Serangan Tiba-tiba
Malam itu, angin dari arah hutan kelapa Sanura terasa aneh. Tidak seperti biasanya. Ada bau manis dan anyir bercampur jadi satu, seperti getah kelapa yang terbakar. Aku terbangun karena suara anjing penjaga di belakang panti menggonggong keras-keras. Lantai bambu di bawahku bergetar halus setiap kali angin kencang berhembus lewat jendela. Di ranjang sebelah, Joda mendengkur pelan, tapi tidak lama—gonggongan berikutnya membuatnya duduk tegak.
“Ada apa?” katanya setengah ngantuk.
Aku belum sempat menjawab ketika kami mendengar bunyi lain: suara langkah terburu-buru di jalan desa, diikuti teriakan seseorang dari kejauhan.
“Serikat! Serikat! Ada serangan di kebun kelapa!”
Kami saling pandang, lalu tanpa bicara melompat turun dari ranjang. Di luar, langit masih gelap. Hanya lampu-lampu minyak di depan rumah warga yang mulai menyala satu-satu. Kami berlari ke arah suara itu, melewati jalan berbatu yang basah karena embun.
Di depan kantor serikat, paman petani kelapa, orang tua berkulit gelap dan tubuh kekar, sedang berbicara terburu-buru dengan Lodra. Nafasnya ngos-ngosan, bajunya sobek di bagian bahu.
“Mereka datang lagi! Tupai-tupai merah itu, tapi sekarang lebih banyak! Ada yang besar… sebesar anak manusia!” katanya sambil menunjuk ke arah hutan.
Lodra, dengan wajah serius dan rambut dikuncir setengah, menatap kami sekilas ketika kami datang. Tapi kali ini dia tidak mengusir. Ia hanya berkata, “Basi. Joda. Kalian yang paling tahu hutan Sanura, bukan? Kalian sering berburu di sana.”
Aku mengangguk cepat. “Ya.”
“Baik. Aku tidak bisa meninggalkan serikat malam ini, tapi kebun kelapa tidak boleh hancur. Kalian petualang resmi. Pergilah bantu Paman Lanos. Hati-hati.”
Nada suaranya bukan perintah keras. Tapi di matanya ada sesuatu yang membuat dadaku panas—seperti rasa ingin membuktikan diri.
Aku dan Joda segera berlari ke arah timur, menuju hutan kelapa Sanura. Bulan di langit tertutup awan, jadi kami hanya bisa mengandalkan lampu kristal kecil yang kami gantung di sabuk. Setiap langkah kami menimbulkan suara lembut di tanah berpasir, di antara batang-batang kelapa yang tinggi menjulang.
Dari jauh, kami mulai mendengar suara aneh: tawa-tawa kecil yang cepat, diselingi bunyi “trrt-trrt” seperti batu dipukul dengan batang. Lalu suara buah kelapa jatuh, keras sekali.
“Sudah dekat,” bisik Joda.
Kami berjongkok di balik batang kelapa, menajamkan pandang. Di depan sana, di bawah cahaya rembulan yang menembus awan, terlihat puluhan makhluk kecil berwarna merah jingga. Mereka berbentuk seperti tupai besar dengan ekor bulat tebal, seolah gumpalan kapas merah menyala. Mereka memanjat pohon, menggigit pelepah, menjatuhkan kelapa satu per satu ke tanah.
Tapi bukan itu yang membuat kami membeku.
Seekor tupai raksasa, sebesar tubuh manusia sepuluh tahun seperti kami, berdiri di tengah kebun. Matanya bersinar biru, giginya panjang seperti pisau. Ia mengeluarkan suara melengking—dan semua tupai merah berhenti, menoleh ke arahnya. Lalu mereka serentak berlari, membawa buah-buah kelapa ke arah hutan.
“Pemimpinnya,” gumamku pelan.
Joda mengangguk. “Kita harus kalahkan dia dulu. Kalau tidak, yang lain tak akan pergi.”
Kami mengambil posisi. Aku menarik pedang pendekku dari sarungnya, logamnya berkilat samar. Joda mengangkat kapak kecilnya. Kami tak bicara apa-apa lagi. Hanya angin yang lewat di antara pohon kelapa.
Aku maju duluan. Dari jarak sepuluh langkah, aku menendang batu kecil ke arah tupai besar itu untuk menarik perhatiannya. Batu itu mengenai bahunya—cukup untuk membuatnya menoleh. Matanya langsung menatapku tajam, lalu tubuhnya melompat ke arahku dengan kecepatan luar biasa.
Aku sempat menangkis, pedangku beradu dengan cakar kerasnya, menimbulkan percikan kecil cahaya sihir. Tenaganya kuat, membuat tanganku sedikit mati rasa. Tapi di saat itu, Joda sudah berlari dari sisi kanan, kapaknya diayunkan ke arah kaki makhluk itu.
