Tapak Naga Emas

 Kabut menggantung berat di lembah timur. Pohon-pohon di sana berdiri rapat, batangnya hitam basah oleh lumut, dan udara seolah membeku oleh sesuatu yang tak wajar. Di tempat inilah Lodra, Basi, dan Joda berhenti—tepat di depan dataran batu luas dengan lingkar sihir terukir kasar di tanah.

“Aku bisa merasakannya,” kata Lodra pelan. “Mereka di sini.”

Cahaya biru dari tongkatnya bergetar. Lingkar sihir itu masih hangat, artinya baru saja digunakan. Di tengahnya, simbol spiral bercampur darah hewan dan abu kayu hitam. Dari celah tanah, asap hitam keluar perlahan, berputar seperti nafas dari dunia bawah.

Joda menelan ludah. “Kau yakin kita cuma bertiga?”

“Kalau menunggu bala bantuan, desa sudah jadi debu,” jawab Lodra. “Kita tahan dulu.”

Angin bertiup kencang, membawa bau busuk seperti daging terbakar. Dari balik kabut, muncul bayangan manusia—bukan satu, tapi banyak. Mereka memakai jubah hitam dengan tali merah di pinggang, wajahnya tertutup topeng kayu berukir wajah tangisan.

Salah satunya tertawa kecil. “Serikat Sihir Jingga rupanya cepat juga. Tapi kalian datang sendirian? Sayang sekali.”

Lodra mengangkat tongkatnya. “Kalian melanggar batas lembah. Pemanggilan roh tingkat ketiga dilarang tanpa izin. Siapa pemimpin kalian?”

Orang bertopeng itu menunduk, lalu mengangkat tangannya. Dari balik jubah, tampak simbol spiral yang sama terukir di dadanya, menyala merah. “Kami adalah Persekutuan Akar Hitam. Kami datang bukan untuk berunding, tapi membangunkan sang pengacau. Rawa dan lembah ini akan jadi tempat pertama.”

Sebelum Lodra sempat menjawab, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Dari tengah lingkar sihir, muncul bentuk besar seperti belatung raksasa bertanduk dua, matanya merah tua, kulitnya hitam licin seperti terbuat dari lumpur pekat. Ia meraung, dan suara itu membuat daun-daun bergetar seperti logam.

“Langkah mundur!” teriak Lodra.

Basi segera menarik pedangnya, bilah biru itu menyala tipis. Joda mengayunkan kapaknya, serat emas di dalam logamnya berdenyut cepat.

“Jaga jarak!” seru Lodra sambil menancapkan tongkat ke tanah. Ia membaca mantra cepat, membentuk lingkar pelindung biru di sekitar mereka. Tapi makhluk itu lebih cepat. Rahangnya membuka, menyemburkan semburan asap hitam yang membakar udara.

Pelindung Lodra retak. Basi dan Joda terdorong ke belakang, tubuh mereka menabrak batu.

“Paman Nanu bilang,” gumam Basi dengan napas berat, “logam hidup akan melindungi niatnya. Mari kita lihat apakah benar.”

Ia berlari ke depan, mengayunkan pedangnya ke arah kepala makhluk itu. Bilah birunya bergetar, membelah udara dan memantulkan cahaya dari kabut. Serangannya berhasil melukai sisi wajah makhluk itu—tapi darah yang keluar bukan merah, melainkan asap hitam yang berubah jadi belatung kecil saat jatuh ke tanah.

Joda menyusul. Ia melompat tinggi, mengayunkan kapaknya ke bagian punggung. Suara keras bergema, seperti besi dipukul palu. Tapi tubuh makhluk itu terlalu keras. Joda terhempas mundur, jatuh tersungkur di tanah.

Lodra berteriak, “Jangan lawan kekuatannya langsung! Hancurkan lingkar pemanggilnya dulu!”

Namun bandit-bandit bertopeng sudah bergerak, mengelilingi mereka, membentuk barisan setengah lingkaran. Mereka mulai membaca mantra, dan tanah di bawah kaki mereka bergetar, memunculkan duri hitam dari lumpur.

Basi menangkis satu serangan, tapi pundaknya tergores. Asap hitam keluar dari luka itu. Joda menendang bandit lain dan menebas tali mantra di tangannya, tapi semakin banyak yang muncul.

“Kita terpojok!” teriak Joda. “Lodra, apa yang harus—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara petir terdengar dari kejauhan. Bukan petir biasa—melainkan suara dalam, berat, dan bergema seperti raungan naga.

Udara mendadak bergetar. Hujan turun dari langit tanpa awan, menimpa tanah dengan butiran cahaya keemasan.

Basi menatap ke arah sumbernya, matanya membesar. “Itu… Pandita Ruben?”

Dari balik pepohonan, seseorang berjalan perlahan. Jubah putihnya berkibar tertiup angin, dan di sekeliling tubuhnya tampak lingkaran aura keemasan yang menari lembut. Tapi tiap langkahnya menimbulkan getaran halus di tanah, seperti bumi sedang menunduk menyambutnya.

“Cukup,” katanya, suaranya tenang tapi menggema ke seluruh lembah. “Aku sudah lama tak melihat pemanggilan seceroboh ini.”

Bandit-bandit berhenti sejenak. Beberapa mundur tanpa sadar. Pemimpin mereka mengangkat tangan, mencoba memerintah makhluk hitam itu menyerang. Tapi Ruben hanya mengangkat satu jari.

