Tupai Besar Ekor Bulat

Hari itu angin laut bertiup lebih kencang dari biasanya.

Langit cerah tapi awannya tipis-tipis, seperti selapis kain yang ditarik melintasi biru pagi. Aku dan Joda baru saja selesai membersihkan halaman panti asuhan, ketika suara langkah cepat terdengar dari arah jalan berbatu. Kami menoleh hampir bersamaan. Dari kejauhan, terlihat Lodra berlari kecil ke arah kami sambil membawa gulungan kertas. Rambutnya yang dikepang dua berayun ke kiri dan kanan, dan rok panjangnya menempel pada betis karena keringat.

“Basi! Joda!” serunya. “Ada misi resmi buat kalian berdua!”

Joda langsung meletakkan sapunya dan berlari. Aku menyusul. Kami berhenti di depan gerbang panti, napas kami hampir bersamaan dengan napas Lodra yang masih tersengal. Ia membuka gulungan kertasnya dan menatap kami dengan mata yang bersinar-sinar seperti sedang menahan tawa.

“Misi ini kelas dasar, tapi... agak besar.”

“Seberapa besar?” tanyaku.

“Seratus ekor,” jawabnya, sambil menepuk gulungan itu.

Aku dan Joda berpandangan.

“Seratus ekor apa?” tanya Joda.

“Tupai besar ekor bulat. Di hutan kelapa Sanura. Mereka mulai merusak pohon kelapa milik warga,” kata Lodra, kali ini dengan nada seperti petugas sungguhan. “Kalian berdua terdaftar sebagai petualang resmi. Ini kesempatan pertama kalian menerima tugas langsung dari serikat.”


Aku tidak tahu kenapa jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Bukan karena takut — lebih karena rasanya seperti mimpi yang akhirnya jadi kenyataan.

Lodra menyerahkan gulungan kertas itu padaku. Di atasnya ada cap serikat berwarna biru, gambar tiga bintang kecil di dalam lingkaran. Di bawahnya tertulis:

Misi Resmi Tingkat Dasar: Penanganan Gangguan Tupai Ekor Bulat – Hutan Kelapa Sanura. Target: 100 ekor. Batas waktu: 10 hari.

Aku memegangnya hati-hati, seperti sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.

“Seratus ekor… banyak juga,” gumamku.

“Itu bisa dua minggu kerja,” kata Joda, senyum lebarnya nyaris menutupi wajahnya. “Tapi kita bisa!”


Lodra tersenyum, lalu menyodorkan dua kantong kain kecil.

“Ini bekal dari serikat — bubuk penyembuh, dan juga tali perangkap. Pandita Ruben sudah memberi izin. Tapi ingat, jangan memaksakan diri. Tupai besar itu cepat, dan kadang mereka menyerang dalam kelompok.”

Kami mengangguk bersamaan.

Pandita Ruben keluar dari halaman panti, menatap kami dari balik pintu kayu.

“Berhati-hatilah,” katanya pelan. “Dan jangan lupa pulang sebelum gelap.”

Kami berangkat pagi itu juga.


---


Hutan kelapa Sanura terletak di timur Desa Jingga, sekitar satu jam berjalan kaki dari tepi pantai. Jalan ke sana melewati kebun kelapa milik Paman Lanos, lalu menurun ke arah rawa kecil sebelum akhirnya memasuki wilayah penuh pohon kelapa yang tumbuh rapat. Suara burung dan jangkrik bercampur dengan bunyi dedaunan yang bergesekan.

Aku membawa pedang bajaku, terikat di pinggang. Joda menenteng kapaknya di bahu.

Kami tidak banyak bicara di jalan, hanya sesekali menendang batu atau menebas rumput liar. Tapi di wajah Joda aku bisa melihat semangat yang sama seperti yang kurasakan — semangat yang susah dijelaskan, tapi hangat di dada.

Begitu sampai di hutan, kami berhenti di tepi batang kelapa besar yang tumbang.

Bau manis kelapa bercampur dengan aroma tanah basah. Di atas sana, beberapa tupai besar ekor bulat melompat dari satu pohon ke pohon lain. Bentuknya seperti tupai biasa, tapi ukurannya sebesar kucing, dan ekornya bulat mengembang seperti bola kapas.


Aku menghela napas. “Seratus ekor…”

Joda mengangguk. “Kita mulai dari satu dulu.”

