Posts

Tapak Naga Emas

 Kabut menggantung berat di lembah timur. Pohon-pohon di sana berdiri rapat, batangnya hitam basah oleh lumut, dan udara seolah membeku oleh sesuatu yang tak wajar. Di tempat inilah Lodra, Basi, dan Joda berhenti—tepat di depan dataran batu luas dengan lingkar sihir terukir kasar di tanah. “Aku bisa merasakannya,” kata Lodra pelan. “Mereka di sini.” Cahaya biru dari tongkatnya bergetar. Lingkar sihir itu masih hangat, artinya baru saja digunakan. Di tengahnya, simbol spiral bercampur darah hewan dan abu kayu hitam. Dari celah tanah, asap hitam keluar perlahan, berputar seperti nafas dari dunia bawah. Joda menelan ludah. “Kau yakin kita cuma bertiga?” “Kalau menunggu bala bantuan, desa sudah jadi debu,” jawab Lodra. “Kita tahan dulu.” Angin bertiup kencang, membawa bau busuk seperti daging terbakar. Dari balik kabut, muncul bayangan manusia—bukan satu, tapi banyak. Mereka memakai jubah hitam dengan tali merah di pinggang, wajahnya tertutup topeng kayu berukir wajah tangisan. S...

Dampak Serangan Bandit

 Desa Jingga pagi itu seperti kehilangan warna. Bau asap masih tersisa di udara, samar-samar bercampur dengan aroma kelapa hangus dan lumpur basah. Jalan utama desa berubah jadi lorong abu, rumah-rumah yang kemarin berdiri dengan atap daun rumbia kini tinggal rangka kayu gosong. Basi dan Joda duduk di depan panti asuhan, diam. Di pangkuan Basi, pedangnya yang dulu berkilat kini retak di sisi bilah. Kapak kecil Joda tergeletak di tanah, penuh noda hitam sisa darah yang sudah mengering. Mereka berdua tak banyak bicara sejak fajar tadi—mungkin karena belum sempat benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi. Pandita Ruben berjalan perlahan menyusuri jalan tanah, memeriksa satu per satu rumah yang masih bisa diselamatkan. Serikat sihir mengirim beberapa orang pagi-pagi sekali, dipimpin oleh Lodra sendiri. Mereka datang membawa gulungan sihir pelindung dan peti kayu penuh ramuan. Di leher mereka tergantung kristal penerang yang berdenyut lembut. “Bandit dari arah timur,” kata sala...

Serangan Bandit

 Malam itu, udara di Desa Jingga terasa aneh. Bukan karena hujan, bukan juga karena petir, tapi karena sunyi yang tak biasa . Biasanya, saat malam tiba, suara jangkrik bersahut-sahutan dari kebun pisang dan rawa Sanura. Tapi kali ini, tidak ada satu pun. Hanya angin yang menggesek dedaunan, seperti napas panjang yang menahan sesuatu. Aku baru saja selesai membersihkan pedang di belakang panti ketika Joda datang tergesa-gesa. Wajahnya basah, entah oleh keringat atau sisa embun. “Basi,” katanya pelan tapi tegas. “Kau dengar?” Aku berhenti mengelap bilah pedangku. “Apa?” Ia menunjuk ke arah jalan barat, arah pasar kecil Desa Jingga. Ada suara samar— ketukan logam, teriakan, lalu suara kayu patah. Aku dan Joda saling pandang. Kami tidak perlu banyak bicara. Kami sudah tahu sesuatu sedang terjadi. -- Kami berlari menembus halaman panti. Beberapa anak kecil masih terjaga, menatap kami lewat jendela dengan wajah cemas. Pandita Ruben muncul dari balik pintu, jubahnya basah oleh em...

Setelah Pertempuran

  Malam turun cepat di Sanura. Langit seperti ditutup kain gelap yang berat. Hujan yang sedari sore turun kini berubah menjadi gerimis tipis, menetes di ujung dedaunan, memantul di genangan air yang belum surut. Udara lembap dan dingin menempel di kulit. Bau lumpur bercampur darah dan logam menebal di setiap hembusan angin. Aku, Basi , duduk di pinggir rawa, di atas batang kayu besar yang setengah tenggelam. Di sampingku, pedang biru tergeletak, masih ada sisa lumpur menempel di bilahnya. Aku belum membersihkannya. Setiap kali kuusap dengan kain, permukaannya malah memantulkan cahaya samar, seperti menolak jadi bersih. Dari kejauhan, suara katak terdengar. Tapi tidak seperti biasanya. Malam ini, suaranya aneh—pelan, terputus, seolah katak-katak itu sedang berbisik, bukan bersahutan. Joda sudah kembali ke panti bersama para penjaga. Aku bilang ingin tinggal sebentar. Rawa ini seperti belum selesai berbicara, dan entah kenapa, aku ingin mendengarnya. Aku menunduk menatap ...