Suara logam mengenai daging terdengar pelan. Tupai besar itu meringkik marah, memutar tubuhnya dan menampar Joda dengan ekornya. Tubuh Joda terlempar ke pasir, tapi ia cepat bangkit, tertawa kecil sambil meludah, “Kena dikit!”
Aku menekan maju lagi, menusukkan pedang ke arah bahu lawan, tapi makhluk itu menangkis dengan cakarnya. Kami bertukar serangan cepat—tebas, tusuk, hindar, lompat mundur. Semua latihan tiga bulan terakhir seolah keluar dengan sendirinya. Gerakanku terasa lebih ringan, lebih cepat, dan aku mulai bisa membaca pola geraknya.
Tupai besar itu melompat ke batang kelapa, lalu meluncur turun dengan kecepatan tinggi, berusaha menubrukku. Aku menunduk di detik terakhir, mendengar suara “whoosh” di atas kepala. Begitu mendarat, makhluk itu mengayun ekor bulatnya, mencoba memukulku dari belakang. Aku berguling ke samping, menebas cepat ke arah ekor itu—logam pedangku memantul tapi meninggalkan goresan tipis bercahaya biru.
“Joda! Sekarang!” teriakku.
Joda sudah menyiapkan tali jaring yang biasa kami pakai untuk menangkap bintang laut. Ia melemparkannya tinggi-tinggi ke arah kepala tupai besar itu. Jaring sihir itu berpendar sebentar, lalu menjerat wajahnya rapat. Makhluk itu mengamuk, mengayun-ayunkan tubuhnya ke segala arah.
Aku tak menunggu. Aku melompat maju, menebas dua kali ke bagian dadanya. Suara dentuman lembut terdengar—kulit kerasnya akhirnya robek sedikit. Darah biru kehijauan keluar, berbau seperti getah laut.
Tapi tupai besar itu masih belum jatuh. Ia berteriak panjang, lalu dengan satu hentakan kuat, jaringnya robek. Sekejap kemudian, cakarnya mengarah padaku.
Aku sempat menangkis, tapi dorongannya membuatku mundur dua langkah. Kakiku nyaris terpeleset oleh pasir basah.
Joda datang lagi dari sisi kiri. Kali ini ia tidak menyerang langsung, tapi memutar badan, mengayunkan kapaknya dari bawah ke atas. Tebasannya mengenai rahang bawah makhluk itu, membuat kepala tupai besar itu terangkat sejenak. Aku melihat celah. Aku menancapkan pedangku ke lehernya, dalam.
Suara pekik keras menggema di antara batang kelapa. Tubuh besar itu bergetar sebentar, lalu jatuh menimbun pasir. Ekor merahnya berkibar sekali, lalu diam.
Kami berdua terengah-engah. Joda jatuh terduduk, kapaknya masih di tangan. Aku menarik pedangku perlahan dari leher makhluk itu, darah biru mengalir ke pasir dan bercahaya redup.
Beberapa tupai kecil yang masih tersisa di sekitar kebun berhenti bergerak. Mereka menatap pemimpin mereka yang tak bernyawa, lalu satu per satu berlari ke arah hutan, menghilang dalam kegelapan.
Hening. Hanya suara daun kelapa bergesek tertiup angin.
Aku menjatuhkan diri duduk di pasir di sebelah Joda. Nafasku berat, tapi di dada terasa ringan. Kami saling pandang, lalu tertawa keras-keras, seperti dua anak bodoh yang baru saja menabrak pintu.
“Latihan kita nggak sia-sia, ya?” kata Joda sambil menggosok rambutnya yang kotor pasir.
Aku hanya mengangguk. Di wajahnya ada goresan kecil, tapi matanya bersinar seperti cahaya fajar.
Kami menunggu sampai langit timur mulai terang. Saat matahari pertama muncul, sinarnya memantul di bulu merah makhluk itu, membuatnya tampak seperti terbakar emas. Kami mengikat bangkainya dengan tali, menyeretnya perlahan ke arah desa. Beratnya hampir seperti menyeret batu besar, tapi kami tetap tertawa sepanjang jalan.
Ketika kami tiba di depan serikat, orang-orang sudah berkumpul. Paman Lanos berteriak girang, “Itu dia! Itu pemimpinnya!”
Anak-anak panti bersorak di belakang pagar, menepuk-nepuk bahuku. Aku nyaris tak bisa bicara, terlalu lelah, tapi perasaan hangat itu tidak bisa aku jelaskan. Lodra keluar dari pintu serikat, menatap kami lama, lalu tersenyum kecil. “Kalian berdua benar-benar petualang.”
Aku tidak menjawab. Hanya menatap pedangku yang berlumur darah biru dan pasir. Di ujung matahari pagi, kelapa di kejauhan bergoyang perlahan, dan suara burung-burung kembali terdengar.
Untuk pertama kalinya, aku merasa dunia benar-benar terbuka di depan kami—luas, berdebu, penuh suara, dan belum selesai.
Comments
Post a Comment