Kami menyiapkan tali perangkap.

Joda mengikatnya di antara dua batang kelapa muda, sementara aku memegang seikat kelapa muda yang kupotong untuk umpan. Kami menggantungnya di tengah-tengah. Tidak butuh waktu lama sampai seekor tupai besar turun mendekat.

Matanya bulat hitam, tubuhnya bergetar cepat, lalu dengan lompatan kecil ia menukik ke arah kelapa. Saat itu juga, tali perangkap menegang. Tupai itu berteriak kecil dan menggeliat. Joda menarik talinya kuat-kuat, aku langsung menusukkan pedang pendekku ke tanah di dekatnya untuk menahan.


Tupai itu mencoba menggigit, tapi kami sudah terbiasa menghindar cepat.

Gerakan hindaranku seperti yang kami latih di pantai — satu langkah miring, putar tubuh, tebas ringan di sisi ekor. Tidak membunuh, hanya membuatnya pingsan. Kami tidak perlu membunuh semuanya, cukup menakuti dan memindahkan yang berlebih ke sisi dalam hutan.

“Cepat juga,” kata Joda sambil mengikat tupai itu.

“Kayak bintang laut yang bisa lompat,” jawabku, tertawa.

Hari itu kami menangkap tujuh ekor.

Sebagian kami lepaskan ke arah rawa, sebagian kami bawa ke pos serikat kecil di pinggir hutan untuk didata. Lodra bilang yang penting jumlahnya dikurangi, bukan dimusnahkan. Tupai-tupai itu penting untuk menjaga keseimbangan serangga hutan. Aku tidak begitu paham maksudnya, tapi kami tetap patuh.


Hari kedua kami membuat rencana baru.

Alih-alih membuat perangkap tunggal, kami membagi peran. Aku bertugas memancing dengan suara panggilan kecil, sementara Joda bergerak diam-diam di belakang. Kami menebas ranting untuk membuka jalan, menandai tiap titik dengan daun kelapa.

Tupai-tupai itu lincah sekali. Kadang mereka berlari di tanah, kadang di atas dahan. Tapi kami juga sudah semakin lincah. Latihan tiga bulan terakhir terasa berguna di sini. Aku bisa menebas ranting dengan cepat tanpa kehilangan arah pandang. Gerakan tanganku mengikuti apa yang kami sebut “putaran laut” — tusuk cepat, putar tubuh, tebas dari sisi.

Sore hari, kulit kami penuh debu dan peluh.

Kami duduk di bawah pohon kelapa, meneguk air dari buah yang kami temukan. Matahari menembus celah daun, membuat titik-titik cahaya di tanah. Suara tupai terdengar lagi di kejauhan, tapi kami terlalu lelah untuk mengejar.


“Mungkin baru lima belas,” kataku sambil menghitung tanda di papan kecil.

“Masih jauh dari seratus,” jawab Joda, tapi ia tetap tersenyum. “Kita bisa. Kita tinggal di sini saja sampai selesai.”

Kami tertawa. Kami tahu kami tidak benar-benar akan tinggal, tapi ide itu lucu.

Malam itu kami kembali ke desa. Pandita Ruben sudah menyiapkan sup kelapa dan roti madu. Semua anak panti bertanya bagaimana rasanya menerima misi resmi. Kami bercerita panjang lebar sampai ngantuk.

Keesokan harinya kami kembali ke hutan.

Langit agak mendung. Angin membawa bau laut yang lembap. Hari itu kami memutuskan untuk berlatih sekalian bertarung. Tidak lagi hanya perangkap, tapi melatih teknik menangkis dan serangan berpasangan.

Kami berdiri saling berhadapan, pedang dan kapak siap di tangan.

Ketika seekor tupai besar muncul, Joda maju lebih dulu, menebas ranting tempat hewan itu berdiri. Tupai itu meloncat ke arahku. Aku mengangkat pedang, memutar tubuh, menangkis dengan bilah miring. Benturan kecil terdengar — hanya kuku melawan baja, tapi cukup membuat tupai itu terkejut. Joda memanfaatkan momen itu untuk melompat dari sisi kiri dan menebas pelan ekor tupai itu.

Hewan itu terguling, pingsan. Kami saling berpandangan, tertawa lepas.

“Kau lihat tadi?” seru Joda.