Pertempuran Rawa Sanura

Pagi itu langit sewarna timah cair. Awan tebal menggantung di atas rawa Sanura, menutup cahaya matahari dan menahan bau belerang serta tanah basah. Burung-burung rawa tak lagi bersuara. Hanya terdengar gemericik air dan bunyi kecil yang datang dari bawah lumpur—suara gerakan yang tidak seharusnya ada di sana. Aku, Basi , berdiri di atas gundukan tanah yang lembek, mengenakan rompi kulit tipis dan ikat kepala basah oleh embun. Di sebelahku, Joda menggenggam kapak bercahaya emasnya. Di belakang kami, berdiri tiga penjaga rawa lainnya dari kelompok Pandita Ruben—semuanya diam, menatap lumpur yang berdenyut pelan seperti napas makhluk tidur. “Di bawah sana,” bisik salah satu penjaga. “Kami melihatnya tadi malam. Mereka muncul, makan akar, lalu menghilang lagi ke tanah.” Aku menunduk. Lumpur di depan kami bergoyang, membentuk gelembung-gelembung kecil. Aroma busuk tercium—bau tanah basi bercampur zat besi dan sesuatu yang lebih tajam, seperti daging busuk yang baru saja disobek. Pama...

Sidang Di Balai Desa

  Hujan baru saja berhenti ketika lonceng Serikat Sihir Desa Jingga dibunyikan tiga kali. Suaranya menggema ke seluruh penjuru desa, memantul di dinding batu dan atap-atap daun kering yang masih meneteskan air. Tanda itu tidak biasa—tiga denting hanya dilakukan bila ada urusan penting yang menyangkut keselamatan desa atau pelanggaran serius dari anggota Serikat. Anak-anak berlarian ke jalan, ibu-ibu memanggil mereka agar kembali ke rumah, dan beberapa petualang menghentikan pekerjaannya. Di tengah balai desa, di bawah tiang kayu yang menjulang tinggi, sudah berdiri Pandita Ruben , mengenakan jubah abu-abu dengan simbol matahari Jingga di dada. Di sisi kanan duduk Kepala Desa Lodra , dengan wajah tua namun tajam, sementara di sisi kiri duduk Ketua Serikat Sihir Desa , perempuan muda bernama Mira Senat yang dikenal tegas. Dua kursi kecil diletakkan di tengah. Di sanalah Basi dan Joda duduk, menunduk. Wajah mereka pucat. Luka-luka di tubuh Basi masih belum kering sepenuhnya; se...

Dendam Rawa Sanura

 Aku dilanda kemarahan yang membara hingga ke ubun-ubun. Ini bukan amarah dingin yang terencana, melainkan amarah yang panas, yang membuat kepalaku berdenyut dan tangan gemetar. Ketika Joda demam tadi malam, saat Pandita Ruben sibuk merapal mantra dan menekan telapak tangannya ke bibir sahabatku, ada bagian dari diriku yang seolah retak. Aku merasa gagal. Kami selalu bersama, dan kini dia menderita karena kebodohanku membawa kami ke rawa itu—karena keberanian konyolku, karena rasa ingin menang yang tak terkendali. Di sela doa yang dibacakan Pandita Ruben, aku duduk di kursi, memegang gelang hijau di pergelangan tangan. Gelang itu terasa hangat, seperti detak jantung kecil. Aku menatapnya, lalu menatap Joda yang tidur dengan wajah pucat di ranjang. Napasnya berat tapi teratur; pipinya masih kemerahan. Aku seharusnya lega, tetapi yang kurasakan justru bara amarah. “Aku akan memburu semua kodok ungu itu,” pikirku lantang. “Jika itu yang membuat Joda sakit, aku akan membersihkan rawa i...