Sidang Di Balai Desa
Hujan baru saja berhenti ketika lonceng Serikat Sihir Desa Jingga dibunyikan tiga kali. Suaranya menggema ke seluruh penjuru desa, memantul di dinding batu dan atap-atap daun kering yang masih meneteskan air. Tanda itu tidak biasa—tiga denting hanya dilakukan bila ada urusan penting yang menyangkut keselamatan desa atau pelanggaran serius dari anggota Serikat.
Anak-anak berlarian ke jalan, ibu-ibu memanggil mereka agar kembali ke rumah, dan beberapa petualang menghentikan pekerjaannya. Di tengah balai desa, di bawah tiang kayu yang menjulang tinggi, sudah berdiri Pandita Ruben, mengenakan jubah abu-abu dengan simbol matahari Jingga di dada. Di sisi kanan duduk Kepala Desa Lodra, dengan wajah tua namun tajam, sementara di sisi kiri duduk Ketua Serikat Sihir Desa, perempuan muda bernama Mira Senat yang dikenal tegas.
Dua kursi kecil diletakkan di tengah. Di sanalah Basi dan Joda duduk, menunduk.
Wajah mereka pucat. Luka-luka di tubuh Basi masih belum kering sepenuhnya; sebagian kulitnya memerah karena sisa racun kodok ungu dari rawa Sanura. Sementara Joda terlihat lebih tenang, walau bekas luka di bibirnya masih tampak, tanda bahwa ia belum sepenuhnya pulih dari demam akibat racun yang sama.
Suasana balai itu hening. Semua anggota serikat, termasuk anak-anak muda dari panti asuhan tempat mereka biasa berbagi makan, hadir. Di luar, kabut lembut sisa hujan bergulung di jalan tanah.
Mira membuka pembicaraan.
“Basi, Joda,” katanya perlahan. “Kalian tahu kenapa kami memanggil kalian ke sini hari ini?”
Joda menatap ke bawah.
“Iya, Ketua,” jawabnya pelan.
“Ceritakan,” sambung Mira.
Basi menarik napas panjang. “Aku… pergi sendiri ke rawa Sanura. Aku ingin membasmi semua kodok ungu itu. Aku tidak menunggu izin Serikat. Aku ingin menebus kesalahanku. Karena Joda terluka waktu itu… karena aku tidak cukup kuat.”
Kata-katanya menggantung di udara. Pandita Ruben memejamkan mata sejenak, seperti menimbang perasaan antara iba dan amarah.
Kepala Desa Lodra mengetuk tongkatnya di lantai kayu. “Dan akibatnya, kau hampir mati, Basi.”
“Ya, Kepala Desa,” jawab Basi lirih. “Aku tahu.”
Lodra memandang tajam. “Tahu saja tidak cukup. Perbuatanmu membuat dua anggota tim penyelamat harus turun ke rawa malam hari. Mereka hampir kehilangan arah karena kabut racun. Jika bukan karena lentera sihir milik Pandita Ruben, kau mungkin tidak akan duduk di sini sekarang.”
Balai kembali sunyi. Suara serangga dari luar terdengar jelas, diselingi tetes air yang jatuh dari atap jerami.
Pandita Ruben akhirnya berbicara.
“Anak muda,” katanya dengan nada lembut tapi dalam, “niatmu untuk menebus kesalahan tidak salah. Tapi caramu salah besar. Sihir dan keberanian tak ada artinya jika tidak disertai kebijaksanaan. Rawa Sanura bukan tempat untuk membuktikan diri. Ia tempat untuk belajar kerendahan hati.”
Basi menunduk makin dalam. Sementara Joda menatap temannya, menahan kata-kata yang rasanya ingin ia keluarkan.
Namun Mira menatap keduanya. “Kalian berdua adalah salah satu tim pemburu muda terbaik yang dimiliki Desa Jingga. Sejak perburuan babi hutan jingga, banyak orang menaruh harapan pada kalian. Tapi kalian juga masih anak-anak dari panti asuhan yang dibesarkan dengan kebersamaan. Kalian tahu apa artinya itu?”