Cahaya keemasan meledak.

Dalam sekejap, tubuhnya lenyap dari pandangan—atau lebih tepatnya, bergerak terlalu cepat untuk dilihat. Di udara, hanya tersisa jejak bayangan emas, seperti naga panjang yang berputar di antara kabut.

“Dia… hilang?” gumam Joda.

“Tidak,” kata Lodra pelan, matanya menatap ke segala arah. “Dia di mana-mana.”

Tiba-tiba, tiga bandit terhempas bersamaan ke udara. Dua lainnya terjatuh ke tanah tanpa sempat menjerit. Pandita Ruben muncul di antara mereka, gerakannya seperti kilat, tapi setiap pukulannya tampak terkendali, seolah bukan kemarahan, melainkan hukum alam yang sedang dijalankan.

Setiap kali tangannya menyentuh udara, muncul bentuk naga emas samar yang menggeliat, melingkari tubuhnya, menelan serangan, lalu menghantam balik dengan tenaga menggelegar.

Tapak Naga Emas.” gumam Lodra pelan, matanya menatap tak percaya.

Itu adalah jurus tingkat tinggi dari aliran bela-diri sihir tua yang konon sudah punah. Hanya segelintir pandita dari era lama yang pernah menguasainya.

Makhluk kekacauan meraung marah. Ia melompat ke arah Ruben, rahangnya terbuka lebar, mencoba menelan tubuh manusia itu. Tapi Ruben berdiri tenang, menatap langsung ke arah makhluk itu.

“Dari tanah kau lahir,” katanya pelan, “dan ke tanah pula kau kembali.”

Ia menekuk lututnya sedikit, lalu menapak keras ke tanah. Suara dentuman terdengar seperti guntur yang terbalik. Dari telapak kakinya, gelombang cahaya emas meluas cepat—berbentuk naga besar yang menggeliat keluar dari bumi, menerjang ke arah makhluk itu.

Naga emas itu melilit tubuh makhluk kekacauan, memelintirnya di udara. Dari celah sisik emas, keluar semburan cahaya dan bunyi logam retak. Dalam beberapa detik, makhluk itu berteriak—suara panjang yang menyayat udara—sebelum tubuhnya pecah menjadi debu hitam dan lenyap disapu cahaya.

Ketika semuanya usai, Ruben berdiri diam. Napasnya berat, tapi matanya tetap tenang.

Basi dan Joda mendekat perlahan. Kabut mulai menipis, dan langit kembali memperlihatkan warna biru kelam.

“Pandita…” ujar Basi pelan, “apa itu barusan?”

Ruben menatapnya, senyum kecil di bibirnya. “Sesuatu yang seharusnya tidak perlu kugunakan lagi. Tapi kadang, untuk menegur dunia, naga harus bangun sebentar.”

Lodra mendekat, menunduk hormat. “Kau menyelamatkan kami. Tapi… apa sebenarnya Persekutuan Akar Hitam itu?”

Ruben menatap arah barat, tempat kabut perlahan menghilang. “Mereka bukan sekadar bandit. Mereka penyembah roh lama—roh kehancuran yang disegel di bawah lembah ini ribuan tahun lalu. Dan sepertinya, segel itu mulai retak.”

Joda mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, kita harus menghentikan mereka sebelum—”

Ruben menggeleng. “Belum waktunya menyerang. Kita harus tahu dulu siapa yang memimpin mereka. Ini bukan perang kecil. Ini peringatan.”

Mereka semua diam. Angin bertiup perlahan, membawa aroma lumpur basah dan bekas sihir terbakar.

Ruben memandang Basi dan Joda bergantian. “Kalian berdua sudah melangkah terlalu jauh untuk ukuran anak-anak panti. Tapi dunia memang memilih kalian. Bersiaplah. Apa yang kalian tempa malam itu—batu biru dan akar bercahaya—itu bukan kebetulan. Alam sudah menulis bagian kalian jauh sebelum kalian lahir.”

Basi menunduk, menggenggam pedangnya yang masih berpendar lembut. “Kalau itu benar,” katanya pelan, “maka kami akan menjaganya. Apa pun yang datang dari bawah tanah itu.”

Ruben tersenyum. “Itulah yang kubutuhkan. Penjaga muda, yang belum takut pada gelap tapi tetap mengingat cahaya.”

Ia lalu menatap langit. Hujan emas perlahan berhenti, menyisakan embun yang berkilau di atas tanah.

“Pergilah ke desa,” katanya. “Beristirahatlah. Aku akan menutup altar ini dan memanggil perlindungan dari Serikat Pusat. Tapi ingat, setiap kali naga menampakkan diri, dunia akan bergetar balik. Gelombang ini belum selesai.”

Mereka berbalik meninggalkan lembah itu. Basi sempat menoleh sekali lagi. Di kejauhan, sosok Ruben berdiri di tengah kabut, cahaya emasnya masih menyala redup, membentuk siluet seekor naga besar yang melingkar di belakangnya—diam, tapi hidup.

Rawa, hutan, dan langit menjadi satu warna senja yang aneh. Seolah bumi menahan napas, menunggu bab berikutnya dari sesuatu yang baru saja dimulai.

Dan di kejauhan, samar, terdengar suara lain. Suara yang mirip bisikan:

“Kau boleh mengalahkan kami hari ini, Pandita…
Tapi akar sudah tumbuh di bawah tanah.”

Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana