Tapak Naga Emas
Kabut menggantung berat di lembah timur. Pohon-pohon di sana berdiri rapat, batangnya hitam basah oleh lumut, dan udara seolah membeku oleh sesuatu yang tak wajar. Di tempat inilah Lodra, Basi, dan Joda berhenti—tepat di depan dataran batu luas dengan lingkar sihir terukir kasar di tanah. “Aku bisa merasakannya,” kata Lodra pelan. “Mereka di sini.” Cahaya biru dari tongkatnya bergetar. Lingkar sihir itu masih hangat, artinya baru saja digunakan. Di tengahnya, simbol spiral bercampur darah hewan dan abu kayu hitam. Dari celah tanah, asap hitam keluar perlahan, berputar seperti nafas dari dunia bawah. Joda menelan ludah. “Kau yakin kita cuma bertiga?” “Kalau menunggu bala bantuan, desa sudah jadi debu,” jawab Lodra. “Kita tahan dulu.” Angin bertiup kencang, membawa bau busuk seperti daging terbakar. Dari balik kabut, muncul bayangan manusia—bukan satu, tapi banyak. Mereka memakai jubah hitam dengan tali merah di pinggang, wajahnya tertutup topeng kayu berukir wajah tangisan. S...