedua roboh.
Dua lainnya berlari dari arah rumah yang terbakar. Mereka membawa busur dan pisau.
Panah pertama melesat ke arah Joda, tapi ia menangkisnya dengan kapak.
Aku maju, menebas udara, menciptakan riak biru yang memantulkan cahaya obor.
“Basi, ke kanan!” teriak Joda.
Aku lompat ke kanan tepat saat panah kedua lewat di tempatku berdiri tadi.
Joda berlari lurus ke depan, menabrak bandit pemanah, lalu mengayunkan kapaknya ke bawah.
Suara crak kayu dan logam beradu.
Kapak Joda bergetar, tapi tidak retak.
Urat emas di bilahnya menyala pelan, lalu memudar lagi.
--
Bandit terakhir mundur. Ia melihat kami berdua, lalu menoleh ke arah karung mutiara yang jatuh di tanah.
Ia memungutnya dan hendak kabur ke arah rawa.
Aku berlari mengejarnya. Lumpur membuat langkahku berat, tapi pedangku terasa ringan.
Kukira aku tak akan sempat, tapi saat bandit itu hampir melompati pagar bambu, pedangku seperti menarik tanganku sendiri—bergerak cepat, menusuk dari bawah.
Aku tak tahu apakah itu refleks atau bantuan dari kekuatan biru di bilahnya.
Yang kutahu, karung itu jatuh ke tanah, dan bandit itu terkapar.
--
Hujan mulai turun lagi.
Pelan-pelan, membasahi tanah, memadamkan bara api dari gudang yang terbakar.
Beberapa warga keluar dari rumah, membawa ember dan obor.
Lodra datang terakhir, berlari tanpa mantel, wajahnya pucat tapi tegas.
“Apa yang terjadi di sini?” tanyanya.
“Bandit,” jawab Joda. Nafasnya masih berat. “Mereka mencari mutiara dan akar bercahaya.”
Lodra menatap kami berdua lama, lalu memandangi pedangku dan kapak Joda yang masih berpendar samar di bawah hujan.
“Dan kalian yang menghentikan mereka?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk, masih memegang pedangku yang kini meneteskan air hujan dan darah bercampur lumpur.
--
Pagi datang perlahan.
Hujan reda. Asap tipis masih naik dari gudang yang terbakar, tapi desa aman.
Kami duduk di depan panti, meminum teh hangat yang diseduh oleh anak-anak kecil.
Joda diam, menggenggam kapaknya yang kini sudah kusam kembali.
“Aku kira tadi kita akan kalah,” katanya pelan.
Aku menatap pedangku. Cahaya birunya hilang, tapi permukaannya memantulkan langit abu-abu dengan lembut. “Aku juga,” kataku. “Tapi… entah kenapa mereka ikut bertarung bersama kita.”
“Siapa?”
Aku mengangkat pedangku sedikit. “Mereka ini. Logamnya. Batu dan akar itu. Rasanya seperti mereka juga ingin melindungi desa.”
Joda hanya tersenyum kecil. “Mungkin mereka memang bagian dari kita sekarang.”
Kami tidak bicara lagi.
Pandita Ruben datang membawa ramuan luka untuk Joda dan air garam hangat untukku.
“Desa aman,” katanya. “Kalian sudah melakukan yang seharusnya.”
Aku mengangguk. Tapi di dalam dadaku, ada perasaan lain—bukan bangga, bukan lega. Lebih seperti sesuatu yang diam-diam tumbuh.
Mungkin karena untuk pertama kalinya aku sadar: desa kecil kami ternyata punya musuh dari luar, bukan hanya rawa atau makhluk sihir, tapi manusia juga.
Comments
Post a Comment