“Gerakannya pas banget!” kataku.


Hari-hari berikutnya, kami semakin mahir. Kami mulai bisa memprediksi arah lompatan mereka, menebak dari mana suara mereka datang. Kadang kami menangkap sepuluh ekor dalam satu hari. Kadang hanya dua, tapi setiap kali gerakan kami terasa lebih ringan.


Sampai suatu sore, ketika langit oranye memudar jadi ungu, kami mencapai angka sembilan puluh tujuh.

Tiga lagi untuk genap seratus.

Kami duduk di atas batang kelapa yang tumbang, mengatur napas.

Joda mengelap kapaknya, aku memutar pedang di tangan. Lodra datang dengan seragam serikatnya, menatap kami dari kejauhan dengan senyum kecil. Ia membawa keranjang rotan berisi air kelapa dan roti.

“Kalian luar biasa,” katanya. “Tinggal tiga lagi.”

Aku menatapnya, lalu menatap hutan. “Tiga lagi pasti bisa sebelum matahari terbenam.”

“Jangan buru-buru,” katanya lembut. “Kalian sudah jauh melampaui ekspektasi siapa pun.”


Tapi kami sudah berdiri.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Sekalian saja, biar besok pagi bisa tidur lebih lama.”

Joda tertawa, lalu berlari duluan.

Kami menembus semak-semak, mencari tanda gerakan di dahan.

Suara daun bergesek di atas kepala. Seekor tupai besar melompat dari satu pohon ke pohon lain, lebih besar dari yang lain-lain. Kami mengejarnya. Aku berlari di bawah, Joda mengambil jalur memutar. Tupai itu bergerak cepat, tapi kali ini tubuhku juga terasa lebih cepat dari sebelumnya.

Aku menebas ranting di depanku, menangkis cabang yang jatuh, lalu melompat ke arah pohon kecil. Tupai itu turun, mengibaskan ekornya yang tebal. Aku mengangkat pedang, memutar tubuh seperti yang biasa kami latih di pantai — tusuk, putar, tebas. Sekali gerak, cepat dan ringan.


Capit pedangku mengenai ekor tupai itu, dan ia terjatuh ke tanah.

Sebelum ia sempat bangun, Joda sudah tiba dari arah kiri, kapaknya menahan tubuh hewan itu dengan hati-hati. Kami menatap satu sama lain, tersenyum lega.


Itu yang keseratus.

Kami membawa semua hasil tangkapan ke pos serikat kecil. Lodra mencatat jumlahnya satu per satu, jarinya bergerak cepat di atas papan logam sihir. Setiap kali satu nama muncul, kristal biru di meja berkilau pelan.

“Seratus tepat,” katanya akhirnya. “Misi selesai.”

Kami berdua tertawa keras, saling menepuk punggung.

Badan kami penuh luka gores, tangan kami kotor oleh tanah dan getah pohon, tapi rasanya ringan sekali. Lodra memberikan kami masing-masing sekeping token kristal tambahan, tanda keberhasilan misi resmi pertama.


Sore itu, matahari tenggelam di balik deretan kelapa Sanura.

Kami duduk bertiga di batang pohon tumbang, makan roti dan minum air kelapa. Di kejauhan, suara tupai masih terdengar samar. Angin mengibaskan rambut kami, dan warna jingga langit jatuh di pedang dan kapak yang tergeletak di samping kami.

Aku menatap pedangku lama-lama. Bilahnya memantulkan cahaya senja, berkilat seperti air. Aku mengangkatnya sedikit, memainkannya di udara.

Lodra menatap kami dengan tatapan yang aneh — mungkin bangga, mungkin cemas, aku tidak tahu.

Yang aku tahu, hari itu aku merasa seperti benar-benar petualang.

Bukan karena pedang, bukan karena token, tapi karena untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa latihan-latihan kami di pantai dulu benar-benar berarti.

Dan malam itu, saat kami berjalan pulang ke desa, pasir di jalan berkilau samar di bawah sinar bulan. Aku menoleh ke belakang, ke arah hutan kelapa Sanura yang perlahan tenggelam dalam kabut.

Entah kenapa, aku merasa kami akan ke sana lagi suatu hari nanti.


Comments

Popular posts from this blog

Pegunungan Madhyaloka

Setelah Pertempuran

Hutan Mahawana