“Artinya kami tidak boleh bertindak sendiri,” jawab Joda lirih.
“Benar,” ujar Mira. “Serikat tidak melatih petarung untuk menjadi pahlawan tunggal. Kami melatih kalian untuk saling melindungi.”
Pandita Ruben menambahkan, “Kalian berdua, tanpa sadar, sedang diuji oleh alam. Alam memiliki caranya sendiri untuk menakar siapa yang siap dan siapa yang belum. Dan kalian belum siap menghadapi racun kesombongan.”
Basi mengangkat kepala sedikit. “Kesombongan?”
Ruben mengangguk. “Ya. Kesombongan yang halus—keinginan untuk menebus kesalahan dengan pembuktian pribadi, bukan dengan kebijaksanaan. Sering kali racun paling berbahaya bukan yang keluar dari kodok ungu, tapi yang tumbuh dari dalam hati.”
Kata-kata itu menusuk.
Joda menunduk lebih dalam, sedangkan Basi memejamkan mata, menahan sesuatu yang sulit dijelaskan—antara malu, sakit, dan penyesalan yang belum sembuh.
--
Kesaksian dari Para Saksi
Setelah jeda, Kepala Desa memanggil beberapa saksi.
Pertama, seorang petualang tua bernama Toran yang ikut menyelamatkan Basi malam itu.
“Dia hampir mati,” kata Toran sambil menunjuk ke arah Basi. “Racun kodok ungu sudah masuk ke paru-parunya. Kami menemukannya tergeletak di lumpur, masih memegang pedang, mulutnya berbusa. Kalau kami terlambat sedikit, ia tidak akan kembali.”
Balai hening. Semua menatap Basi.
“Tapi,” lanjut Toran, “aku juga melihat sesuatu. Ia tidak lari. Ia bertarung sampai akhir. Meski tubuhnya mulai membengkak, dia terus menusuk kodok-kodok itu agar racun mereka tak menyebar ke rawa yang lain. Kalau bukan karena dia, mungkin rawa Sanura sudah tak bisa dipulihkan.”
Mira menatap Toran dalam-dalam. “Kau ingin mengatakan dia pahlawan?”
Toran menggeleng. “Tidak. Aku hanya mengatakan bahwa di dalam kesalahan kadang ada keberanian yang belum terarah.”
Pandita Ruben menatap langit-langit, seakan memikirkan makna itu.
“Keberanian yang belum terarah,” gumamnya, “adalah bahan mentah dari kebijaksanaan.”
--
Joda Angkat Bicara
Setelah semua saksi bicara, Joda akhirnya bersuara.
“Semua ini salahku juga,” katanya tiba-tiba. Suaranya terdengar bergetar. “Kalau saja aku tidak terlalu keras pada Basi waktu itu, dia mungkin tidak akan pergi sendiri. Aku marah padanya karena hampir membuatku mati… aku marah karena aku takut kehilangan sahabatku. Tapi aku malah membuat dia merasa tidak berguna.”
Basi menatap Joda dengan mata berkaca-kaca.
“Joda, itu bukan salahmu,” katanya pelan.
“Sudahlah,” potong Kepala Desa Lodra. “Kesalahan bukan soal siapa lebih benar, tapi bagaimana kalian menanggungnya bersama.”
Pandita Ruben berdiri. Ia berjalan ke depan, lalu mengangkat tongkat kayu hitam yang biasa ia pakai saat ritual penyembuhan.
“Kalian berdua telah melewati masa sulit. Hari ini, kami tidak akan menghukum dengan cambuk, denda, atau pengucilan. Tapi kami memberi kalian ujian baru—ujian kebersamaan.”
Kepala Desa Lodra mengangguk setuju.
“Malam ini kalian akan bermalam di tepi rawa Sanura. Tapi bukan untuk bertarung. Kalian akan menjaga tempat itu—menenangkan roh-roh air yang terusik oleh racun dan kemarahan kalian.”
Joda dan Basi saling pandang. Tak ada keberatan di mata mereka. Mereka hanya menunduk dan mengangguk pelan.
Comments
Post a Comment